Infotainment Politik Yang Mendebarkan
Seperti layaknya seorang anak yang patuh pada petunjuk orang tuanya, “Hai anakku kamu sekolah dulu ya jangan buru-buru kawin, masa depan bagi orang bodoh itu sulit, bahkan dengan ijazah sarjana saja masih susah cari pekerjaan yang sesuai”. Maka ketika para caleg sedang marak berkampanye untuk merayu pemilih menjelang Pilcaleg tanggal 9 April yang lalu, orang tua mreka, para pemimpin partai, tidak satupun secara aktif bersedia melakukan pendekatan terhadap pemimpin partai lainnya. Baik mereka yang ingin dikawinkan, calon Presiden maupun calon Wakil Presiden, serta para orang tuanya, Pemimpin Partai, semua selalu bersikap dan berkomentar, biarpun hati kecilnya pengin, untuk sabar menunggu hasil Pilcaleg usai.
Seperti halnya tontonan televisi, rakyat banyak memperoleh “pendidikan politik” melalui tontonan yang menarik. Kita berharap bahwa rakyat banyak, seperti ketika menonton televisi, akan menanggapi kiprah bintangnya dengan santai, ketawa atau senyum sesuai akting yang sudah diperintahkan oleh skenario lakon yang sedang ditayangkan. Bukan dengan emosi atau memecah layar tv-nya, karena kerugian tidak ditanggung oleh negara atau perusahaan asuransi. Tontonan yang mirip lakon atau pengalaman bintang film atau bintang sinetron belum tentu lakon kehidupan sesungguhnya. Kadang merupakan akal-akalan pemilik bintang, atau film yang akan atau sedang diputar, agar bintang itu masuk di media massa dan menjadi perhatian publik. Dengan adanya perhatian publik diharapkan film yang sedang diputar atau akan diputar banyak ditonton dan mendatangkan untung yang besar.
Bintang tenar yang sarat pengalaman atau digemblengan sutradaranya akan menyajikan akting yang luar biasa dalam Infotainment yang menarik. Keberhasilan aktingnya menempatkan penonton berjam-jam menyaksikan tontonannya. Mereka akan saling mencium pipi, tersenyum manis, atau bahkan terisak menangis sesuai pancingan pembawa acara, yang serba tahu, seakan secara spontan. Makin pinter bintang itu berperan di layar kaca, makin banyak stasiun tv yang jumlahnya banyak mengundangnya dalam acara yang hampir mirip.
Tontonan “pendidikan pembangunan”, atau “pendidikan politik” yang lebih serius belum menjadi bagian dari budaya bangsa. Diskusi mendalam yang dilakukan Sugeng Saryadi Sc masih terpaksa ditayangkan dalam acara khusus melalui media yang hanya dipesan oleh pemirsa terbatas, itupun pada jam-jam yang sebagian besar penonton sudah tidur lelap.
Infotainment Politik hari ini mempertontonkan kawin cerai yang menarik. Rombongan calon besan partai politik saling sepakat menjalin kesepakatan mengawinkan anak-anak mereka. Di lain kesempatan calon besan lain sama-sama mengadakan kesepakatan sehingga rencana berbesan yang pertama buyar karena prospek masa depan calon pengantin anak mereka kurang cerah, atau karena tawaran mahar (?) untuk mengundang tamu dan menambah biaya pesta tidak memadai. Lakon lain berputar dengan cepat. Melihat tetangganya menggelar pertemuan yang merugikan masa depan atau nama baiknya, orang tua yang menganggap dirinya superior karena telah menjadi “juara” dalam berbagai laga, segera menentukan syarat-syarat calon mantu yang dikehendakinya. Orang tua yang merasa mempunyai anak yang tidak terlalu pas syarat yang diajukan merasa terhina. Biarpun anaknya masih kepingin diperhitungkan, orang tua tidak mau tahu. Segera digelar undangan untuk menggalang calon pengantin yang bisa menyaingi tetangga yang mencari calon dengan syarat-syarat yang digelar kepada publik tersebut.
Tontonan itu sungguh mirip lakon bintang sinetron yang sehari atau sebulan saling mendekat, bahkan ada yang “pura-pura” menikah. Dalam lakon sinetron setiap bintang boleh saja berubah dan tidak satupun perlu merasa malu atau menyesal melakonkan kejadian itu. Semua kejadian itu adalah lakon sandiwara, makin menarik makin banyak ditonton. Bagi orang awam banyak yang ikut prihatin, tetapi ketika beberapa bulan kemudian pelaku yang sama sudah menjalin hubungan intim dengan pelaku lainnya, rasa iba dan prihatin itu lenyap, bahkan setelah mengetahui kejadian sebenarnya, jadi ketawa karena ketipu lakon sinetron. Tetapi, marilah kita renungkan, apakah pendidikan politik untuk masa depan bangsa harus kita sajikan dengan kepura-puraan seperti lakon sinetron ? (Prof. Dr. Haryono Suyono, pengamat sosial, www.haryono.com).
Politik penuh dengan ketidakpastian