Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Budaya Merasa Malu

Oleh Drs H Usman Yatim MPd

Edisi 138/4-10 Juni 2007

ImageMENTERI Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang Toshikatsu Matsuoka, pekan lalu, didapati dalam keadaan tidak bernyawa. Kepolisian Jepang dalam masa penyelidikkannya menginformasikan bahwa Toshikatsu memang sengaja memangkahiri masa hidupnya itu. Pertanyaan kita, mengapa ia melakukan itu?

Sebagaimana diberitakan pers internasional, semasa menjabat Toshikatsu mendapat kritikan tajam atas dugaan keterlibatan skandal dengan pejabat pemerintah. Toshikatsu dijadwalkan akan diperiksa lagi oleh komite parlemen. Toshikatsu dituduh mengklaim dana USD236.000 untuk biaya penyewaan gedung parlemen yang dipakainya secara gratis. Dia juga menghadapi tuduhan skdandal berbeda tentang kontribusi politik.

Ilustrasi realitas tersebut sesungguhnya dapatlah kita refleksikan, bagaimana seorang pejabat publik yang cuma melanggar etika jabatan saja “merasa malu”. Sangat boleh jadi tradisi “merasa malu” kalangan para elite kita yang melanggarkan etika jabatan maupun prosedural, sangat teramat langka. Mengapa?

Sungguh, bukan main, memprihatinkan ketika ragam kasus korupsi terkuak, pejabat yang terkait tidak ada yang secara ksatria mengakui perbuatannya di hadapan publik. Yang lebih penting, dia tidak memberikan contoh “yang baik” kepada para pejabat lainnya bila melanggar hukum itu sudah tidak ada muka, maka sebaiknya melepas saja jabatan tersebut. Tidak perlulah seperti Toshikatsu Matsuoka. Akan tetapi dalam pengertian tertentu, memang begitulah bila pejabat tak ada muka, dalam hal ini Toshikatsu memperlihatkannya.

Masih kita ingat, sebutlah, belum lama ini musibah menyapa bangsa kita: korban kapal laut dan udara, selain banjir dan tanah longsor, datang demikian intimnya. Khusus musibah yang sangat boleh jadi disebabkan faktor manusia, ini menjadi instropeksi tiap insani bahwa  mengelola wewenang dan kapasitas skill meleset saja sedikit bisa menimbulkan korban. Akan tetapi yang terpenting dari sana, kita sama sekali tidak mendapat pelajaran berharga bagaimana pejabat yang berwenang mempertanggungjawabkan kewenangan jabatannya mengelola kehadapan publik.

Setelah sejumlah musibah itu, pada akhirnya momentum kembali kepada sistem pengelolaan yang efesien dan efektif tak pelak lagi harus kita ciptakan terus untuk mampu mendobrak kecongakan serba tahu. Sehingga musibah pada sisi tertentu punya nilai hikmahnya. Tentu saja ini semua bukan deskripsi apoligia logis. Tapi, itulah kenyataan agar siapa saja yang punya wewenang pengelolaan yang didalamnya menyangkut hajat hidup orang banyak, harus pandai-pandai pula memikirkan keselamatan mereka.

Pejabat mengundurkan diri karena melanggar hukum atau salah urus, sesungguhnya, contoh yang baikbuat masa depan bangsa. Dan ini sesungguhnya diharapkan pula sebagai simptom pembangunan mentalitas manusia. Dalam beban psikologis, memang, “salah urus” kadangkala diapologiakan sebagai musibah. Ada kesulitan-kesulitan psikis yang berlapis-lapis dicarikan mengapa musibah itu terjadi. Tapi kesulitan-kesulitan begitu, lagi-lagi, acap kali dijadikan alasan dasar untuk menarik siapa yang “paling” bertanggungjawab terhadap terjadinya kecelakaan salah urus sarana publik.

Sebutlah tiap kali kita mendapati musibah kecelakaan kereta api, selalu saja pada lapis kecil dan terbawah dalam sistem pengelolaan wewenang yang dijerat jadi tersangka. Tradisi seorang menteri paling bertanggungjawab terhadap musibah moda trasportasi, kalau di Jepang teramat nyata sekali. Padahal bisa saja dalam musibah itu faktor awal penyebabnya adalam pegawai rendahan.

Dalam lapangan politik, ekonomi, atau dalam jalinan interaksisoanl kita musibah pun sepatutnya jangan terjadi, kalaupun tak pelak lagi, harus ada kepastian sebab dan siapa yang paling bertanggungjawab. Di sejumlah lapangan sosialisasi itu, sangat boleh jadi, kita diberondong problema yang menekan psikis sehingga sulit keaktifan kearifan menjelma. Maka harus kita akui, walau secara tak langsung, masih ada yang tak beres dalam sistem pengelolaan dalam pelbagai lapisan sosialisasi itu. ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: