Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Pak Harto dan Golkar

Oleh Usman Yatim

ImagePartai Golkar akhir-akhir ini memberikan perhatian yang cukup terhadap mantan Presiden RI kedua, almarhum HM Soeharto. Perhatian pertama, terlihat ketika Pak Harto sedang kritis dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Saat itu Partai Golkar melalui Agung Laksono dan kemudian dilengkapi oleh Muladi, meminta pemerintah agar melakukan deponering terhadap kasus hukum Pak Harto.

Partai Golkar  mengusulkan hal itu mengingat jasa-jasa Pak Harto yang besar kepada bangsa dan negara, Partai Golkar mendesak Pemerintah untuk memberikan kepastian atas status hukum atas Pak Harto dengan “mengesampingkan perkaranya” (deponering) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bersamaan dengan itu, Partai Golkar juga mengimbau agar negara dan masyarakat memperlakukan Pak Harto dengan sebaik-baiknya sebagai mantan kepala negara.

Setelah Pak Harto wafat, Minggu, 27 Januari 2008, kembali Partai Golkar menunjukkan kepeduliannya yang tinggi, yaitu dengan mengusulkan agar Bapak Pembangunan itu dapat diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Alasan yang diajukan lagi-lagi menyangkut jasa-jasa Pak Harto terhadap bangsa dan negara ini. Bagi Partai Golkar, dibanding kesalahannya, jasa-jasa dan pengabdian Pak Harto terhadap bangsa dan Negara jauh lebih besar.

Sebagaimana dikatakan dalam editorial situs Partai Golkar, Pak Harto bersama proklamator dan Presiden RI pertama merupakan tokoh besar yang meninggalkan banyak kenangan besar. “Sebagai tokoh besar, Pak Harto meninggalkan banyak kesan, banyak kenangan, dan mungkin banyak kontroversi.  Ibarat drama, ujung perjalanan hidup dari Bapak Pembangunan Indonesia ini penuh dengan “kisah besar”. Begitu pula yang dirasakan bangsa Indonesia tatkala puluhan tahun silam Bung Karno, Bapak Proklamator Indonesia berpulang. Suka tidak suka, senang tidak senang, Bung Karno dan Pak Harto adalah dua pemimpin besar Indonesia yang telah memberi “kenangan besar” kepada bangsa yang sama-sama mereka cintai.”

Sikap dan kepedulian yang ditunjukkan oleh Partai Golkar dapat dimaklumi dan sangat wajar. Sebagai awalnya organisasi social politik masa Orde Baru dan kemudian resmi menyatakan diri sebagai partai politik pada masa Reformasi, Partai Golkar memiliki sejarah yang panjang. Keberadaan Partai Golkar harus diakui, tidak dapat dipisahkan dari sosok Pak Harto.

Bukankah selama Orde Baru, Golkar dibangun dan dibesarkan lewat system politik yang dibangun oleh pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Pak Harto? Terlepas dari sudut pandang negative yang menyebut bahwa Golkar telah dijadikan sebagai alat kekuasaan, namun sebagai kekuatan social politik, Golkar kini telah memiliki tradisi dan budaya politik yang dapat menjadi rujukan bagi pengembangan partai politik yang handal dan paling siap mengantisipasi dan menghadapi masa depan.

Golkar dibangun banyak berlandaskan pada visi dan misi yang dijiwai oleh semangat dan pemikiran Pak Harto. Selama keberadaannya pada masa Orde Baru, Pak Harto sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar memberi arah, meletakkan dasar-dasar pengembangan Golkar sebagai organisasi social politik yang mapan, berlandaskan pada Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila.

Golkar masa Orde Baru dan Partai Golkar pada Orde Reformasi boleh jadi banyak mengalami perubahan. Namun, perubahan yang terjadi tidak bersifat substansif dalam hal ideology, termasuk visi atau cita-citanya. Perubahan Golkar Orde Baru ke Orde Reformasi, lebih kepada hal-hal yang bersifat pengembangan organisasi, manajemen yang dikaitkan dengan tantangan perubahan zaman.

