Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Arah Perjanjian

Oleh Drs. Usman Yatim MPd

ImagePERJANJIAN ektradisi Singapura dan Indonesia yang diteken beberapa waktu lalu, tampaknya belakangan ini, masih berliku. Perjanjian ekstradisi (Extradition Treaty/ET) terkait dengan Defence Coorperation Agreement atau DCA. ET hanya efektif jika DCA juga disepakati kedua negara.  Tapi perjanjian tersebut masih harus menunggu ratifikasi parlemen dari kedua negara.

Sangat boleh jadi Parlemen Singapura relatif dengan mudah meratifikasi perjanjian ekstradisi, sedangkan DPR RI masih harus menunggu penyerahan naskah DCA perjanjian ekstradisi dari pemerintah untuk dibahas. Dan ini menjadi kerumitan tersendiri.

Banyak kalangan menilai, kita terlalu dikadalin Singapura oleh adanya perjanjian ekstradisi itu. Perjanjian ini juga dinilai mandul karena tak menjanjikan apa-apa soal pemulangan para koruptor WNI, yang berlindung di Singapura. Sebagaimana kerap diberitakan pers kita, Singapura sering begitu tebal muka melindungi para pencoleng RI. Hal yang cukup pedih disampaikan peneliti dari Universitas Indonesia, Andi Widjajanto.

Sebagaimana diberitakan belum lama ini, Andi Widjajanto, mengatakan salah besar jika pemerintah berharap akan ada ekstradisi atas para koruptor atau Singapura mengembalikan aset dan uang “panas” dengan imalan DCA.

Bagaimanapun, kita harus mahfum begitu suatu pemerintah dapat mengadakan “perjanjian” antara politik luar negerinya dengan kekuatan yang tersedia untuk itu, pemerintah tersebut harus mengadakan saling perimbangan antara unsur-unsur kekuatan nasional yang berada. Jadi menyangkut perjanjian dengan negeri-negeri asing, bukan mengada-ada bila “keuntungan” menjadi dasar dari isi perjanjian itu.

Soalnya kemudian, adakah keuntungan yang dapat dipetik dari perjanjian ekstradisi RI-Singapura? Pertanyaan ini bersifat kritis, oleh karenanya ia tidak memintakan jawabannya yang begitu cepat. Dengan mengajukan hal tersebut, maka sesungguhnya kita berkehendak ingin mencapai “keuntungan” maksimum itu. Bersama ini kalau tersedia dan dapat dipakainya dalam kuantitas dan kualitas yang cukup, dalam gabungan yang tepat, sumber-sumber kekuatan yang akan memungkinkan RI menempuh politik luar negeri tertentu dengan kemungkinan sukses yang maksimum pula.

Dengan demikian sejumlah kalangan mempertanyakan sejauh mana keuntungan perjanjian ekstradisi RI-Singapura, harus pula kita nilai positif, sebagaimana pula kita nilai terhadap berkinginan pemerintah mau mengembangkan sampai keunggulan hukum yang tidak dapat dilawan; unsur kekuatan yang satu ini pada waktu bersamaan, menjamin arus bahan ketetapan mengukum para pencoleng negara ke luar negeri yang tidak terganggu dari luar negeri. Pada sisi ini, adalah mutlak untuk kelangsungan hidup supremasi hukum yang sedang berlangsung di Indonesia.

Mengingat politik tersebut, tanpa saling mengakomodasi aspirasi dalam negeri, akan dapat merupakan rintangan bagi keutuhan keuntungan perjanjian. Oleh karena itu ketika tataran realitas politik luar negeri sudah harus mengakomodasikan aspirasi dalam negeri, maka ini lebih banyak merupakan sumber kekuatan.

Perjanjian ekstradisi dapat dan harus memberikan keuntungan kepada rakyat. Dengan kata lain, dalam membangun kekuatan nasionalnya pemerintah tidak boleh melupakan karakter rakyat yang diperintahnya. Pemerintah harus memastikan persetujuan rakyatnya sendiri untuk politik luar negeri. Oleh karena syarat-syarat untuk mendapatkan dukungan rakyat untuk politik luar negeri, tidak harus identik dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk menjalankan politik luar negeri dengan berhasil. ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: