Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Anwar Ibrahim dan Reformasi

Oleh Drs Usman Yatim MPd

Image“Saya tak ada masalah pribadi lagi dengan pak Mahathir. Dia memang menzalimi saya, memenjarakan saya tapi itu sudah saya maafkan. Persoalannya, saya memang tidak sepaham dengan dia. Bukan soal pribadi tapi menyangkut system dalam membangun Malaysia.”

Kata-kata di atas diucapkan Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, dalam jumpa pers, setelah dia menjadi pembicara dalam seminar internasional menyambut 100 Tahun Buya Hamka di Jakarta,Selasa lalu. Anwar Ibrahim banyak ditanya wartawan, seputar masa depan Malaysia, setelah dia mulai diperhitungkan dalam pentas politik di Negara jiran tersebut.

Cukup menarik kehadiran Anwar Ibrahim ke Indonesia kali ini. Pasalnya, partai Anwar Ibrahim baru saja membuat kejutan bagi UMNO dan Barisan Nasional, partai yang berkuasa lama di Malaysia. Walaupun masih mengendalikan pemerintahan, partai yang kini di bawah PM Abdullah Badawi, patut juga ketar ketir menghadapi Anwar bersama Barisan Oposisinya. Terlebih lagi, pertengahan April ini Anwar resmi dibebaskan dari kungkungan politik.

Pertanyaan kini yang mengemuka antara lain adalah, apakah Malaysia akan menuju era baru dan Anwar memainkan peran penting dalam memotori gerakan pembaruan atau reformasi di negaranya? Menjawab hal ini, Anwar Ibrahim meyakini bahwa pada akhirnya rakyat Malaysia akan menentukan pilihannya, dalam hal ini berkeinginan kuat untuk menuju perubahan yang signifikan, keluar dari kebuntuan yang banyak dialami saat ini.

Salah satu yang didambakan oleh rakyat Malaysia adalah adanya iklim kebebasan, terbangunnya demokrasi dalam arti sesungguhnya. Paling tidak, Malaysia akan keluar dari keterkungkungan, baik dalam bidang politik, penegakan hukum, maupun ekonomi dan bidang lainnya.

Anwar Ibrahim tampaknya akan tampil sebagai tokoh alternative di Malaysia, manakala rakyat Malaysia serius mendambakan perubahan, terutama dalam hal pola kepemimpinan, pembangunan demokrasi dan ekonomi bergaya madani sebagaimana kini sedang diusung oleh Anwar Ibrahim. Walau terus dihambat, Anwar terlihat yakin bahwa reformasi di negaranya kini tinggal menunggu waktu yang tepat.

Keberhasilannya mengangkat partainya dalam Pemilu yang baru lalu, membuat sosok Anwar Ibrahim kini benar-benar menjadi lawan tangguh bagi UMNO bersama Barisan Nasional yang kini masih tetap mengendalikan kekuasaan di Malaysia. Apakah UMNO dan Barisan Nasional dapat ditumbangkan?

Inilah kata Anwar dalam seminar yang diselenggarakan oleh Uhamka itu: “pemerhati politik melihat Barisan Nasional di Malaysia tidak pernah kalah maka mereka berpendapat mustahil Barisan Nasional bisa kalah. Maka mereka terkejut besar, mata mereka terbeliak bila membaca koran, Barisan Nasional kalah. Maka saya sarankan pemerhati politik membaca novel-novel Hamka agar mereka tahu bahwa Barisan Nasional juga bias tewas.”

Anwar menambahkan: “Tidak ada kemustahilan dalam hidup ini kalau kita memiliki keyakinan. Tidak ada kemustahilan dalam politik kalau kita mendengar suara rakyat. Sebelum pemilu saya beritahu pers di Singapura, kita akan menang 70 kursi di parlemen. Apa meraka kata: mustahil dong. Malam 8 Maret, kita menang 82 kursi.”
“Tidak ada yang mustahil jika kita memiliki keyakinan,” itulah kata Anwar dalam membawa Malaysia menuju perubahan yang signifikan. Anwar melihat UMNO bersama Barisan Nasional bukan untuk selamanya menguasai panggung kekuasaan dan politik di Malaysia. Dia yakin, oposisi juga dapat berjaya di negaranya. Inilah obsesinya, suatu saat nanti, Perdana Menteri Malaysia tidak harus dari orang UMNO atau Barisan Nasional tapi juga dari oposisi.

Apakah Anwar Ibrahim akan jadi Perdana Menteri Malaysia pertama dari partai oposisi? Memakai keyakinan Anwar, hal itu memang bukan hal yang mustahil. Anwar yakin, jika melihat kondisi UMNO dan Barisan Nasional yang dinilainya sudah keropos, pemilu dapat dilakukan secara jujur dana adil maka oposisi akan dapat memenangkan pemilu. “Suara kita dalam pemilu yang baru lalu sudah melonjak, padahal pemilunya banyak kecurangan. Kalau curang saja kita dapat suara besar, maka pemilu yang jujur kita akan menang. Suara rakyat menghendaki demikian,” ucap Anwar.

Anwar mengatakan pula, “rekan-rekan intelektual juga tidak mempercayai bisa berlaku tsunami politik di Malaysia. Kenapa mereka tidak mempercayainya? Karena mereka lebih banyak membaca Michel Faucault, Jacques Derrida, jurgen Hebermas dan Mohammad Arkoun, daripada membaca hati nurani rakyat. Tidak salah membaca teori dan pendekatan tentang post modernisn, deconstruction, bahkan saya anjurkan ulama dan intelektual  kita membacanya agar tidak ketinggalan. Tetapi jangan lupa apa yang bergelut dan bergolak dalam hati dan nurani rakyat. Kita jangan membaca rumus-rumus umum, generalization sahaja. Kita perlu mengetahui life specifies.”

Tampaknya Anwar Ibrahim banyak termotivasi dari gerakan reformasi di Indonesia. Dia melihat Indonesia telah mengambil langkah yang begitu drastis, yaitu menuju ke demokrasi yang tulen, bukan demokrasi  olok-olok sebagaimana dinilainya kini berlangsung di Malaysia.

Anwar menyatakan, “di Malaysia  fajar baru menyingsing. Di sini, gelombang kebangkitan rakyat Indonesia sudah menonjolkan semangat berjuang yang tidak mudah luntur walaupun cabarannya masih tidak mereda.”  Anwar dalam hal ini terlihat, tidak ingin model demokrasi di Indonesia dicontoh mentah-mentah. Dia mengedepankan masyarakat madani yang di dalamnya peran ulama tetap bermakna.

Ulama sebagai symbol agama, bagi Anwar Ibrahim, dapat menyemaikan hati sanubari  atau habits of the heart dari rakyat. Ulama dinilainya dapat memupuk dan mengarahkan “terpeliharanya kebebasan berfikir, kebebasan menentang kezaliman, dan menyuruh kepada islah.”

Reformasi yang digerakkan oleh Anwar Ibrahim adalah untuk menuju masyarakat dan Negara madani. Diingatkannya, kita berada di Asia Tenggara maka persoalan kita seharusnya berakar kepada masyarakat, kebudayaan dan keperluan Asia Tenggara. Anwar tidak mau kita terlalu didominasi oleh wacana barat, baik di bidang ekonomi, politik dan intelektual. “Umat Islam Asia Tenggara perlu memulakan dialog ketamadunan berdasarkan keduduakan geografi kita, yaitu dengan Cina dan India, dua Negara yang sedang muncul sebagai gergasi ekonomi dunia.”

Melihat gerakan reformasi Anwar Ibrahim, tampaknya akan banyak pula mendapat dukungan dari masyarakat di Indonesia. Apalagi Anwar selalu mencoba melakukan berbagai hal yang cukup disambut hangat masyarakat Indonesia. Kedatangannya ke Indonesia menghadiri seminar tentang Buya Hamka, misalnya, makin mengukuhkan dirinya sebagai tokoh dari Malaysia yang paham dan bahkan merasa dekat dengan Indonesia.

Anwar ke Indonesia tidak untuk berbasa-basi. Tutur katanya yang mudah dimengerti karena dia cukup menguasai bahasa Indonesia, membuat orang Indonesia dapat menerimanya. Apalagi ketika dia bicara soal Buya Hamka yang dikenalnya dekat, bukan saja secara fisik tapi juga dalam sanubari. Betapa tidak, ketika bertahun-tahun di penjara, Anwar ditemani oleh buku-buku Buya Hamka, terutama Tafsir Al Azhar. Anwar menyatakan, hubungan Malaysia – Indonesia harus menjadi perioritas utama dalam kerangka membangun hubungan antar Negara, terlebih Negara tetangga yang serumpun.

Menunjukkan bagaimana masa depan dirinya dan Malaysia, Anwar mengutip kata-kata Buya Hamka: “Zaman bergilir, ada yang naik dan ada yang jatuh, dunia tiada kekal. Bagi diriku sendiri, di dalam hidup ini akupun datang dan akupun akan pergi. Kehidupan adalah pergiliran di antara senyum dan ratap…. Aku mengharap jika aku mendapat aniaya oleh suatu kekuasaan orang zalim, hanya semata-mata karena mereka suatu waktu berkuasa, Pasti datang zamannya aku dan mereka sama-sama tidak ada lagi di dunia ini…. Adapun kepada mereka itu yang telah menyusun fitnah itu, atau yang telah menumpangkan hasadnya dalam fitnah orang lain, setinggi-tinggi yang dapat aku berikan hanya maaf saja.”

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: