Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

“Pak Harto, Saya Juga Mohon Maaf”

Oleh Usman Yatim/Edisi 170
ImagePara tokoh banyak bicara seputar ajakan agar rakyat dan pemerintah mau memaafkan Pak Harto. Upaya memaafkan Pak Harto itu antara lain dengan dalih kemanusiaan karena kondisi kesehatannya. Pak Harto juga dinyatakan layak diberi maaf karena beliau telah banyak berjasa kepada bangsa dan Negara ini.

Sepintas pernyataan ajakan untuk pemberian maaf buat Pak Harto itu wajar adanya. Apalagi ketika kata-kata itu terlontar seperti dari mulut tokoh reformis Amien Rais, seorang tokoh yang dikenal sangat kritis terhadap mantan Pak Harto.

Kita tahu, bagi pak Amien, termasuk yang sepaham, Pak Harto memang banyak kesalahannya selama memimpin bangsa dan Negara ini. Apalagi mereka-mereka yang secara langsung atau tidak, pernah disakiti atau mendapatkan “pil pahit” karena kebijakan pemerintahan Orde Baru, tentulah menyatakan bahwa Pak Harto banyak salahnya.

Lantas, berapa banyakkah orang-orang yang mengklaim Pak Harto bersalah, terutama dalam konteks kepemimpinannya selama 32 tahun? Jawabannya tentu tidak dapat dipastikan dan dapat saja menimbulkan pro kontra. Namun, yang jelas, sebanyak yang menyatakan bersalah, tentu akan sangat banyak pula menyatakan tidak bersalah.

Malahan menurut kaca mata hukum, seseorang yang belum diadili belum dapat dinyatakan bersalah. Kita tahu, Pak Harto sampai saat ini, belum sempat dan melihat kondisinya sulit untuk dapat diadili. Berarti, memakai bahasa hukum tersebut kita tidak atau belum dapat menyatakan Pak Harto bersalah.

Hal itulah agaknya, mengapa ada sejumlah orang yang meminta atau bahkan menuntut Pak Harto tetap diadili. Tujuannya tentu saja agar peryataan terbukti bersalah dapat dilakukan melalui jalur hukum. Pakar hukum Prof Dr Adnan Buyung Nasution, termasuk orang yang menginginkan Pak Harto harus diadili. Bagi Bang Buyung yang juga mengaku pernah mendapatkan “pil pahit” masa pemerintahan Orde Baru, Soeharto perlu diadili demi tegaknya Negara hukum.

Memang menarik mengikuti perbincangan seputar kata maaf,  meski suasana halal bi halal sudah berlalu. Jika kita kaitkan dengan makna silaturahim, kemudian kita tarik ke dalam pemahaman bahwa semua manusia pasti punya kesalahan, maka apakah wajar jika kita terlalu menonjolkan “Pak Harto perlu kita maafkan?” Bukankah saat lebaran, kita menyatakan saling maaf, bukan salah satu saja?

Rasa-rasanya kita terlalu arogan jika terus menerus menyatakan “kita perlu memaafkan Pak Harto.” Kesan yang ditangkap, hanya Pak Harto yang salah, sementara kita bebas dari kesalahan. Padahal, jika kita setuju bahwa yang maha benar dan  tidak punya salah hanyalah Tuhan, maka kita pun sangat mungkin punya salah terhadap Pak Harto.

Terlebih lagi sejak Pak Harto lengser dari jabatannya, berbagai hujatan, tudingan,  bahkan fitnahan banyak dilontarkan terhadap Pak Harto. Banyak kata-kata dan ungkapan tidak sedap atau yang tidak pantas dialamatkan kepada Pak Harto. Lebih lucu pula, mereka yang banyak menikmati “kueh pembangunan” masa Orde Baru, latah menghujat Pak Harto.

Hebatnya berbagai hujatan dan tudingan itu sama sekali tidak mendapat bantahan yang sepadan. Tampaknya Pak Harto memahami, euphoria reformasi tidak mungkin baginya untuk membela diri. Mungkin yang agak lumayan ada bantahan ketika beliau menggugat Majalah Time. Hal itupun karena tuduhan dari media asing tersebut dinilai keterlaluan.

Ulama dan ahli tafsir Al Qur`an, Prof Dr Quraish Shihab pernah menyatakan bahwa berbagai hujatan yang dialamatkan dan tidak direspon balik, malahan menguntungkan bagi Pak Harto. Maksud Prof Quraish, dari kacamata agama, dengan banyaknya hujatan dan tudingan itu, dosa-dosa Pak Harto malah “diambil” oleh si penghujat.

Kembali kepada soal kata maaf, tampaknya kita perlu juga tidak hanya mengedepankannya kepada Pak Harto. Ketika akal sehat kita mengemuka, menyadari bahwa salah itu adalah milik semua orang, kita pun layak juga meminta maaf kepada Pak Harto. Bukankah kita pun menyadari dan mengakui bahwa Pak Harto juga sangat banyak jasanya kepada bangsa dan Negara ini?

Ketika kita mengakui Pak Harto punya jasa, apakah sedikit atau banyak dan kita berterimakasih kepada beliau, permintaan maaf  dari kita kepada Pak Harto merupakan sesuatu yang harus kita sampaikan. Memberi maaf memang adalah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, namun meminta maaf adalah sesuatu yang sulit. Kitapun tahu, meminta maaf merupakan sesuatu yang mencerminkan kepribadian, karakter yang menunjukkan jiwa besar, kerendahan hati, dan bukti tidak memonopoli kebenaran.

Tentu saja, meminta maaf tak harus dinyatakan secara lisan. Apalagi terhadap Pak Harto yang kini kita sulit dapat berkomunikasi dengan beliau. Maaf terpenting bukan lewat kata tapi bagaimana pikiran dan hati yang terefleksikan lewat sikap dan perbuatan. Nah, maukah kita meminta maaf kepada Pak Harto? Maukah secara tulus kita sampaikan: “Mohon maaf Pak Harto, saya juga punya salah!”

Penulis adalah Dosen Fikom UPDM(B) Jakarta

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: