Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Nasionalisme dan Duka Kita

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageHari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) baru saja kita peringati dengan sangat meriah. Presiden SBY dalam rangka 100 tahun Harkitnas mencanangkan gerakan “Indonesia Bisa”. Gerakan ini ingin mengingatkan tentang kemampuan bangsa Indonesia untuk bangkit kembali dari berbagai keterpurukan, berani menghadapi berbagai tantangan, maju berjuang menuju Indonesia yang sejahtera.

Berbagai komponen bangsa dengan berbagai acara menyelanggarakan kegiatan Harkitnas. Melihat acara ini kita memang kembali menjadi optimistik bahwa masa depan bangsa dan Negara Indonesia akan tetap utuh, bersatu padu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melihat gelora nasionalisme yang mencuat lewat Harkitnas, rasa ragu-ragu, cemas dan pesimistis akan masa depan menjadi agak sirna.

Hanya tentu saja, rasa was-was terkadang tetap menghantui kita. Betapa tidak, di saat kita memperingati Harkitnas, berbagai peristiwa lain juga menyertai kita. Paling ramai adalah berbagai aksi unjuk rasa oleh banyak elemen yang menuntut agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Aksi-aksi unjuk rasa cukup memprihatinkan karena dilakukan dengan berbagai cara, yang antara lain dinilai mengarah pada anarkis.

Presiden SBY sempat mengeluarkan pernyataan sehubungan aksi-aksi unjuk rasa ini. Beliau menilai, aksi unjuk rasa boleh-boleh saja sebagai manifestasi adanya perbedaan pendapat yang sangat dihargai dalam era demokrasi kini. Masalahnya, aksi-aksi unjuk rasa yang kebablasan, dilakukan dengan cara-cara yang merusak atau anarkis, sudah jelas dapat menimbulkan masalah baru. Aksi unjuk rasa yang anarkis dapat merusak apa yang sudah kita bangun selama ini.

Sementara itu Kepala Bin Syamsir Siregar menengarai, aksi-aksi unjuk rasa itu telah banyak ditunggangi oleh para mantan pejabat, bahkan sampai setingkat menteri. Pernyataan Kepala BIN ini banyak dicibirkan oleh sejumlah kalangan, terutama para pengkritik pemerintah. Prilaku Kepala BIN dinilai tak jauh beda dengan masa Orde Baru. Namun, pernyataan Syamsir Siregar memang ada benarnya. Mantan pejabat memang ikut aksi unjuk rasa anti kenaikan BBM, seperti ditunjukkan oleh Rizal Ramli, mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Kita belum tahu, apakah aksi-aksi unjuk rasa ini akan berlangsung lama atau berakhir setelah kita dapat menyesuaikan diri, beberapa minggu setelah BBM dinaikkan. Melihat kita akan memasuki masa Pemilu legislative dan presiden, dapat diduga aksi-aksi unjuk rasa akan dapat terus berlangsung. Tentu saja, aksi unjuk rasa memiliki agenda bukan lagi sekadar protes atas kenaikan BBM tetapi juga untuk melemahkan posisi Presiden SBY, mereka yang berkuasa sekarang ini.

Peristiwa lain yang menyertai peringatan 100 tahun Harkitnas adalah dengan meninggalnya 3 tokoh yang nasionalismenya tidak perlu kita ragukan. Pertama adalah dengan wafatnya, aktor sekaligus politisi Sophan Sophian. Dia wafat beberapa hari menjelang puncak Harkitnas. Malah Sophan meninggal karena kecelakaan ketika dia ikut melakukan kegiatan dalam rangka peringatan Harkitnas. Sophan dikenal sebagai seorang yang sangat nasionalis, pecinta Tanahair, idealis sejati. Dia seorang yang konsisten akan cita-cita Proklamasi sehingga sering dia menunjukkan sikap kecewa terhadap kondisi bangsa saat ini yang dinilai banyak menodai semangat para founding father.

Kedua, tepat pada puncak Harkitnas 20 Mei 08, kita ditinggalkan oleh SK Trimurti, seorang tokoh wanita pejuang yang dinilai banyak jasa-jasanya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dia sedikit dari wanita Indonesia yang pada masa awal kemerdekaan duduk dalam pemerintahan, sebagai Menteri Perburuhan. Istri almarhum Sayuti Melik, pengetik naskah Proklamasi RI, meninggal dalam kondisi kehidupan yang penuh kesederhanaan. Berbeda jauh dengan kondisi pejabat atau mantan pejabat era sekarag ini.

Ketiga, masih dalam hari yang sama, Selasa, 20 Mei 2008, kita juga dikejutkan dengan wafatnya mantan Gubernur DKI Jakarta H Ali Sadikin. Tokoh yang akrab dipanggil Bang Ali ini juga dikenal sebagai sosok yang idealis dalam memperjuangkan Indonesia sebagaimana cita-cita founding fathers. Bang Ali dikenal sebagai tokoh yang berani, bicara ceplas-ceplos dan tidak takut melawan mereka yang sedang berkuasa. Dia dinilai sebagai peletak dasar bagi pembangunan kota Jakarta.

Presiden SBY melayat ketiga tokoh tersebut. Almarhum Sophan dan Bang Ali banyak mendapat liputan media massa karena keduanya memang masih banyak diketahui kiprahnya sampai pada masa akhir hayatnya. Tak hanya Presiden SBY, berbagai pejabat, politisi dan selebritis ikut melayat dan menghantar ke pemakaman. Sementara buat almarhum Ibu SK Trimurti, liputan media memag ala kadarnya. Mungkin, selain karena dia tak lagi berkiprah, lebih banyak terbaring di rumah sederhanya di Bekasi, tapi juga boleh jadi karena memang kita sudah banyak melupakan sepak terjang pejuang Angkatan 45 dan sebelumnya.

Nah, kita tidak tahu apakah peringatan 100 tahun Harkitnas benar-benar dapat kita jadikan momen untuk membangkitkan semangat nasionalisme kita yang kini dinilai mulai melemah. Apakah aksi-aksi unjuk rasa dapat makin memperkuat rasa nasionalisme kita atau malah sebagai peringatan akan bahaya kian lemahnya rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia. Begitu juga dengan wafatnya ketiga tokoh tadi, apakah dapat dinilai sebagai pertanda bahwa mereka ikhlas meninggalkan kita karena sudah meyakini Indonesia bakal tetap utuh bersatu dan dapat mewujudkan cita-cita sesuai amanat Proklamasi 17 Agustus 1945. Atau malah sebaliknya, mereka pergi karena tidak mau melihat bangsa dan Negara ini tercabik-cabik dari bingkai NKRI.

Tentu saja, semua terpulang kepada kita semua, terutama pada elit bangsa. Kini dalam hitungan hari dan bulan, kita akan melihat kiprah para elit dalam kancah perpolitikan nasional. Pemilu dan Pilpres tidak lama lagi. Para elit banyak bersuara lewat media. Selain itu tentu juga mereka melakukan banyak aksi dalam rangka menyiapkan diri untuk meramaikan pesta demokrasi. Kita akan melihat, apakah kiprah mereka lebih berorientasi untuk kepentingan sesaat, kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Atau sebaliknya, kiprah mereka benar-benar berorientasi masa depan untuk kepentingan bangsa dan Negara.

Para elit patut menyadari, kita menghadapi banyak masalah. Penolakan kenaikan BBM tidak lain karena alasan kondisi kehidupan rakyat banyak yang masih dilanda kesulitan. Kemiskinan dan kebodohan masih ada di mana-mana. Kelaparan, kurang gizi, masih terdengar dalam kehidupan kita. Hidup sejahtera masih menjadi dambaan rakyat banyak. Semua kondisi dapat setiap saat menjadi pemicu konflik, keresahaan yang ujung-ujungnya dapat melemahkan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa dan Negara. Nasionalisme akan tidak bermakna manakala rakyat masih menjerit karena kehidupannya yang masih morat marit.

Oleh karena itulah, kita semua patut waspada. Biarpun gelora nasionalisme terlihat mencuat selama Harkitnas, tetap saja kita perlu selalu mengingatkan pada setiap diri bahwa nasionalisme jangan sampai terkoyak gara-gara ajang politik sesaat, apakah itu karena Pilkada atau Pemilu. Nasionalisme jangan kita korbankan hanya untuk kekuasaan, apalagi yang ujung-ujungnya hanya untuk menumpuk kekayaan, hegemoni kelompok, semangat kedaerahan, primordialisme dan sektarianisme yang mengingkari pluralisme. Mudah-mudahan, gerakan Indonesia Bisa dalam rangka membangun Indonesia sejahtera dalam bingkai NKRI dapat kita wujudkan bersama.

Penulis adalah Dosen Fikom UPDM(B) Jakarta.

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: