Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Bencana Alam

oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageHujan deras dan angin kencang terus menerpa banyak kawasan di Tanah Air, termasuk DKI Jakarta. Badan Meterologi dan Geofisika meramalkan awal tahun 2008 ini, curah hujan akan tetap tinggi. Artinya, genangan air atau banjir bakal terus menerpa kita. Banjir tak hanya langsung datang dari curah hujan tapi juga air pasang dari laut. Seolah kini banjir sedang mengepung kita.   

Musibah banjir tampaknya kini tak hanya dimonopoli oleh kota Jakarta, bahkan yang lebih parah malahan di banyak daerah, sebagaimana yang dialami di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan lain daerah lainnya. Bahkan, apa yang terjadi di Jateng, hujan deras yang disertai longsor bukan saja menimbulkan kerugian harta tapi juga menelan korban jiwa lebih dari 100 orang.

Hal menarik dari banjir kali ini, khusus untuk di pulau Jawa, banyak dipengaruhi oleh luapan air bengawan Solo. Kita tidak tahu, apakah Gesang, sang pencipta lagu Bengawan Solo yang terkenal itu, ikut memperkirakan bahwa sungai tersebut dapat meluap sedemikian dahsyat seperti sekarang?

Wapres Jusuf Kalla sudah mewanti-wanti akan mentransmigrasikan penduduk yang berada di pinggiran bengawan Solo. Jika penduduk mau mengikuti pemerintah, yaitu pindah dari pinggiran kali, sungguh ini suatu hal yang patut dipuji. Masalahnya, apa mungkin pinggiran kali dapat bebas dari penduduk?

Melihat pengalaman Jakarta, tampaknya pernyataan mau memindahkan penduduk pinggiran Bengawan Solo hanyalah sekadar pernyataan untuk memberi kejutan solusi dalam mengatasi banjir saat ini. Nanti, begitu banjir mereda,  upaya memindahkan tersebut tak kunjung dilakukan.

Lihatlah bagaimana penanganan terhadap warga di pinggiran kali Ciliwung. Ketika banjir dahsyat menimpa Jakarta, Februari tahun lalu, upaya memindahkan warga di bantaran kali Ciliwung juga sempat dicuatkan. Namun nyatanya, kebijakan untuk memindahkan tersebut tidak jelas sampai sekarang. Jika kita lihat dari komentar warga di pinggiran kali Ciliwung yang kini juga sedang dilanda banjir, sangat jelas bahwa mereka tetap akan bertahan.

Apakah warga memang betah tinggal di bantaran kali, apakah itu di bengawan Solo, Ciliwung, atau pinggiran sungai lainnya? Tampaknya sudah jelas, mereka sesungguhnya mereka tidak betah dan siap dipindahkan. Siapa sih yang suka selalu terkena banjir? Lantas mengapa mereka tetap bertahan? Jawabnya, kondisi kehidupanlah yang membuat mereka enggan pindah.

Apalagi mereka juga sadar bahwa pemerintah tidak pernah sungguh-sungguh untuk memindahkan mereka. Dengan berbagai alasan, pemerintah tidak memiliki kebijakan nyata untuk mengosongkan bantaran kali dari hunian penduduk. Pemerintah hanya sekadar menghimbau, mengajak tanpa ikut membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi warga di bantaran kali.

Jadi, tentu saja, jangan pernah kita berharap banyak masalah banjir akan dapat tertangani dengan baik. Lebih jauh, kita tampaknya juga diminta untuk menganggap masalah banjir sebagai suatu peristiwa rutin atau lumrah yang tidak perlu diperdebatkan, terlebih ketika musim hujan berlalu, berganti musim kemarau.

Kenyataan itulah yang membuat kita selalu rebut ketika masalah dating, kemudian cenderung lupa ketika masalah itu sementara berlalu. Kondisi ini persis sama seperti penanganan masalah korupsi dan lain sebagainya, kita tidak menukik pada akar persoalan. Masalah banjir, korupsi, dan lain-lain, cenderung kita atasi seperti mengobati sakit kepala. Hanya sakit sesaat yang dihilangkan, padahal itu boleh jadi hanya indikator dari penyakit lebih parah yang ada, dan kita terkaget-kaget ketika tahu penyakit parah telah menimpa kita. Nah, kapan kita benar-benar punya komitmen, mau serius menangani masalah ini?

Penulis adalah dosen Fikom UPDM(B) Jakarta

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: