Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Pak Harto Jadi Legenda

Oleh Drs H Usman Yatim MPd
ImageNama Jenderal Besar TNI Haji Muhammad Soeharto atau yang akrab disapa dengan Pak Harto kembali ramai dibicarakan. Rumah kediaman beliau di Jalan Cendana Jakarta Pusat didatangi ribuan orang. Kondisi serupa juga terlihat di Kalitan dan Astana Giribangun Karang Anyar, Jawa Tengah. Sementera media massa, terlebih televisi banyak menyiarkan tentang sosok mantan Presiden RI selama 32 tahun tersebut.
Suasana di atas terlihat selama sepekan kemarin, terutama Rabu, 5 Maret 2008, saat berlangsungnya peringatan 40 hari wafatnya Pak Harto yang ditandai dengan acara doa dan tahlilan. Ungkapan rasa simpati, kagum dan hormat, tetap mencuat bagi banyak orang ketika mereka menyebut nama Pak Harto. Kekhusukan untuk memanjatkan doa buat Bapak Pembangunan itu demikian terasa.

Ulama, ahli tafsir Al Quran dan mantan Menteri Agama Prof Dr Quraish Shihab menyatakan, doa-doa yang dipanjatkan oleh banyak orang buat Pak Harto dilakukan secara tulus dan ikhlas. “Saya dapat merasakan dari melihat pancaran wajah-wajah mereka yang ikut acara tahlilan,” kata Quraish yang hadir dua malam di Cendana.

Gurubesar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta tampil dalam malam tahlilan di Cendana sebagai pemberi tausiah. Ucapannya disetujui oleh Dr KH Tarmizi Taher, mantan Menteri Agama 1993 -1998 yang ikut hadir bersama Ny Hj Djusma Tarmizi pada acara tahlilan, Rabu malam. Menurut Tarmizi, almarhum Pak Harto merupakan tokoh yang layak untuk dikenang sepanjang masa bagi segenap rakyat Indonesia.

“Sebagai pembantunya, saya mengenal betul sosok beliau yang patut kita teladani. Beliau tokoh penuh senyum yang penuh kelembutan, sabar tetapi memiliki sikap tegas, berwibawa,” kata Tarmizi yang kini aktif sebagai Ketua Umum DPP Dewan Masjid Indonesia. Pak Harto bagi Tarmizi juga seorang pemimpin yang mau mendengar dan menghargai pendapat orang.

”Pak Harto itu orangnya sangat cerdas tapi tidak menyombongkan dirinya paling pintar,” lanjut Tarmizi yang mengaku saat menjadi menteri selalu bicara terus terang kepada Pak Harto . “Sebagai orang Jawa beliau  sangat menjunjung tradisi dan budaya Jawa tapi beliau dapat mengerti dengan saya yang  orang Padang. Saya bicara ceplas-ceplos, beliau tetap senyum dan merespon positif kebijakan yang saya buat di Departemen Agama,” ujar Tarmizi lagi.

Tidak berbeda dengan Tarmizi, sosok Pak Harto juga demikian dipuji dan dihormati oleh Prof Dr Haryono Suyono MA. Lewat berbagai tulisannya yang dimuat sk MADINA, kita dapat  melihat dan merasakan siapa Pak Harto di mata Haryono. Lebih dari itu, boleh disebut Haryono Suyono merupakan seorang murid, bawahan dan sekaligus teman sejati Pak Harto dalam kondisi apapun. Haryono boleh disebut sebagai orang yang berani “pasang badan” tetap selalu dekat ketika Pak Harto mendapat hujatan yang demikian dahsyat saat baru lengser, 21 Mei 1998.

“Mengapa harus takut, saya biasa-biasa saja. Saya meyakini Pak Harto sudah benar dalam memimpin bangsa ini selama 32 tahun sesuai dengan zamannya. Jika ada kekurangan atau kelemahan beliau, saya anggap wajar dan itu yang harus kita benarkan sekarang ini. Kita lanjutkan apa yang telah Pak Harto bangun dan rintis. Kita perbaiki atau sempurnakan apa yang kurang. Indonesia `kan belum selesai, tugas kita, generasi sekarang dan mendatang untuk menyelesaikannya, mewujudkan visi, cita-cita, tujuan nasional yang diamanatkan founding fathers, bapak bangsa seperti Bung Karno dan Pak Harto,” kata Haryono, tatkala sempat berbincang dengannya.

Menjadi Legenda

Apa yang diungkapkan oleh Quraish Shihab, Tarmizi Taher, Haryono Suyono, begitu pula pernah diungkapkan oleh Subiakto Tjakrawerdaja, Fuad Bawazier, dan lain-lain tokoh yang dikenal loyal terhadap Pak Harto, pernyataan senada juga dinyatakan banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi masyarakat. Misalnya saja selebritis Renny Jayusman dan Marini yang ikut tahlilan di Cendana. Kedua artis ini juga memuji dan mengagumi Pak Harto.

Ramainya orang mendoakan Pak Harto dianggap keduanya sebagai hal wajar dan bukan sesuatu yang direkayasa, apalagi untuk maksud pamrih tertentu. Jasa-jasa Pak Harto dinilai sangat besar sehingga akan tetap dikenang dan sulit dilupakan sepanjang zaman. Bahkan menurut KRT Norman Sophan, seorang yang percaya dengan pandangan spiritual menyatakan, Pak Harto kini sudah masuk ke dalam katagori legenda. Maksudnya, Pak Harto akan selalu disebut-sebut dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara.

Bagi masyarakat bawah, legenda tentang Pak Harto akan sangat banyak. Nanti, ikon Pak Harto dapat menjadi semangat bagi anak petani yang bercita-cita tinggi. Bukankah masa kecil Pak Harto adalah seorang anak petani? ”Bahkan nanti tidak heran, kalau ada orang yang mau jadi pejabat, mau jadi penguasa yang berwibawa dan langgeng, dia nyekar dulu ke makam Pak Harto. Siap-siap aja, makam Pak Harto bakal dikeramatkan, seperti juga makam Bung Karno,” kata Norman.

Menurut Norman, berdasarkan percakapannya dengan banyak orang yang menekuni dunia spritualitas, pelegendaan tokoh Pak Harto banyak dipengaruhi oleh lokasi pemakamannya di Astana Giribangun, tempat banyak dimakamkan bangsawan Kerajaan Mataram. Pak Harto diyakini masih meninggalkan energi, kekuatan yang bila dapat diserap oleh seseorang akan dapat menjadikannya pemimpin yang berwibawa. Malahan ada yang menyebut, lanjutnya, Pak Harto dan juga Bung Karno, sebagai tokoh yang derajatnya sama dengan wali, sebagaimana para wali yang sembilan atau dikenal Walisongo.

Wali, lanjut Norman, jangan sekadar diartikan dalam konteks pemahaman keulamaan, ketinggian ilmu agama Islam. Untuk Walisongo boleh jadi demikian tapi dalam kaitan Pak Harto dan Bung Karno adalah wali dalam pengertian kekhalifan, kepemimpinan. “Dalam hal ini, Pak Harto dan Bung Karno melebihi Walisongo. Para wali itu `kan hanya memimpin pada satu daerah saja, seperti di kawasan Demak, Kudus, dan daerah tertentu lainnya. Bayangkan, Pak Harto dan Bung Karno, melingkupi Indonesia, sebuah Negara yang besar. Nanti dapat saja muncul istilah walinegara, nanti tokoh utamanya Pak Harto dan Bung Karno,” kata Norman, Sekjen DPP Pembela Merah Putih ini.

Rujukan Bangsa

Terlepas soal Pak Harto jadi tokoh legenda atau walinegara, tidaklah dapat dipungkiri jika ketokohan Pak Harto, Bung Karno, dan mantan presiden lainnya dijadikan sebagai referensi, rujukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, ketika kita menyorot masalah penyelenggaraan Negara, membincangkan gaya kepemimpinan maka akan selalu dikaitkan dengan sosok para pemimpin sebelumnya.

Saat orang mau menilai citra seorang Presiden, kinerja pemerintahan yang sedang berlangsung, kondisi kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara maka akan selalu dibandingkan dengan para pendahulunya. Jika penilaian itu memerlukan standar tinggi maka rujukan yang dipakai adalah nama Bung Karno dan Pak Harto. Apalagi terkait dengan masalah visi, tujuan mau dibawa ke mana bangsa dan Negara ini maka nama Bung Karno dan Pak Harto akan selalu disebut-sebut.

Lihat saja sekarang ini, ketika kita mau menilai kinerja Presiden SBY maka kaitannya apakah jauh lebih meningkat dibanding era Orde Baru pimpinan Pak Harto atau era sebelumnya di bawah pimpinan Bung Karno. Terlebih ketika menyorot sosok, sikap atau karakter kepemimpinannya, maka tolok ukurnya selalu dipakai sosok Bung Karno atau Pak Harto. Presiden itu seorang pemimpin yang lemah atau kuat akan dipertanyakan apakah sama, lebih atau malah melorot dibanding masa Bung Karno dan Pak Harto.

Menjadikan Pak Harto dan Bung Karno sebagai rujukan memang dapat dimaklumi mengingat keduanya memang sangat banyak berbuat bagi kehidupan bangsa dan Negara ini. Masa kepemimpinan Pak Harto yang demikian panjang membuat banyak orang, para sejarawan, memiliki banyak catatan tentang apa saja terhadap segala masalah kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara. Kebijakan yang diambil pemerintah sekarang, gaya kepemimpinan nasional yang ditunjukkan, akan disorot apakah setara atau lebih baik dengan kebijakan yang ditempuh Pak Harto atau Bung Karno.

Tampaknya pada setiap Negara, seperti Amerika Serikat yang berusia lebih dari 200 tahun, terdapat sejumlah presidennya yang menjadi tokoh legenda atau rujukan bagi Negara tersebut atau bahkan Negara-negara lain. Rujukan itu dapat kita lihat melalui berbagai tulisan yang ada. Misalnya sosok George Washington sebagai Presiden Pertama, kemudian Abraham Lincoln yang pidatonya terkenal  di Gettysburg, Theodore Roosevelt, Harry Truman, John Kennedy dan sebagainya.

Setiap kita membaca sejarah sosok Presiden AS itu, misalnya melalui situs Wikipidia, kita menangkap kesan bahwa bangsa Amerika Serikat sangat menghormati, menempatkan secara proporsional para presidennya, meski ada kelemahannya. Misalnya mantan Presiden Nixon yang menjabat 1969-1974, mengundurkan diri dari jabatannya karena skandal Watergate dan kasusnya ditutup oleh penggantinya Gerald R Ford sehingga dia tidak diadili di pengadilan.

Tentu saja sebagai Negara dan bangsa yang besar, Indonesia juga akan menempatkan para pahlawan, pemimpin, mantan presidennya pada posisi yang terhormat. Pak Harto dan Bung Karno juga dikenang, dijadikan rujukan, acuan, bukan saja oleh para presiden penerus tapi juga segenap rakyat Indonesia. Bung Karno dijadikan rujukan sebagai proklamator, peletak dasar-dasar Negara melalui konstutusi UUD 1945 dan ideology Negara Pancasila. Sementara Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan dikenang sebagai presiden yang berjuang mengisi kemerdekan, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan setia berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.

Penulis dosen Fikom UPDM(B) Jakarta

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: