Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Dimensi Idul Fitri

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageKEGIATAN interaksi dan bersosialisasi kita, antar sesama manusia, sering diselimuti misteri; maka, dengan datangnya momentum tertinggi dan agung, yakni Idul Fitri, misteri itu terporak-porandakan. Ekspresi dimensi-dimensi keindahan, kebaikan, dan ketulusan demikian menjelma, menemui bentuknya yang pasti. Maka inilah kebahagiaan yang terus mengucur, menyirami segenap lubuk jiwa para insani.

Idul Fitri, dari itu menjadi anugrah tertinggi. Tingkat kualitas kejiwaan itu digambarkan oleh term Idul Fitri: kembali ke kondisi dan situasi fitrah (orsinal, sejati). Transformasi atau transubstansi itu tidak harus dipahami dalam arti ekistensial, tapi setidaknya dalam perspektif kesadaran. Kesadaran untuk mempertanyakan: bahwa kita ini sesungguhnya manusia manusia.

Bahwa kita memang manusia –semua tahu, tapi, banyak pula yang lupa bahwa apa itu sesungguhnya manusia. Tampang dan tutur katanya, memang, selaku manusia– tetapi perilaku sering tidak mencerminkan selaku manusia.

Di samping itu, kadangkala pula pangkat, jabatan, status sosial, maupun prestius lainnya: lebih tinggi dan substansial bahwa itu lebih penting ketimbang berderajat selaku manusia. Maka dari itu kemudian kita memasuki kefitrian kultural, ketimbang kefitrian substansial natural. Dengan kefitrian kultural punya sistem nilai takaran terhadap kulit luar, ketimbang isi.

Idul Fitri datang sekaligus pula untuk meluluhkannya, di samping tempat peleburan sosialitas. Pada momentum dan kondisi semacam ini, membuat siapa saja manusia tidak menemui kesulitan meminta maaf. Karena semuanya saling memaafkan, saling bermaaf-maafan: minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Maka tidak ada lagi peraturan gengsi dan status di sini. Pemimpin meminta maaf kepada mereka yang dipimpin, tidak akan punah maupun susut pamor wibawanya. Bawahan meminta maaf pada atasan, tidak bakal diganjar keminderan hukuman.

Bahkan sampai pada hubungan kekerabatan yang paling dekat pun, macam orangtua dan anak, ataupun kakak dengan adik, dengan adanya momentum Idul Fitri, yang tadinya kaku dan sulit bermaaf-maafan pun jadi cair. Orangtua meminta maaf pada anak, tidak akan longsor wibawanya. Begitu sterusnya.

Simaklah contoh kecil dari hal itu dari yang berserakan di sekeliling kita, yakni soal kesulitan meminta maaf. Pangkat, jabatan, status sosial kita demikian mentereng, sepertinya justru menghambat kita untuk mencurahkan maaf kepada yang lain. Karena itu seakan-akan kita selaku atasan tidak bisa salah dan tidak punya salah kepada mereka yang berada di piramid bawahan.

Demikian pula kita, manakala berada di piramid bawahan, yang boleh jadi pangkat, jabatan, dan status sosial demikian cekak: mengalami phobia meminta maaf, karena kita merasa sudah demikian teralienasi. Seakan-akan permintaan maaf yang kita ajukan, tentu kepada atasan, bakal mempertambah hukuman.

Tetapi semua itu bakal diluruhkan oleh momentum Indul Fitri.

Idul Fitri. Inilah momentum karamah, kemuliaan yang mengiurkan. Momentum ini pula yang mengutuhkan kita, selaku manusia. Maka bagi setiap dan semua manusia, Idul Fitri memposisikan kita kembali pada titik paling sehat: saling bermaaf-maafan. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: