Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Kedatangan Gub-Wagub DKI Terpilih

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageTEPATNYA tepatnya tanggal 8 Agustus, propinsi terkecil Republik tercinta ini yang bernama DKI Jakarta, mengadakan pecoblosan pemilihan kepala daerah. Sejak 62 tahun Republik Indonesia ini diproklamirkan, Ibukota negara besar berpenduduk padat ini untuk pertama kalinya mengadakan pemilihan langsung memilih Gubernur dan Wakil Gubernur. Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru pilihan rakyat, bukan saja warga masayarakat Jakarta, melainkan segenap warga penjuru tanah air, tidaklah bid’ah menyampaikan ucapan selamat datang menunaikan tugas-tugas dan sukses selalu.

Berangkat dari kearifan itu, maka kita, masyarakat Indonesia, berharap DKI Jakarta tidaklah “bising” seperti masa kampanye lalu; melainkan kini saatnya Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru mewujudkan apa-apa yang menjadi program kerja yang dikampanyekan lalu. Dalam bahasa enterteimen, sebagaimana diungakapkan artis Denada (edisi 146), Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih “ditantang” mewujudkan program-program nyata.

Dengan demikian, “kedatangan” Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih memimpin DKI Jakarta ini, dalam hal ini kita menegaskan bahwa “kedatangan” pemimpin atas kehendak dan pilihan rakyat, tentu saja itu harus tidak dengan tangan kosong. Apa dan bagaimananya “cindera mara” konsepsionalnya itu adalah mewujudkan program nyata.

Akan tetapi kita tahu, sekalipun pemimpin yang dipilih rakyat, mereka tetaplah seorang manusia pula, sama seperti kita, yang terdiri dari darah dan daging: bisa sedih, bisa gembira, bisa menangis, bisa tertawa, dan seterusnya.Tentu saja Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih ini, dengan sendirinya, teridentifikasi perkara itu pula.

Jakarta, propinsi terkcil dan terpadat penduduknya ini, karenanya pula, acap kali dililit sejumlah kompleksitas persoalan. Bagaimanpun, tidaklah Gubernur ataupun Wakil Gubernur memutuskan soal-soal perkara besar tersebut seperti seorang diri, bagai Batara bertangan sepuluh. Kemudian kita tahu apa yang terjadi terhadap melupakan janji-janjinya, yakni sebuah ironi pedih dari perdamaian yang dengung-dengungkan.

Tapi DKI Jakarta butuh pemimpin, sekaligus pemimpin “bersuara besar” yang menitahkan mewujudkan program nyata, yang tabah dan telaten meruntut sejumlah kompleksitas persoalan guna dicarikan solusinya secara cerdas dan tepat guna. Dari sinilah “ pemipin” DKI Jakarta, semacam “contoh” buat para pemipin lainnya sebagai bagian merepresentasikan apa itu konsepsi demokrasi.

Ketika kita mengenali DKI Jakarta adalah sebuah impian tentang kemajuan dan moderintas, kontan saja kita tak tersentak bahwa bagaimanapun DKI Jakarta “miniatur” Indonesia: sejumlah suku, ras, bangsa, perputaran ekonomi, politik, sosial budaya, dan seterusnya memperlihatkan dinamika keindonesiaan. Tapi barangkali justru karena DKI Jakarta bernyut oleh terlalu banyak elemen masyarakat; jadinya ide sebuah “dunia” adalah sebuah rumah tangga penuh kerukunan kian mengental untuk kebutuhan Jakarta.

Demikianlah, maka kita, rakyat Indonesia, menghimpun partikel-pertikel kasih sayang dan atom-atom kedamaian untuk membangun dunia yang penuh kerukunan, bermartabat, adil dan makmur. Dan Jakarta menjadi bagian contoh yang paling nyata dan dekat akan hal tersebut. Maka, “kedatangan” Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta baru yang terpilih, kita ucapkan selamat datang, untuk tidak melupakan partikel-partikel dan atom-atom tersebut. ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: