Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Pilih Mana: Tua atau Muda?

Oleh Drs Usman Yatim MPd
ImagePEMUDA, adalah agen perubahan. Persoalannya, dapatkah idiomatik itu terakomodasikan di Indonesia? Sebab, pekan belakangan ini tersiar atau terhembus wacana bahwa pemuda harus cepat tampil dalam kepemimpinan nasional. Karuan saja bersama itu pula dikotomi “muda” dan “tua” minta didevinisikan secara jelas dan tegas.

Sesungguhnya persoalan devinisi itu kian menguat belakangan ini, manakala ada sejumlah komponen masyarakat mengutak-atik faktor kepemimpinan. Sesungguhnya kita patut bertanya, lebih tajam dan kritis, apakah tokoh “tua” Indonesia tidak becus? Dan, apakah tokoh muda Indonesia untuk bangkit bangun Indonesia yang sejatera mampu mengimplementasikan langkah konkretnya?

Pertanyaan demikian juga memberikan daya refleksi yang dalam. Dengan begitu kita juga jadi leluasaa merefleksikan konstelasi politik kontemporer jelang Pemilu 2009 ini, yang mana satu kebiasaan adalah mengutak-atik faktor kepemimpinan. Pernah Tajuk suratkabar ini menegaskan bahwa kita tak mau terjebak dikotomi “muda” dan “tua” dalam soal tokoh kepemimpinan. Demikian pula dalam kesempatan ini premise tersebut kita tegaskan kembali.

Oleh karenanya kita suguhkan pengertian, begini: kepemimpinan memiliki dua unsur, yakni kapabilitas dan kekuatan politik. Dua unsur ini, harus kita pulangkan juga jadi kriteria yang seyogyanya dimiliki tokoh muda maupun tokoh tua. Karena siapa pun dia, jika cuma punya kapabilitas untuk memimpin, seperti popularitas untuk memimpin, seperti popularitas dan keahlian, namun tidak akan berarti apa-apa jika tidak punya kekuatan politik.

Hal yang tak terbantahkan pula dalam konstelasi perpolitikan kontemporer, adalah apa yang bernama sumber kekuatan politik itu terutama ada di parpol. Pertanyaannya jadi begini: mampukah tokoh muda “bersaing” dengan tokoh tua di hutan rimba parpol? Dan, relakah tokoh tua melonggarkan dominasi kendali guna membuka peluang terhadap aktualisasi dan relevansi visi tokoh muda?

Pastinya, kekuatan parpol (sekalipun ia kecil) justru terbentuk guna pencapaian kekuasaan. Ketika sudah berbicara faktor kekuasaan, sungguh sulit bisa berbagi. Yang tokoh tua mempertahankan esthablisment, yang tokoh muda mempertahakan ego dinamika.

Jadi?

Semua harus membuktikan siapakah yang mampu menjadi pemimpinan: apakah dari tokoh muda, ataukah dari tokoh tua?

Kita tunggu di Pemilu 2009, karena inilah “pertandingan” yang paling kita harapkan adil untuk melahirkan kepemimpinan nasional. Bersama ini, kita pun menginsyafi munculnya pemimpin baru hanyalah proses alamiah yang terjadi dalam dinamika kita.

Oleh karena itu kita harus cepat menegaskan bahwa buang energi-energi saja bila kita terus berkutat pada dikotomi muda dan tua. Kita ingin wacana faktor kepemimpinan adalah semacam gagasan “gerakan” bukanlah gerakan yang menghadapkan kaum tua dan kaum muda, tetapi justru gerakan yang hendak menyerap pikiran-pikiran baru yang dapat dikonsolidasikan untuk menghadapi tantangan besar di depan.

Sehingga kita tak butuh pilihan: tua atau muda? Kebutuhan pilihan macam itu cuma ada di tempat lokalisasi. Iya toh? ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: