Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

“Kesehatan” Berdemokrasi

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageSIAPA bilang menuju tahun 2009 itu masih lama? Terlebih tak lama lagi kita masuk tahun 2008 yang mana ini bagi para pemain politik, teramat tidak lama.   Berurusan dengan Pemilu 2009 itulah, sejumlah pihak sudah teramat jelas mengarahnya. Komisi Pemilihan Umum sudah mengajukan anggaran, meski masih mengundang pro-kontra terhadap besaran jumlahnya.

Sejumlah tokoh baik sudah, akan, maupun malu-malu kucing mendeklarasikan dirinya sebagai calon peserta Pilpers 2009, tak terlepas dari kesemarakan dinamika konstelasi politik menuju Pemilu 2009. Belum lagi jumlah partai politik (Parpol) yang telah mendaftarkan diri.

Memang, Papol-parpol tersebut belum dapat kita simpulkan sebagai para kontestan peserta Pemilu 2009; namun satu hal yang pasti menjelang Pemilu 2009,  sebanyak 79 Parpol telah mendaftarkan diri ke Depkumham, dan ini kita nilai mereka sudah bersiap untuk hajatan itu.

Pertanyaannya kemudian apakah itu barometer “kesehatan” berdemokrasi, atau “kesetanan” berdemokrasi?

Barangkali kita punya pegangan kuat, sebagaimana diberitakan pers, Ketua Komisi Pemilihan Umum Abdul Hafiz Anshary memperkirakan 50 partai akan ikut Pemilu 2009. Bagi kita inilah Indonesia yang sudah demikian bisa “berdemokrasi”. Tapi pada satu sisinya lagi, kita insyaf, berdemokrasi tak semata ditandai banyaknya jumlah Parpol yang ikut Pemilu. Karena sangat boleh jadi, banyak peserta itu, bikin gaduh, dan tak menutup kemungkinan bisa anarkis; jelas ini tak masuk system berdemokrasi.

Sekurangnya-kurangnya,  kalau apa yang dipekirakan jumlah Parpol yang akan ikut dalam Pelimu 2009 itu 50 Parpol, maka ini lebih banyak dari tahun 1999, yakni 48 parpol dan Pemilu 2004 sebanyak 24 parpol. Pertanyaan kritis kita: apakah itu tidak membuat gaduh perpolitikan?

Masih kita ingat ketika Survei Lembaga Survei Indonesia yang dirilis Maret 2007 paling tidak menyimpulkan “terasingnya” parpol di mata pemilihnya. Sebanyak 65 persen pemilih merasa kepentingan, aspirasi, dan keinginan  mereka tidak terwakili oleh sikap dan kinerja parpol.  Keterasingan Parpol dari konstituennya merupakan anomali dari demokrasi.

Kendati demikian tetaplah kita berpandangan dan berpikir positif, banyak julah Parpol ikut Pemilu bagian dari lahirnya perwujudan hak berserikat. Kemudian pertanyaannya lagi, apakah mereka berkualita dan apakah mereka mengusung aspirasi rakyat? Kita masih ingat, jelang lahir Reformasi lalu,  141 Parpol mendaftar di Departemen Kehakiman, kemudian 106 Parpol terdaftar di KPU, dan 48 Parpol ikut Pemilu 1999. Pada tahun 2004, sebanyak 112 Parpol terdaftar di Departemen Kehakiman, 50 terdaftar di KPU dan 24 Parpol ikut dalam Pemilu 2004. Dari 24 Parpol itu, tujuh Parpol yang bisa meloloskan wakilnya di DPR pusat.

Bolehlah kita nilai itu eforia politik. Tapi ini persoalan melebar, sehingga eforia politik itu sering didorong oleh emosi politik. Sedangkan kita tahu bahwa emosi politik itu tidak baik untuk ”kesehatan” demokrasi. Sepuluh tahun terakhir, kita belajar mengenai kompatibilitas sistem presidensial dengan sistem multi partai –namu, bagaimana efektivitas kerja Presiden yang dipilih langsung berhadapan dengan parlemen? Sistem nilai dari emosi politik masih kentara kita rasa.

Keterwakilan rakyat dalam politik merupakan hal paling mendasar dalam demokrasi. Sistem demokrasi bekerja kuat dan efektif apabila sikap dan tindakan elit politik sejalan dengan aspirasi, kepentingan, dan keinginasn rakyat. Semakin mampu parpol merepresentasikan kepentingan publik, parpol itu akan makin berfungsi dan demokrasi akan bekerja.

Sangat boleh jadi “kesehatan” berdemokrasi terganggu, dan biaya pengobatnnya teramat mahal. Ini pernah kita dapati satu dasawarsa lalu betapa demokrasi menjadi begitu mahal.

Keadaanpun runyam. Lantas, ketika kita mintai pertanggungjawaban terhadap Parol, teramat sulit, karena tradisi berpolitik yang dimilki Parpol tidak siap kalah, maunya memerintah, berkuasa.

Kini, janganlah demokrasi kita terganggu lagi kesehatan. Dengan bahasa verbal: marilah kita rawat kesehatan demokrasi kita. Bermaksud ini pula kita pun leluasa mengingatkan bahwa esensi Parpol tentunya berbeda dengan sebuah firma yang menempatkan perolehan kapital sebagai sesuatu yang utama. Pengurus bukanlah pemilik. Parpol bukanlah hanya “perahu” untuk mengantarkan seseorang menuju kekuasaan melalui Pemilu atau Pilkada.

Kendati demikian kita berharap bahwa mereka berkiprah di Parpol adalah panggilan untuk menjawab keprihatinan bangsa, menjawab kebutuhan masyarakat, dan mencari solusi berbagai problematika. Tapi, bisakah ini berwujud? ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: