Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Apa Masyarakat Butuhkah Partai GAM?

Oleh Drs. Usman Yatim MPd

ImagePARTAI politik lokal itu, yang pekan lalu terang-terangan muncul, bernama Partai GAM. Partai ini, memang, kental nuansa GAM-nya, selain logo partai itu, juga didirikan oleh (mantan) pentolan-pentolan Gerakan Aceh Merdekan (GAM). Pertanyaan sederhana muncul: apakah partai itu sayap politik GAM?

Lantas pertanyaan yang tidak sederhana justru muncuat juga: memangnya masyarakat (Aceh) butuh partai politik lokal itu? Pertanyaan itu sama saja mau mengatakan bahwa gagasan yang tepat untuk mencari tahu aspirasi masyarakat (Aceh) di tataran politik, tidaklah semata harus di partai politik lokal yang justru menghidup-hidupkan “aroma” kisah keras separatis.

Selanjutnya bagaimanakah menemukan wewenang politik ketka RMS maupun OPM secara “resmi” mendirikan partai politik lokal pula?

Baimanapun partai politik, sekalipun ia baru berdenyut di tataran politik lokal, tetap saja cirinya terletak pada praktek visi-misi politiknya. Berkaitan dengan hal ini, maka ada kekhususan tersendiri untuk dicermai dan dikritisi, terlebih ketika ia lahir dari sebuah historis separatis. Pertanyaannya lagi: untuk apa mereka mendirikan Parpol jika dulu sudah punya identitas separatis?

Sementara itu pada tataran realitas konstelasi perpolitikan secara nasional, banyak akademikisi maupun praktisi, kerap setuju dengan rasionalisasi Parpol di Indonesia, sekalipun hal itu mesti dikaitkan dengan hakikat Parpol yang sesungguhnya. Di Indonesia, memang, kita akui tidaklah mungkin hanya ada “dua” Parpol. Akan tetapi pengendalian jumlah Parpol di Indonesia bukanlah hal mengada-ada untuk diimplementasikan.

Merujuk kemunculan Partai GAM, secara arif, sebenarnya keberadaan parpol di Indonesia tidak perlu terlalu dipersoalkan asalkan mereka tidak mengakomodasikan aspirasi gerakan separatis. Pada tataran ini, kita setuju.

Tetapi tentu secara holistik akan ada perbaikan sistem di dalam RUU Partai Politik itu, meski harus dilalui dengan langkah panjang untuk menyadarkan para pemain politik agar belajar mengungkapkan dugaan-dugaannya sebagaimana yang dikehendaki atau dimungkinkan dalam kebebasan intelektual, yang tidak menghendaki adanya sikap berlebihan berpolitik.

Paling tidak dalam kehadirannya, Partai GAM harus memperlihatkan penarikan garis yang tegas terhadap keinginan merengkuh histories gerakan separatis, dan sama-sama menjaga perdamaian, yang sedikitnya mewujudkan perjanjian Helsinki.

Dalam pandangan kita, aspirasi masyarakat yang harus diakomodasikan partai politik merupakan kondisi yang bersifat mutlak. Tetapi kita juga tidak bisa melihat partai politik yang punya “pertalian darah” dengan gerakan separatis dapat diandalkan sepenuhnya untuk itu. Pertimbangan prgamatis dalam pandangan politik, selalu mempunyai lingkup kekuasaan secara keseluruhannnya, mungkin, bisa diletakkan melulu sebagi faktor penyebab, yang bersifat politis pula dan tidak akan bisa memisahkan secara antropologis: satuan-satuan politik yang berbeda yang ada pada individu atau masyarakat.

Tetapi sebagai warga negara yang baik, kita tidak mepunyai cukup alasan untuk percaya bahwa kita bisa memahami hal itu secara tepat. Bagaimanapun, kita sadar bahwa kodratik Parpol memberi celah-celah yang ada dalam lingkungan segala daya kesadaran manusia dalam berpolitik. Namun untuk merancang kebutuhan itu, partai politik tidak cuma macam sayap politik sebuah gerakan. Parpol mesti sesuai dengan standar epistemologis aspirasi masyarakat, dengan cara membayangkan potensi kesadaran diri: apa punya dukungan atau tidak?

Banyak partai politik didirikan tanpa kejelasan visi-misinya. Maka jelaslah dalam sistem perpolitikan kita bahwa perbuatan politik itu mempunyai risiko yang buruk, dibandingkan dengan melakukan kebodohan pada diri individual berpolitik. Risiko itu terutama lahir dari keyakinan terhadap daya yang dimiliki politik berkuasa. Secara khusus kita menanggung risikonya pula untuk melakukan tilikan epistemologis yang diperkirakan ada dalam sistem berpolitik.

Perlu juga kita ingatkan: sudah tentu hal itu tidak bisa memenuhi keinginan masyarkat untuk diorganissair dan diperintah berdasarkan tujuan-tujuan yang tidak mudah dapat dipegang karena kepalsuan politik. Itulah sebabnya Parpol bayak meperlakukan kebenaran berpolitik dengan cara memandang kepercayaan berpolitik pihak lain dari satu sudut pandang yang dianggapnya sebagai masalah. Melulu partai politik mengangap sudut pandang politik pihak lain yang bersifat empoiris, sebagai keyakinan yang salah, di samping semuanya itu juga semata dilihat secara politis. Dan pandangan ini, lazimnya, begitu mengental dari partai politik yang “dulu” lahir dari histories gerakan separatis.

Akhirnya pertanyaan gampang begini: butuhkah masyarakat Aceh terhadap Partai GAM?***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: