Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Obama dan Gorbachev

Oleh Drs Usman Yatim MPd
ImageDunia menyambut hangat terpilihnya Obama sebagai Presiden Amerika Serikat. Masyarakat dunia berharap banyak akan benar-benar adanya perubahan yang terjadi setelah Obama memimpin negara Paman Sam ini. Tampilnya Obama sebagai Presiden AS sudah dianggap sebagai suatu perubahan karena untuk pertama kali dalam sejarah negara tersebut seorang dari kulit hitam dapat memenangkan Pemilu Presiden dan bahkan dengan angka suara yang cukup telak. Lantas perubahan apakah yang dapat dilakukan Obama baik dalam konteks dalam negeri AS maupun skala dunia?
Pertanyaan tersebut patut diajukan untuk melihat seberapa jauh keberhasilan Obama dalam kepemimpinannya, termasuk masalah perubahan yang akan dijanjikannya. Apakah perubahan itu hanya dalam bentuk jargon atau sekadar kemampuannya dalam mengatasi krisis keuangan yang kini sedang terjadi dan mempengaruhi banyak negara di dunia? Selain itu apakah perubahan itu tidak lebih dalam konteks menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang ditinggalkan oleh pendahulunya, George W Bush, seperti masalah krisis keuangan, masalah Irak dan hubungan Israel-Palestina?

Atau, apakah Obama akan melakukan banyak perubahan mendasar, seperti membangun tatanan dunia baru yang benar-benar dapat menampilkan suatu paradigma baru, terutama terkait dengan perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini? Pertanyaan ini memang bernada terlalu banyak berharap dan memposisikan Obama sebagai seseorang yang benar-benar luar biasa dalam segala hal. Namun, meminjam ikon kampanye yang selalu dikedepankannya selama kampanye, yaitu ”Kita bisa, semua mungkin, tidak ada yang tidak mungkin”, apa yang kita harapkan itu rasanya tidaklah berlebihan.

Sungguh menarik, Gorbachev, mantan pemimpin terakhir Uni Soviet, sempat mengeluarkan pernyataan atas terpilihnya Obama sebagai Presiden AS. Gorbachev menilai dan juga berharap, Obama dapat benar-benar tampil untuk membawa perubahan bagi dunia. Harapan Gorbachev ini, tentu saja patut disikapi karena mengingatkan kita tentang apa yang telah dilakukannya ketika memimpin Uni Soviet. Gorbachev saat menjadi pemimpin Uni Soviet juga memiliki ikon bernuansa perubahan, yaitu apa yang dikenal dengan Glassnot dan Presteroika (pembaruan dan restrukturisasi).

Gorbachev tampil memimpin ”negara adikuasa” Uni Soviet mirip dengan Obama saat ini. Dia juga mengkampanyekan perubahan dalam upaya membenahi negaranya yang kala itu juga sedang dililit masalah ekonomi. Perubahan yang dilakukan Gorbachev memang sangat luar biasa dan sangat radikal. Dia berani melakukan kritik terhadap paradigma ideologi komunis yang memiliki pengikut negara cukup banyak, apakah itu di Asia ataupun Eropa. Gorbachev, seorang pemimpin negara komunis melakukan otokritik terhadap komunis.

Perubahan yang dilakukan Gorbachev membawa hasil. Komunisme sebagai ideologi ditinggalkan banyak negara, termasuk Uni Soviet dan sejumlah negara di Eropa Timur. Dampaknya luar biasa, perang dingin dapat berakhir tanpa melalui pertempuran. Blok Barat dan Blok Timur menjadi hilang dalam perbendaharaan kosa kata politik  dunia. Istilah perang dingin kini tinggal hanya sebagai kajian sejarah. Dampak lainnya, Uni Soviet sebagai sebuah negara menjadi bubar dengan sendirinya, berganti dengan munculnya sejumlah negara baru. Begitu pula di negara-negara Balkan, muncul negara-negara baru yang meninggalkan komunisme. Sementara sejumlah negara lain, seperti China dan Vietnam, memang secara politik masih disebut negara komunis tetapi dalam kehidupan ekonomi terlihat berkompromi dengan liberalisme atau kapitalis. Inilah perubahan dalam arti sesungguhnya yang telah dilakukan oleh Gorbachev.

Dunia kini memang menantikan suatu perubahan mendasar, perubahan yang memunculkan suatu paradigma baru terhadap wajah dunia dalam segala hal, terutama terkait masalah ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan. Kalau kita melihat dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, harus kita akui Gorbachev dari Rusia sudah merintis suatu paradigma baru yang cukup mampu mengubah wajah dunia. Setidaknya, kita harus mengakui Gorbachev telah mampu mengakhiri era perang dingin yang mengurangi atau mungkin bahkan menghapus potensi perang dunia, sebagaimana Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang menelan korban jiwa demikian besar.

Hanya tentu saja, tidak banyak atau tidak ada pemimpin di dunia ini ingin mengikuti jejak Gorbachev karena gerakan perubahan dan pembaruan yang dikedepankannya telah membuat hilang atau bubarnya Uni Soviet yang dia pimpin sebagai sebuah negara. Gorbachev boleh disebut sebagai sebuah lilin yang telah mampu memberi penerangan tetapi dirinya sendiri harus rela habis terbakar. Namun, bagaimanapun Gorbachev telah mampu berbuat bagi kemaslahatan umat di dunia yang semula terus dilanda ketegangan, kecemasan dari ancaman peran dunia.

Apakah Obama mampu melakukan perubahan luar biasa yang radikal sebagaimana Gorbachev? Tentu perubahan yang kita maksud bukan dalam arti Obama harus pula melakukan otokritik terhadap liberalisme yang berdampak harus bubarnya Amerika Serikat. Kita juga tidak berharap, perubahan dari Obama malah harus menghidupkan kembali komunisme dalam bentuk baru. Perubahan tersebut dalam konteks melanjutkan atau melengkapi perubahan yang telah dilakukan oleh Gorbachev. Perubahan dapat pula dalam bentuk upaya membangun tatanan dunia baru yang mampu menghapuskan ketegangan dunia dari isu-isu negatif dari dampak globalisasi, seperti menyangkut masalah terorism dan sentimen ancaman baru terhadap dunia Islam.

Kini, setelah dipastikan akan berdiam di Gedung Putih, sejumlah negara telah terinspirasi oleh Barack Obama. Setidaknya di Prancis, ibu negara  Carla Bruni-Sarkozy dan sejumlah tokoh terkemuka lainnya mengajak warga Perancis agar menyingkirkan rasisme. Manifesto tersebut tertuang dalam bahasa Perancis  “Oui, nous pouvons!” yang memiliki arti sama dengan slogan kampanye Obama “Ya, kita bisa!” Deklarasi itu mendesak agar idealisme kesetaraan di Perancis diwujudkan bagi jutaan warga kulit hitam, Arab serta kelompok minoritas lainnya di negara tersebut.

Apakah Obama hanya cukup membuat banyak negara terinspirasi dalam konteks kesetaraan etnis atau Obama mampu mengubah dunia dengan berbagai kebijakannya? Pertanyaan ini yang patut diajukan mengingat posisi AS sebagai negara adikuasa saat ini. Harusnya peran ini yang ditampilkan Obama sebagaimana Gorbachev. Presiden baru AS ini harus dapat menampilkan wajah dunia yang baru, seperti mampu meredakan ketegangan di Timur Tengah dengan penyelesaian yang dapat diterima semua pihak secara adil.

Tampaknya, hal itu agak sulit dapat dilakukan Obama, jika melihat tradisi politik yang ada di AS, seperti tidak dapat melepaskan diri dari kepentingan lobi Yahudi. Bila kita melihat pernyataannya tentang masalah Iran, misalnya, Obama terlihat dinilai sama dengan Bush. Pernyataannya; “Saya yakin pengembangan senjata nuklir Iran tidak bisa diterima. Kami harus mengupayakan usaha internasional untuk mencegah itu terjadi. Dukungan Iran terhadap kelompok teroris, saya kira sesuatu yang harus dihentikan,” membuat penguasa Iran geram dan mencibir.

Semangat perubahan yang digembar-gemborkan Obama selama kampanye dinilai Iran hanya isapan jempol. Komentar Obama itu dinilai sebagai langkah salah arah. “Itu pertanda kelanjutan kebijakan salah di masa sebelumnya. Perubahan harusnya menjadi strategi bukan hanya kosmetik,” kata Ketua Parlemen Iran Ali Larijani, Sabtu (8/11). Apakah Obama akan ”layu sebelum berkembang” dalam pandangan negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia?

Apakah justru Obama menjadi sasaran kekecewaan  masyarakat dunia karena ternyata tak mampu melakukan perubahan mendasar di tengah dunia sedang dilanda krisis keuangan dan ekonomi saat ini? Mari kita nantikan pula komentarnya terhadap Indonesia ketika Obama berkomunikasi langsung dengan Presiden SBY yang kini melakukan kunjungan ke Amerika Serikat. Bagaimana pun, kita tetap berharap Obama yang di masa kecil pernah hidup di Menteng Jakarta ini, dapat berbuat banyak meski perubahan yang dia lakukan boleh jadi tidak bakal setara yang dilakukan Gorbachev. Namun sekali lagi, cukup banyak waktu (4 tahun) bagi Obama untuk melakukan perubahan, membuat catatan sejarah, bukan hanya buat AS tetapi juga dunia. Semoga!

(Penulis adalah dosen Fikom UPDM(B) Jakarta)

About these ads

Januari 10, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: