Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Buta Huruf

Oleh Usman Yatim MPd

ImageBUTA huruf (buta aksara), dalam filosofis epistemologis, adalah semacam jendela pengetahuan yang tertutup. Dan, siapa saja yang tidak berpengetahuan, terlebih dalam era global yang deras ini, bakal tepelanting. Jadi dalam dewasa ini mencari pengetahuan, adalah kebutuhan yang mendesak sejenis ketika kita dahaga membutuhkan sepercik air jernih.

Akan tetapi, jumlah “penderita” buta huruf (BH) bagaimanapun harus kita tolong. Ini tantagan berat yang harus bersama kita tuntaskan, mengingat penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang masih buta aksara, yang pada tahun 2006 tercatat 12,8 juta orang. Dari jumlah itu, 68,5 persen adalah perempuan.

Fakta “mengerikan” yang cukup faktual dan ontetik itu, sebagaimana disiarkan pers, harus menjadi perhatian pelbagai pihak. Sistem pendidikan nasional, tentu kita harapkan tidaklah kompromi dengan pemekaran fakta tersebut. Maka upaya-upaya pemberantasan buta aksara kita dukung sepenuhnya.

Kendati demikian, kita juga tidak menutup mata terhadap sejumlah kendala terhadap implementasi itu. Kendala utama untuk mengentaskan warga dari buta aksara antara lain faktor internal waga belajar, di mana 68 persen warga belajar telah berusia di atas 45 tahun dan ada hambatan kesehatan mata pula.

Sementara itu kita juga melihat ada kendala lain, yakni faktor eksternal, yang berkaitan dengan pengelola kegiatan pemberantasan buta aksara. Sebab, harus diakui, sangat susah mengumpulkan warga belajar di satu tempat lantaran mereka berada di lokasi atau RW yang berjauhan. Persoalan transportasi menuju tempat belajar adalah salah satu kendala.

Pers merepresentasikan temuannnya bahwa sebanyak 12,8 juta warga yang buta aksara ini, 81,3 persen di antaranya tersebar di provinsi yang bisa disebut sebagai kantung-kantung buta aksara, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, Banten, Bali, dan Lampung.

Meskipun begitu, kita tak boleh mundur memberantas buta aksara. Kita sudah sepakat bahwa bangsa Indonesia harus menjadi bangsa pemain era globalisasi, bukan bangsa yang “dimangsa”. Oleh karena itu tingkat kepedulian kita terhadap penggalian lumbung-lumbung pengetahuan janganlah susut, termasuk membuka lumbung pengetahuan terhadap gerakan pemberantasan buta huruf. Bertepatan dengan Hari Aksara Internasionmal ke-47, 8 September mendatang, upaya pemberantasan buta aksara atau buta huruf menjadi momentum yang bagus untuk terus kita aktualiasikan.

Bagaimanapun, dewasa ini Indonesia sedang mengalami pertumbuhan harapan: merelevansikan dan mengaktualiasasikan sebagai bangsa besar. Selama 62 tahun perjalannya, kita tak sekadar punya semangat hidup makmur dan tentram yang diimpikan, melainkan pula sebuah bangsa yang gemar mencari ilmu pengetahuan. Dari itu angka penyandang buta aksara harus kita runtuhkan.

Karuan saja kita, yang tak buta askara dan “berkecukupan” ilmu pegetahuan, jangalah lemah memberantas buta aksra. Mata dunia harus kita alihkan kepada titik bahwa kita lah sebuah bangsa yang becus memberantas buta aksara, Ini bakal jadi contoh yang baik buat-buat bangsa-bangsa bekembang lainnya. Dari titik inilah, ketika negara-negara berkembang mengalami ancaman serius buta aksara bisa mencotoh Indonesia. ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: