Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Kondisi Pendidikan Oleh Drs.H.Usman Yatim,M.Pd.

Written by Aris Rahman

ImageSUNGGUH sangat mencengangkan, di Purwakarta sebagaimana diberitakan MADINA belum lama ini, sebuah sekolah negeri yang teramat memprihatinkan pelan-pelan berubah menjadi sarang kalelawar. Tentu saja komplotan kalelawar itu tidak bermaksud mengejar program pendidikan paket A; melainkan kehadiran para bintang itu menandakan bahwa kita tidak becus mengurus sekolah, dalam arti yang luas.

Dikatakan dalam arti yang luas, termasuk ke soal anggaran pendidikan. Belum lama ini Pendapatan dan Belanja Nagara tahun 2007 yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, mendapat anggaran sebesar Rp 43,4 triliun. Angka ini tidak beranjak jauh dari anggaran Departemen Pendidikan Nasional tahun 2006 yang sebesar Rp 39 triliun setelah APBN Perubahan. Besaran anggaran 2006 tersebut baru 9, 1 persen dari total APBN.Untuk tahun 2007 anggaran terbesar, yakni Rp 20,3 triliun, masih diperuntukkan bagi wajib program belajar sembilan tahun.

Peruntukkan dana terbesar kedua program di pendidikan tinggi sebesar Rp 7,8 triliun.Kendati demikian, Wakil Ketua Komisi X DPR Masduki Baedlowi, sebagaimana diberitakan, menilai bahwa anggaran itu seperti tahun-tahun sebelumnya, masih jauh dari harapan 20 persen. Untuk itu diupayakan kontrol terhadap efisiensi dan penajaman program-program pendidikan yang nantinya dijalankan Departemen Pendidikan Nasional. Memang, kita juga menyadari bahwa kondisi bangsa masih dalam kesulitan untuk memberikan anggaran sampai 20 persen itu. Namun, yang kita tak habis pikir, justru di kalangan DPR apa yang bernama agak sulit menaikkan anggaran pendidikan dalam penggodokan anggaran itu, karena masing-masing komisi di DPR berusaha membela mitra kerjanya.

Semua sektor berusaha mendapatkan anggaran yang memadai.Tapi, kita harus pastikan bahwa anggaran pendidikan di Departemen pendidikan Nasional itu disertai dengan catatan. Sebut dalam keterkaitan ini juga dengan apa yang bernama ujian nasional (UN) dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di perguruan tinggi (PT). Anggaran untuk UN pada tahun 2007 sebesar Rp 250 miliar. Catatan lain, terkait dengan dana PNBP yang dimiliki masing-masing PT Negeri. Selama ini kita melihat melihat kecenderungan privatisasi di PT. PT diminta mencari dana sendiri. Pada akhirnya yang dikenai biaya tinggi kembali mahasiswa. Sehingga yang namanya kuliah di PTN berbiaya mahal dan mencekik sudah bukan rahasia lagi.

Dari sini dikhawatirkan nantinya hanya mahasiswa yang punya uang yang dapat berkuliah di PTN, dan ini tak ubahnya kita seperti kembali lagi hidup dalam masa kolonial dulu.Harapan kita harus ada jalan keluarnya, bagaimana anggaran pendidikan yang “cuma” sebesar itu tidak mengartikan pihak institusi pendidikan boleh meyambar dana dari sana-sini, terutama kepada para peserta didik. Bersama ini juga kita harus secepatnya bertindak mengurangi jumlah sekolah-sekolah yang pelan-pelan berubah menjadi sarang kalelawar itu.

Terus terang, dalam dunia pendidikan, apa yang bernama keterbatasan anggaran pendidikan dapatlah kita siasati. Bukankah di dunia pendidikan pula telah mengajarkan: tidak ada rotan akar pun jadi. Jadi, semua warga masyarakat yang berhak mendapat pengajaran tetap dapat kembali ke sekolah.***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: