SBY, Pak Harto dan Bung Karno
Oleh Dr Usman Yatim, M.Pd, M.Sc.
Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) kini kembali lagi diramaikan banyak orang. Publik menyebut SBY emosional dalam menanggapi SMS yang mendeskreditkan diri dan Partai Demokrat. Presiden SBY menggelar jumpa pers mengenai SMS fitnah yang beredar di BBM dan sosial media. SMS mengatasnamakan kader Demokrat yang tengah bermasalah, M Nazaruddin, berisi ancaman akan dibukanya ‘borok’ petinggi Partai Demokrat. Nazaruddin sendiri telah membantah mengirim SMS tersebut. SBY menantang pengirim SMS tersebut untuk menampakkan diri.
“Muncullah secara ksatria! Mari kita berhadapan!” kata SBY dalam keterangan pers di Base Ops Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (30/5/2011). “Fitnah yang dilemparkan seseorang dari hati yang gelap, itu sungguh keterlaluan. Teknologi informasi, media online dipakai untuk menyebarkan fitnah, pembunuhan karakter, caci maki, bukan cuma saya tapi siapa pun yang menjadi korban teknologi informasi dewasa ini,” ujar SBY.
Banyak pihak menyayangkan, sms yang disebut tidak lebih seperti surat kaleng, koq dilayani Presiden SBY. Gara-gara menanggapi SMS itu, mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, meminta SBY belajar dari mantan Presiden Soeharto dalam hal mengurus partai politik. “Saya kira begini, khusus mengenai hubungan presiden dengan negara dan presiden dengan partai pendukungnya, ada baiknya Pak SBY meniru Pak Harto,” ujar Hasyim usai mengikuti Expert Group Meeting di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Senin (30/5/2011).
Mengaitkan SBY dan Pak Harto tentu menarik, mengingat nama Pak Harto belakangan banyak disebut-sebut gara-gara hasil survey Indo Barometer menyatakan, Pak Harto memang lebih hebat ketimbang presiden lain, termasuk SBY sendiri. Membincangkan Pak Harto saat ini kembali terasa relevan, mengingat mantan orang nomor satu masa Orde Baru itu, pada 8 Juni nanti, merupakan hari kelahirannya. Pak Harto lahir 8 Juni 1921, dan wafat 27 Januari 2008.
Menurut Hasyim Muzadi, pak Harto sebagai pemimpin nasional tahu menempatkan diri dan posisinya, baik sebagai Presiden, Kepala Negara dan kepala Pemerintahan, maupun sebagai Ketua Dewan Pembina Golongan Karya (Golkar), organisasi sosial politik terbesar saat itu. Biarpun pak Harto duduk sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar saat menjabat sebagai presiden, dia tidak pernah menampakkannya kepada publik dan lebih menampilkan diri sebagai seorang presiden.
Hasyim Muzadi menambahkan, SBY seharusnya dapat melakukan hal sama seperti Pak Harto, yaitu tidak perlu mengumbar pernyataan mengenai masalah yang mendera Partai Demokrat. “Masalah partai itu terlalu kecil untuk SBY. Kasihkan saja ke pengurus Demokrat. “Pak Harto itu dulu juga ketua Dewan Pembina Golkar, tapi ke mana-mana tak pernah pakai ‘baju kuning’. Khusus masalah Golkar, ia cukup menyuruh Harmoko atau yang lainnya bicara,” kata Hasyim.
Sikap menyayangkan juga dikemukakan dosen komunikasi politik Universitas Gajah Mada (UGM), Wisnu Martha Adiputra. “Apa yang ditanggapi SBY itu masih rumor. Seharusnya, pemerintah menanggapi hal yang nyata-nyata saja, bukan sesuatu yang masih rumor. Kalau ditanggapi berlebihan malah nggak proporsional. Rumor itu ditanggapi biasa saja, jangan berlebihan,” ujar Wisnu ketika dihubungi detikcom, Senin (30/5/2011).
Senada dengan Hasyim Muzadi, menurut Wisnu, kalau pun pihak Istana atau pemerintah ingin menanggapi, Presiden SBY bisa mendelegasikan tugas tersebut kepada stafnya, Menkominfo atau petinggi Partai Demokrat (PD). Wisnu menilai reaksi SBY kali ini sama reaktifnya saat menanggapi bocoran kawat diplomatik yang dirilis WikiLeaks dan ditulis koran The Age dan Sydney Morning Herald. Cuma, saat kasus WikiLeaks sumbernya adalah media global yang cukup punya nama, namun kali ini adalah nomor yang belum diketahui. Tanggapan SBY kali ini, membuat kasus utama kader PD Nazaruddin menjadi melebar.
Pengamat Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Ade Armando saat dihubungi detikcom, Senin (30/5/2011) menyatakan pula, reaksi Presiden SBY itu dapat mengurangi kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin. “SBY harus segera berhenti bersikap reaktif seperti ini. Kalau ditanggapi dengan gusar seperti itu, kredibilitas dia akan semakin lemah. Seharusnya dia memilih apa yang akan dikomentari,” ujar Ade. “Kalau dengan cara semacam ini, dia berusaha menyerang balik mereka yang merusak reputasi dengan reaktif, emosional, dan egosentris, justru pencitraan malah akan hancur dengan sendirinya,” tutur Ade lagi.
Apa yang diingatkan Hasyim Muzadi, Wisnu Martha, Ade Armando, dan banyak tokoh dan pengamat lainnya, tidaklah salah. Sejauh dinyatakan oleh para pengamat, termasuk yang disampaikan Eep Syaefullah Fattah di televisi, semua bernada memberi saran positif. Eep malah menyebut, dirinya masih menaruh rasa hormat , masih percaya akan kepribadian baik dan kemampuan komunikasi SBY, namun diingatkan tidak semua yang terkait diri pribadi harus langsung ditanggapi.
Perlu diingat, masa Orde Baru, pak Harto dalam pemerintahannya boleh dikata hanya memiliki dua orang juru bicara, yaitu Menteri Penerangan dan Menteri Sekretariat Negara. Sedangkan, untuk urusan Golkar, sepenuhnya diserahkan kepada fungsionaris Golkar. Bahkan, pak Harto dalam tiap kesempatan resmi, selalu membaca teks pidato, dan sangat jarang bicara di luar teks, meski banyak pihak menilainya kurang menarik. Pak Harto hanya bicara tanpa teks ketika bertemu langsung dengan rakyat, seperti melalui kegiatan sarasehan.
Tentu saja, meniru sama persis dengan Pak Harto tentulah tidak demikian, apalagi masa sudah berubah dan begitu pula sistem dan iklim politik jauh berbeda. Namun sepanjang menyangkut membangun kewibawaan, sikap dan kepemimpinan pemerintahan dan negara, belajar dari sosok kepemimpinan pak Harto tidaklah salah. Sebagaimana disebut Eep, pemimpin lebih banyak dilihat dari sikap dan prilakunya, ketimbang ribuan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Orang bijak memang menyebut, perbuatan kita lebih nyaring terdengar dari ucapan kita.
Bila mengingat sosok pak Harto, dalam hal hidup sederhana dan disiplin, misalnya, antara ucapan dan prilakunya cenderung senada meski dituding seperti bertolak belakang dengan kehidupan keluarganya. Bila kita melihat bagaimana kondisi rumah kediaman pribadi pak Harto di Jl Cendana, Jakarta, gaya hidup kesehariannya, bahkan akhir hayatnya yang tetap berobat di rumah sakit dalam negeri, maka orang akan tetap banyak mengagumi pak Harto. Apalagi dalam hal berbicara, pak Harto lebih dikenal sebagai seorang jenderal yang penuh senyum.
Hal itulah mengapa, sosok pemimpin yang ideal, tampaknya adalah gabungan sosok positif dari mantan Presiden Soekarno dan HM Soeharto. Seyogyanya, SBY dapat belajar dari kedua sosok presiden ini. Bung Karno yang hari kelahirannya berdekatan dengan pak Harto, yaitu lahir 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970, dikenal sebagai orator ulung dan sekaligus seorang yang cerdas dalam berpolitik, membangun bangsa dan negara ini pada eranya. Bung Karno dikenang sebagai pemimpin yang sukses meletakkan dasar-dasar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan segala pernak-perniknya.
Sedangkan pak Harto, disebut sukses melanjutkan kepemimpinan pendahulunya yang fokus pada pembangunan serta memperkuat dasar-dasar NKRI, seperti upaya pelestarian dan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. Kedua tokoh ini dalam sejarah juga tercatat, meninggalkan kekuasaannya dengan proses yang tidak lazim, terutama karena masa kepemimpinan yang terlalu lama, lebih dari 20 tahun. Semua itu, kini sudah direvisi, Presiden RI hanya untuk paling lama 2 kali 5 tahun. Namun, kita juga mencatat, KH Abdurrahman Wahid juga berhenti menjadi Presiden RI dengan cara tidak lazim, padahal belum sampai satu periode jabatan.
SBY sesungguhnya kita harapkan dapat menjadi pemimpin bangsa dan negara ini yang menutup berbagai kelemahan para pendahulunya. Dia sudah menunjukkan sosok pembicara yang ulung meski berbeda dengan Bung Karno, dan latar belakangnya sama dengan Pak Harto sebagai perwira TNI. Semangat reformasi sebenarnya, ingin melanjutkan berbagai hal positif dari pendahulu dan membuat berbagai kejutan prestasi dalam upaya mewujudkan cita-cita proklamasi.
Namun, dengan berbagai kritikan, keluhan, tudingan dari lawan-lawan politik, serta berbagai masukan, harapan atau saran yang dilontarkan dari berbagai rekan sejawat, menunjukkan SBY harus mau banyak belajar, bukan saja dari buku-buku karena memang SBY senang membaca tetapi juga dari bapak bangsa, pendahulunya, seperti Bung Karno dan Pak Harto. Banyak orang berharap, SBY perlu punya kepemimpinan yang berkarakter kuat, tegas, berani dan sekaligus tetap penuh kesantunan.
Waktu kepemimpinan SBY, memang tinggal 3-4 tahun lagi, namun bila perubahan drastis dapat dilakukan, citra negatif yang kini banyak menerpa dapat dikurangi atau dihilangkan, tentulah suatu kebanggaan bagi bangsa dan negara ini memiliki sosok seorang SBY. Namun, bila sebaliknya, citra yang muncul seperti emosional, peragu, dan apalagi pembohong sebagaimana disebut tokoh lintas agama, sungguh menjadi ironi. Sekali lagi kuncinya, harus banyak belajar dari para pendahulu, terutama Bung Karno dan Pak Harto!
sumber :
sumber foto : detik.com
Belum ada komentar.