Sementara Golkar sebagai orsospol atau parpol yang mengembangkan semangat nasionalisme, pluralisme, tetaplah sama mulai dari awal berdirinya hingga saat ini. Walau tidak segarang masa Orde Baru, Partai Golkar tetaplah mengklaim diri sebagai benteng Pancasila. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideology atau dasar Negara tetap menjadi pegangan kuat bagi segenap warga Partai Golkar.

Partai Golkar tetap berkomitmen sebagai pengemban amanat rakyat, memperjuangkan terwujudnya cita-cita dan tujuan nasional, membangun masyarakat adil makmur berlandaskan pada UUD 1945 dan Pancasila. Apa yang diperjuangkan Golkar pada masa Orde Baru, yaitu melaksanakan pembangunan bagi kemakmuran rakyat, tetaplah sama jargonnya pada orde sekarang ini. Mungkin yang berbeda hanya dalam kosa kata pengungkapannya.

Masa Orde Baru, Golkar menjadi ujung tombak terdepan dalam visi membangun Indonesia melalui tahapan-tahapan yang jelas, terencana, baik jangka pendek maupun jangka panjang, melalui tahapan Pelita (Pembangunan Lima Tahun), maupun PJP (Pembangunan Jangka Panjang) I dan II dalam kurun waktu 25 tahun ke depan. Masa reformasi saat inipun, semangat membangun dengan visi sebagaimana masa Orde Baru masih tetap ada dan menjadikannya sebagai partai yang solid, memiliki pola dan kerangka, system serta visi yang jelas dalam membawa biduk kehidupan masa depan dan bangsa ini.

Malahan setelah Partai Golkar ditinggal oleh Pak Harto, menjadikan Golkar sebagai parpol yang matang, mandiri, bergerak dalam tataran system yang sudah mapan. Seolah masa sekitar 30 tahun Orde Baru, Golkar dibangun dan dikembangkan di bawah penataan, bimbingan, arahan para aristek dan pembinanya. Kemudian, setelah menemukan jati dirinya, tetap dapat eksis meski ditinggal para pinisepuh dan pembinannya. Saat kemapanan telah dimiliki, partai digerakkan lewat system yang sudah terbangun, keberadaan pinisepuh dan Pembina memang tidak lagi diperlukan dalam arti fisik.

Harus diakui, eksistensi Partai Golkar saat ini banyak dipengaruhi oleh tradisi atau budaya politik yang sudah dibangun sejak lama. Dibandingkan, partai-partai lainnya yang ada saat ini, Partai Golkar merupakan partai yang paling solid, baik dilihat dari system organisasinya, maupun dilihat dari sudut ideology maupun visi masa depannya. Partai ini matang dalam menghadapi berbagai konflik yang ada, baik internal maupun eksternal. Keberhasilannya memperoleh suara terbanyak pada Pemilu 2004, menunjukkan partai ini masih diterima rakyat Indonesia meski sempat dihujani hujatan pada masa awal reformasi.

Bila dilihat dari respon yang diberikan masyarakat atas sakit dan kemudian wafatnya, Pak Harto ternyata masih mengena di hati rakyat banyak. Pengakuan terhadap Pak Harto sebagai pemimpin, tokoh yang memimpin selama 32 tahun dengan berbagai hal yang telah dibuatnya, masih memberikan kesan mendalam bagi sebagian rakyat banyak. Hal inilah agaknya mengapa Partai Golkar memanfaatkan momentum ini untuk memberikan kepedulian terhadap Pak Harto, Ketua Dewan Pembina yang sempat dipinggirkan untuk menghindari hujatan ketika baru lengser.

Masalahnya sekarang, apakah Partai Golkar “berani”  mengembalikan, menempatkan  nama Pak Harto sebagai orang yang pernah membesarkan partai berlambang pohon beringin ini, pada tempat yang terhormat? Apakah Partai Golkar mau membuka kembali lembaran sejarahnya yang berkaitan dengan visi dan kepemimpinan Pak Harto untuk mewarnai perjuangan Partai Golkar ke depan? Apakah partai Golkar mau mencabut pernyataan sikapnya yang sempat mengatakan Partai Golkar saat ini, sudah memutuskan dengan Golkar masa Orde Baru? Semua ini mari kita tunggu jawabannya dari kebijakan Partai Golkar ke depan.

Penulis adalah dosen Fikom UPDM(B) Jakarta

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: