Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Mantra Reshuffle Oleh Drs.Usman Yatim MP.d

Written by Aris Rahman

ImageDIBERITAKAN: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhirnya menegaskan bahwa reshuffle kabinet akan diumumkan awal Mei. Karuan saja ada pihak-pihak yang mengalami H2C (harap-harap cemas) sebagaimana diberitakan MADINA edisi lalu. Dan, kata reshuffle bagi sejumlah kalangan malah punyah tuah, semacam mantra penjinak ular.

Akan tetapi bagi kita yang di luar kepentingan reshuffle, masih punya pertanyaan ini: mengapakah harus ada reshuffle? Efektifkah waktu yang tinggal dua setengah tahun ini menuntaskan sejumlah masalah? Lantas, siapakah yang terpental dari Kabinet Bersatu? Siapakah yang datang? Dan, siapakah yang cuma mengalami rotasi jabatan?

Secara positif reshuffle juga bisa membawa agin baru dalam kabinet Indonesia Bersatu, jika komposisi yang ditempatkan memang sesuai dengan kebutuhan bangsa saat ini. Sangat boleh jadi dengan demikian reshuffle kabinet menjadi pilihan yang harus dilakukan bila melihat kondisi bangsa yang semakin terpuruk.

Kendati demikian reshuffle bisa akan menjadi bumerang, jika hanya berorentasi pada pembagian kekuasaan atau politik giliran. Keterpurukan bangsa akan semakin semaput hanya lantaran untuk memuaskan syahwat politik segelintir elite politik. Sejumlah pihak dan para analis politik menelik bahwa araoma itu kental terjadi.

Separuh waktu bagi Kabinet Indonesia Bersatu telah berjalan; jika kemudian solusi yang diambil dari semua problem bangsa adalah reshuffle, sebetulnya masih bisa kita kalkulasi secara logis bahwa pilihan tersebut bukanlah solusi yang sepenuhnya tepat –tapi juga tidak sepenuhnya salah. Logikanya, dalam paruh waktu saja kepemimpinan yang ada belum mampu mengindetifikasi agar yang memunculkan berbagai peroblem bangsa tersebut.

Bagaimanapun, kita meminta bahwa seharusnya Peresiden tidak mendapat tekanan dari pihak mana pun dalam menempuh reshuffle. Termasuk kita juga mengingatkan secara tandas kepada partai politik, janganlah mereka berstatement tidak mendesak padahal secara diam-diam menyodorkan sejumlah nama “jagoannya” untuk duduk di kabinet.

Sekali lagi, sama sekali kita tak punya kepentingan apa-apa terhadap reshuffle, maka kita pun tambah leluasa untuk mengingatkan lagi bahwa tujuan reshuffle harus diluruskan agar tidak terjadi akomodasi kepentingan partai-partai politik. Sebagaimana harapan banyak pihak, bahwa penggantian para menteri harus di tujukan semata-mata untuk peningkatan kinerja kabinet. Maka jangan sampai reshuffle dilakukan atas tekanan atau intervensi dari parlemen atau partai politik.

Lebih jauh kita berkeinginan mengajak segenap elemen bangsa, bahwa sebenarnya, akar persoalan kurang tanggapnya penyelesaian problem kerakyataan. Jika kemudian mereka yang saat ini berada pada proses indefikasi menteri diganti dengan komposisi baru, sama dengan artinya memulai baru, padahal waktu tinggal dua setengah tahun.

Logika yang kita kedepankan juga bahwa dalam menyikapi masalah reshuffle, partai politik hendaknya bisa bersikap bijaksana dan tidak terpancing terlalu jauh. Dalam sistem politik peresidensial, Peresiden memiliki kedudukkan kuat dan tidak dapat di jatuhkan parlemen meskipun didukung partai yang memiliki kursi sedikit. Di beberapa negara yang peresidennya dari partai kecil, ternyata dapat menjalankan pemerintahan secara efektif tanpa terpengaruh interfensi dari parlemen. ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: