Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Belajar dari Sang Loyalis Sejati

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageSenyum cerah, tawa yang renyah, penuh canda, itulah suasana yang ditemui ketika kita bersua dengan tokoh yang satu ini. Berhadapan dengan beliau kita tidak perlu harus mengatur diri dengan sikap yang harus dibuat-buat. Semuanya mengalir apa adanya, terbuka, lepas tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi. Suasana hati penuh persahabatan, itulah kesan umum yang dapat ditangkap dari Bapak yang tidak asing bagi banyak orang ini.

Hal yang lebih menarik lagi, ketika kita berdialog dengan beliau maka kita banyak mendapat masukan tentang bagaimana melihat Indonesia di masa depan. Berbagai hal yang menyangkut sosok manusia Indonesia masa depan dapat kita ketahui dari dia. Secara lebih khusus, kita juga dapat mengenal sosoknya lewat kepeduliannya dengan masalah kependudukan, kesejahteraan keluarga dan berbagai upaya pengentasan kemiskinan.

Siapakah tokoh kita ini? Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Prof Dr Haryono Suyono MA. Kali ini kembali secara khusus, kita menyorot tokoh yang demikian akrab bagi pembaca suratkabar MADINA ini. Pak Haryono, demikian sapaan akrab beliau, pada Selasa, 6 Mei 2008, genap berusia 70 tahun. Sungguh suatu usia yang penuh rahmat dan kurnia dari Allah swt. Suatu usia yang menurut banyak orang merupakan titik tolak, babakan baru menuju kehidupan yang penuh kearifan.

Saat seseorang  berusia mencapai 70 tahun, saat itulah dia seolah seperti menjadi manusia baru kembali. Jika kita ingin mengenal sosok, karakter hidup seseorang secara utuh dan menyeluruh, maka lihatlah dia ketika berusia 70 tahun. Hal itulah agaknya mengapa banyak orang, ketika genap berusia 70 tahun, mencoba memperingatinya secara khusus dan istimewa. Bahkan tidak sedikit pula, orang menyambut usia 70 tahun meluncurkan buku otobiografinya. Maksudnya tentu saja, mari kita lihat siapa tokoh itu sesungguhnya karena dalam usianya yang 70 tahun, kita sudah patut belajar dari kehidupan yang dia lalui.

Sungguh sangat merasa beruntung setiap orang yang berkenalan dekat dengan pak Haryono. Kita banyak memetik hikmah ketika berada dekat dengan pak Haryono. Hal yang sudah pasti, sikap keceriaan, kebahagiaan dan keramahtamahan yang ada pada beliau juga ikut memantul ke dalam diri kita. Pantulan sikap seseorang yang positif sangatlah penting bagi kita. Jika kita ingin terus merasa happy dan  enjoy, maka selalulah berdekatan dengan orang yang selalu merasa dan terlihat happy dan enjoy. Nah, salah satu contoh orangnya adalah pak Haryono.

Berdekatan dengan pak Haryono membuat seolah dunia ini sebetulnya tidaklah rumit meski kita banyak dihimpit oleh berbagai permasalahan yang ada. Pak Haryono yang kita lihat adalah seorang yang tidak pernah berhenti beraktivitas. Mengikuti gerak beliau, seolah kita merasa selalu bekerja keras. Hebatnya kerja keras itu dijalani dengan santai, tanpa beban, seolah semuanya dilakukan sebagai bagian dari olahraga. Maksudnya, kita berkeringat dan bahkan mungkin capek tapi semua rasanya tetap segar, sehat dan kita menjadi penuh optimistik.

Apa yang dapat kita petik dari kehidupan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan era Orde Baru ini? Jawabnya, sangat banyak. Namun untuk catatan kali ini, satu hal yang sangat patut kita pelajari dari beliau adalah tentang loyalitas. Pak Haryono boleh kita sebut sebagai tokoh yang langka dalam hal soal loyalitas dalam arti sesungguhnya. Kita tidak perlu ragu menyatakan bahwa Haryono Suyono adalah seorang loyalis sejati.

Apa arti loyal tersebut? Secara umum, loyal dipahami sebagai kesetiaan. Orang yang setia sering disebut loyal. Namun, banyak juga orang memahami kata loyal sebagai ketundukan, kepatuhan, dan bahkan sikap mengabdikan diri kepada seseorang. Misalnya, loyal kepada istri, dipahami sebagai tunduk dan patuh, bahkan mau mengikuti apa saja yang dimaui oleh istri. Konotasi loyal diartikan sebagai sikap takut. Tentu saja, banyak suami tidak mau disebut takut istri dan lebih jauh dia tidak mau dibilang sebagai suami yang “loyal”. Apalagi suasana ini makin tercitrakan lewat tayangan sinetron “Suami-suami Takut Istri.”

Loyal yang ditunjukkan oleh pak Haryono tentu saja bukan dalam arti suami takut istri meski harus diakui pak Haryono memang juga dikenal dan dapat dilihat sebagai seorang suami yang sangat menyayangi dan mengasihi sang istri tercinta, Hj Astuty Hasinah Haryono. Loyalitas atau kesetian yang ada pada Pak Haryono menyangkut adanya warna konsistensi, komitmen, tanggungjawab, kejujuran dan juga keberanian. Loyalitas bukan semata menyangkut pada orang tetapi juga dapat pada cita-cita atau visi yang diyakini. Loyalitas adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar karena dia merupakan bagian dari integritas pribadi, sikap dan kepribadian.

Lantas loyalitas seperti apa yang ditunjukkan oleh pak Haryono? Jawabnya, cobalah telusuri riwayat kehidupan beliau. Misalnya, sejak awal pak Haryono banyak kita kenal sebagai seorang yang bergelut dalam masalah kependudukan. Beliau banyak mendalami ilmu statistik dan dari sini kajiannya bersinggungan dengan angka-angka kependudukan. Nah, ibarat ikan ketemu air, pak Haryono seolah menemukan dinamika kehidupannya untuk bangsa dan Negara ini, ketika dia berkiprah sebagai Kepala BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana).

Jika kita sekarang tidak asing dengan istilah KB (Keluarga Berencana), maka itu karena kesuksesan Pak Haryono mengkampanyekan KB. Begitu pula dengan kondom yang kini kembali ramai karena dijadikan hadiah oleh artis Julia Perez melalui album lagunya, juga sudah dipopulerkan jauh hari oleh Pak Haryono. Kesuksesan KB di Indonesia ini mendapat pengakuan dunia. PBB bahkan memberikan tanda penghargaan buat Presiden Soeharto karena Indonesia sukses dalam masalah kependudukan.

Mengapa pak Haryono demikian setia sampai saat ini menggeluti masalah kependudukan? Jawaban beliau: “hal ini menyangkut eksistensi kita sebagai manusia, baik sebagai pribadi, maupun sebagai makhluk social dan makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.” Menurut Haryono, apapun di dunia ini ujung-ujungnya adalah diri kita, yaitu manusia. Oleh karena itu, jika dulu pernah dipopulerkan oleh istilah pembangunan berwawasan lingkungan, maka pak Haryono menyatakan: “pembangunan harus berwawasan kemanusiaan.”

Buat pak Haryono, titik tolak kita haruslah manusia. Manusialah jadi penentu dari apa yang ada di dunia ini. Lingkungan sebagus apapun tidak akan ada artinya kalau manusianya tidak tersentuh. Mengapa kita gagal, banyak kecolongan dengan masalah lingkungan? Hal itu tidak lain karena pendekatannya tidak mengutamakan manusia. Begitu pula mengapa kita sampai saat ini pembangunan seperti jalan di tempat? Lagi=lagi hal ini karena banyak factor, tapi terutama karena tidak tersentuhnya kepentingan manusianya. Jadi, mau seperti apa manusia yang kita bangun? Inilah yang patut kita renungkan, pikirkan dan dijadikan wawasan utama dalam membangun Indonesia masa depan.

Menurut pak Haryono, apa yang dia lakukan sejak dulu pada dasarnya adalah dalam kerangka pembangunan manusia Indonesia. Masa Orde Baru, visi pembangunan manusia Indonesia sudah sangat jelas, yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, yang serasi, selaras dan seimbang lahir-batin, jasmani-rohani, material-spritual. Sayangnya visi ini kini tidak lagi popular. Kita kurang mau dengan istilah ini. Mungkin dianggap peninggalan lama, produk Orde Baru, dan tidak relevan dengan kehidupan masa kini.

Nah, biarpun tidak lagi duduk di pemerintahan, pak Haryono melalui Yayasan Damandiri dan DNIKS (Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial) tetap konsisten mengembangkan pembangunan berwawasan kemanusiaan tersebut. Lewat berbagai program organisasi yang dia pimpin, Haryono terus memasyarakatkan visinya. Salah satu program yang bersentuhan langsung dengan visinya itu adalah Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga).

Sungguh menarik, upaya menyentuh kehidupan manusia itu adalah lewat jalur keluarga. Memang ini tidaklah salah. Jim Dornan, seorang pemimpin lembaga pendidikan bisnis terkemuka di dunia, Network 21, sudah menegaskan lewat jaringan anggotanya bahwa dalam kehidupan ini yang harus dijadikan prioritas, pertama adalah Tuhan, kedua keluarga dan ketiga baru bisnis. Pak Haryono melihat, pembangunan manusia itu harus dimulai dalam keluarga. Jika kita ingin meningkatkan kesejahteraan, mengentaskan kemiskinan, maka sasarannya utamanya adalah keluarga.

Posdaya kini mengemuka di mana-mana. Berbagai daerah kini ramai menggerakkan Posdaya. Pak Haryono dengan gayanya yang penuh keakraban dan persahabatan berhasil menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Selain itu Posdaya juga melibatkan sejumlah organisasi kemasyarakatan, antara lain dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang dipimpin mantan Menteri Agama KH Dr Tarmizi Taher. Posdaya diharapkan dapat pula digerakkan lewat masjid.

Posdaya yang merupakan pengembangan dari Posyandu (Pos Pelayanan  Terpadu) ini, pada dasarnya ingin digerakkan berdasarkan kebutuhan masyarakat sendiri. Posdaya dijadikan model pembangunan manusia Indonesia lewat jalur keluarga yang digerakkan oleh masyarakat secara bersama dengan didukung oleh pemerintah. Bentuk aktivitasnya dapat bermacam-macam, apakah itu kesehatan, pendidikan, social, agama dan juga ekonomi. Semua muara tujuannya adalah peningkatan kesejahteraan keluarga dan pengentasan kemiskinan.

Bagi pak Haryono tampaknya, masalah kependudukan, pembangunan manusia Indonesia lewat peningkatan kesejahteraam keluarga dalam kerangka pengentasan kemiskinan, sudah menjadi jalan pilihan kehidupannya. Sebagai seorang sosiolog dan sekaligus praktisi komunikasi yang handal, Haryono dengan setia terus menekuni dan mengembangkan visinya. Kapan dan di manapun berada dia tidak bosan terus mensosialisasikan Posdaya guna membangun masyarakat yang mandiri.

Pak Haryono menyapa semua orang untuk peduli kepada masyarakat yang masih terpuruk kehidupannya. Kepedulian ditunjukkan lewat dukungan pengembangan kehidupan keluarga. Jika ada keluarga yang mengalami masalah kesehatan, berilah bantuan bidang kesehatan. Jika bermasalah dalam pendidikan, berilah bantuan pendidikan. Jika bermasalah dalam ekonomi, berilah bantuan ekonomi. Bahkan jika ada masalah anak yang cacat, orangtua jompo, jangan disembunyikan tapi mari kita beri bantuan sesuai dengan apa yang dapat kita bantu.

Satu hal yang harus diingat, kepedulian dan bantuan yang diberikan tersebut jangan sampai membuat orang atau keluarga itu memiliki sikap dan mental ketergantungan. Sebaliknya  jadikan mereka memiliki sikap dan mental mandiri, mampu di kemudian hari memberdayakan diri dan keluarganya tanpa uluran tangan terus menerus. Oleh karena itulah Yayasan Damandiri, lembaga yang didirikan mantan Presiden Soeharto dan kini diketuai oleh pak Haryono, dalam aktivitasnya lebih banyak memberikan bantuan yang bersifat stimulant, merangsang semua pihak yang terkait ikut lebih serius memberdayakan masyarakat, antara lain lewat Posdaya.***

(Penulis adalah dosen tetap Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama)

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: