Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Manuver Politik Jelang Pemilu 2009

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageSuhu politik kini memang mulai terasa menghangat seiring sudah bergulirnya kegiatan  Pemilu 2009. Hampir bersamaan dengan penetapan KPU (Komisi Pemilihan Umum) terhadap partai politik peserta Pemilu dan kampanye mulai berlangsung, ikut mencuat isu perseteruan antara legislative dan eksekutif. DPR kini bersiap-siap menggelar Hak Angket untuk “mengadili” pemerintahan SBY sehubungan kebijakan menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Selain hak angket, juga sedang diupayakan bergulirnya hak interpelasi tentang  kebijakan masalah pangan.

Media massa, baik cetak maupun elektronik, banyak mengangkat masalah seputar pemilu, perseteruan DPR-Pemerintah, termasuk berbagai upaya dalam penanganan masalah pemberantasan korupsi. Berbagai pemberitaan yang diangkat media massa itu cenderung disimpulkan bahwa manuver politik kini demikian kental terasa. Maksudnya, apa yang dilakukan oleh para elit politik saat ini penuh dengan tanda tanya, yaitu apakah berbagai isu yang digulirkan dimaksudkan untuk mengatasi berbagai masalah terkait kepentingan rakyat atau malah semuanya sarat dengan kepentingan para elit politik itu sendiri?

Digulirkannya hak angket, menurut sementara pengamat dan juga masyarakat luas, belum tentu dalam konteks benar-benar untuk meringankan beban rakyat. Mereka melihat hak angket tidak lebih sebagai upaya dari sekelompomk  elit untuk memojokkan atau mencoba makin memerosotkan figure Presiden SBY. Sebetulnya, demikian kata mereka yang sinis, hak angket DPR tentang BBM tidak lebih sebagai upaya para anggota dewan untuk menaikkan pamornya dengan menunjukkan bahwa Presiden SBY keliru berat dengan kebijakannya. Lebih dari itu, ada upaya penggiringan untuk membangun opini bahwa pemerintahan SBY telah gagal dan tentu saja ujung-ujungnya, SBY perlu digantikan dengan tokoh lain pada pemilihan presiden mendatang.

Sementara itu mereka yang setuju digulirkannya Hak Angket menyatakan bahwa hak itu memang seyogyanya harus diajukan DPR dalam rangka kesungguhannya menjalankan fungsi sebagai pengontrol atau pengawasan terhadap kebijakan yang dilakukan oleh Presiden. DPR memang wajib untuk mengawasi jalannya pemerintahan sebagai bentuk perwujudan dari tugasnya dalam menyerap dan menyalurkan aspirasi rakyat. Bukankah rakyat banyak, sebagaimana dicuatkan oleh para pendemo, sangat keberatan atau mengeluhkan atas kenaikan BBM? Akibat naiknya BBM, banyak masyarakat bawah makin mengalami kesulitan dalam kehidupannya. Selain itu mengapa harga BBM yang dinaikkan, bukan upaya membenahi masalah pengelolaan BBM yang dinilai tidak benar?

Jadi, kata mereka yang setuju Hak Angket, janganlah hak-hak yang digunakan oleh DPR dilihat dalam konteks untuk mengganggu atau ingin menjatuhkan kredibilitas, wibawa atau apalagi kekuasaan Presiden. Penggunaan hak-hak DPR harus dilihat dalam kerangka meminta penjelasan atau jawaban dari pemerintah atas kebijakan yang telah diambil. Justru jika DPR tidak menggunakan hak-haknya, rakyat akan tidak mendapatkan saluran untuk menyuarakan aspirasinya. Hal ini lebih jauh akan makin menimbulkan parlemen jalanan, unjuk rasa yang dapat mengarah tindakan anarkis. Berbagai aksi unjuk rasa belakangan ini yang diwarnai aksi kekerasan, tidak lain karena masih kurang  responsive atau lambannya legislative mengambil sikap atas kebijakan pemerintah yang memberatkan rakyat banyak tersebut.

Penegakan Hukum

Sungguh menarik pula untuk dicermati, akhir-akhir ini terlihat pula beberapa anggota atau mantan anggota DPR yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan karena tuduhan melakukan suap atau menerima suap. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang kini dipimpin oleh Antasari Azhar menunjukkan keberaniannya untuk mengusut atau menangkap siapa saja yang patut diduga melakukan tindak pidana korupsi.

Pihak Kejaksaan dan Polri juga kini berani melakukan tugasnya sehingga siapa saja yang diduga melakukan tindak kejahatan dapat saja segera ditangkap atau ditahan. Penangkapan Muchdi PR, pensiunan Jenderal Angkatan Darat karena diduga terlibat pembunuhan aktifis Munir dinilai sebagai langkah berani dari aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya.

Penangkapan tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada lagi mereka yang kebal atau tidak dapat tersentuh oleh hukum. Hal ini berarti suatu kemajuan sangat besar dalam penegakan hukum. Namun, tetap saja sejumlah pengamat atau anggota masyarakat yang melihat hal tersebut sebagai penuh dengan nuansa manuver politik. Misalnya, anggota atau mantan anggota DPR dan mantan jenderal yang ditangkap, tidak lebih bagian dari permainan politik yang tetap bermuara kepada kepentingan Pemilu 2009.

Mereka-mereka yang ditangkap atau ditahan tidak lebih sebagai upaya memberikan warning atau peringatan kepada pihak-pihak yang mencoba untuk melakukan tindakan memojokkan pemerintah. Penangkapan terhadap Yusuf Emir Faisal, suami penyanyi Hetty Koes Endang yang diduga terlibat kasus suap ketika menjabat anggota DPR telah menyeret  Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan bahkan nama mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Lebih jauh, boleh juga disebut bahwa jika DPR berani memainkan perannya untuk “mengerjai” pemerintah maka pemerintah pun dengan caranya sendiri dapat “mengerjai” DPR beserta partai politik pendukung anggota dewan tersebut. Dapat dipahami juga, jika DPR gencar melakukan aktifitas semacam hak angket atau interpelasi maka pemerintah lewat para penegak hukumnya juga akan melakukan aktifitas senada. Pemerintah melakukan hal itu dalam  kerangka penegakan supremasi hukum yang memang  pula merupakan bagian dari tuntutan rakyat banyak. Bukankah ini semua tetap berdalihkan pada kepentingan rakyat banyak?

Pendewasaan Politik

Apapun pendapat yang mengemuka sebagaimana di atas, ada benarnya atau dapat juga salah besar. Berbagai pendapat boleh saja disampaikan saat kita berada dalam era reformasi sekarang ini. Demokrasi ala reformasi memang membolehkan kita mengemukan pendapat tanpa harus merasa takut, apalagi itu mengandung kebenaran atau salah. Dengan demikian, biarkanlah aneka pendapat mengemuka dengan segala bentuknya. Para elit politik baik yang berada pada posisi incumbent maupun oposisi tidak perlu emosional terhadap analisis dari berbagai kalangan, apalagi oleh masyarakat awam.

Artinya, jika disebut berbagai kasus yang mencuat sekarang tidak lebih sebagai manuver politik maka semua itu harus disikapi dengan pikiran jernih dan prasangka baik. Anggaplah, pengungkapan berbagai kasus atau juga manuver politik itu sebagai upaya pendewasaan politik. Apa yang dilakukan DPR dengan hak angket atau interpelasi memang dalam kerangka menjalankan tugas dan fungsinya. Sedangkan apa yang dilakukan oleh pihak penegak hukum dengan pengusutan atau penangkapan anggota atau mantan anggota DPR betul-betul dalam kerangka upaya pemberantasan korupsi yang merupakan bagian dari agenda reformasi.

Kita pada hari-hari ke depan memang akan banyak menyaksikan berbagai atraksi dari para elit politik. Media massa akan terus meramaikan panggung politik nasional dengan berbagai berita yang menyorot tingkah polah, prilaku atau kiprah para elit politik. Kini terserah kepada para elit itu sendiri apakah mampu memanfaatkan keterbukaan media untuk mengangkat citra atau malah dapat memelorotkan nama mereka di mata publik. Hal yang jelas, pada akhirnya mereka yang bebas atau dapat memanfaatkan pengaruh manuver politiklah  yang akan memetik hasil pada Pemilu 2009.

SBY bersama Partai Demokrat sukses memanfaatkan manuver politik pada Pemilu 2009. SBY ketika itu mampu membangun citranya sebagai tokoh tak tertandingi, setelah sebelumnya dia oleh media berada pada posisi dipojokkan oleh pemerintahan Megawati. Begitu pula dengan Jusuf Kalla yang mampu melihat peluang untuk bergandeng dengan SBY, setelah sebelumnya dia juga berada pada posisi dipinggirkan oleh Partai Golkar yang dipimpin oleh Akbar Tanjung.

Kita tidak tahu manuver politik mana yang bakal mengangkat atau memelorotkan sosok tokoh dan pamor parpol pada pemilu tahun depan. Apakah pengguliran hak angket DPR dapat menjatuhkan citra Presiden SBY atau malah sebaliknya? Begitu pula dengan apa yang terjadi dalam tubuh PKB saat ini? Boleh jadi pula akan banyak lagi aneka manuver politik seru lainnya yang bakal muncul. Mari kita nantikan saja dengan hati dan pikiran lepas, tanpa perlu mengerutkan kening, apalagi emosional. Inilah hiburan politik menyegarkan dalam pesta demokrasi 2009.

Penulis adalah Dosen Fikom UPDM(B) Jakarta.

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: