Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Ramadhan dan Mudik

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageRAMADHAN belumlah masuk pada “babak” sepuluh hari pertama, tampaknya sudah banyak sejumlah masyarakat yang berbondong-bondong beli tiket, terutama sekali tiket kereta api, untuk mudik Lebaran. Sistem pelayanan pun, baik di bandara, pelabuhan, stasiun, maupun terminal, dengan begitu dipercanggih, walau di sana sini masih kita temukan gejala “kelagapan” tiap tahun menyongsong arus mudik.

Sepertinya tak peduli lagi bagi warga masyarakat kita meski Ramadhan baru masuk babak awal, gelegak mudik sudah membahana. Memang, khusus di Indonesia, Ramadhan diisi pula dengan tradisi mudik Lebaran. Lebaran, benar-benar asli dari kata bahasa Indonesia, jadi momen mudik betul-betul asli buatan Indonesia. Dalam keaslian momen ini pula mudik menjadi peristiwa yang khas, dan yang nyaris pula disakralkan.

Mudik juga semacam perjalanan para “pejuang” yang demikian membutuhkan mentalitas perjuangan. Perjuangan pertama, harus berani melawan oknum calo karcis angkutan, baik yang berseragam maupun yang preman. Dan perjuangan kedua, untuk dapat duduk di kursi sarana angkutan mudik, utamanya bis dan kereta api, harus “mati-matian” mendapatkannya.

Para pejuang, dalam pengertian perspektif sosiologis-ekonomis ini, mereka adalah para migran yang berjuang meningkatkan taraf kehidupannya pergi ke kota-kota besar. Sepanjang perjuangan mereka di kota-kota besar ini, ada momentum pause yakni tradisi spiritual kembali ke akar budaya masing-masing di kampung halaman: mudik.

Demi mudik pula walau di terminal maupun di stasiun (dan bahkan di Bandara)  demikian berdesak-desakan dan bahkan sampai “gencet-gencetan”, mereka tetap tempuh. Hebatnya, mereka tetap berwajah-wajah cerah. Mereka tidak pernah kapok-kapoknya bergencet-gencetan, meski acapkali pula tergencet-gencet. Jadi sangatlah wajar bila tiap tahun di “detik-detik” akhir babak Ramadhan, mereka membanjiri terminal, stasiun, maupun bandara untuk mudik –walau berhadapan dengan sejumlah konsekuensi risiko yang tersebutkan itu.

Mudik, apa bolah buat, jadi semacam sistem nilai budaya yang memegang monopoli sistem nilai kehidupan para migran atau perantau. Peristiwa mudik yang sesungguhnya punya dimensi sosial, justru dikait-kaitkan dengan dimensi transendental yaitu di bulan Ramadhan, maka mudik mau dikesankan sakral. Burukkah ini? Entahlah.

Berita pekan lalu ada orang lapor polisi yang pura-pura dirampok saat mudik, menandakan betapa mudik demikian penting. Bersama ini pula, mudik ke kampung halaman janganlah sampai sama dengan memperlihatkan kegagalan merantau. Haruslah diartikan mudik adalah memperlihatkan keberhasilan di rantau. Kendati saking kerenya, lantas betapa kemudian terkesan mentereng dan gaya, maka laporlah polisi bahwa dirampok saat hendak mudik. Tapi, ironisnya, justru polisi mampu membongkar bahwa itu cuma pura-pura dirampok.

Dalam pengertian perspektif sosiologis-ekonomis, dari kasus itu, kita dapat temui pengertian, betapa mudik butuh citra gengsi: Butuh secarik kertas dari kepolisian untuk menegaskan bahwa yang bersangkutan memang telah dirampok. Sesungguhnya bukanlah mustahil mudik memang (bisa) bergeser nilainya itu menjadi momentum pamer dan gengsi sepulang dari rantau. Pengertian semula mudik adalah untuk mengunjungi handai tolan, yang kemudian  disusul acara saling bermaaf-maafan, pun bergeser sistem nilainya.

Tidak sedikit para migran yang mudik sampai di kampung halamannya, pelan-pelan berubah diri, pamer-pamer keberhasilan di rantau. Atau, mengiming-imingi bahwa di rantau itu enak, mudah mendapatkan kekayaan. Dan banyak lagi sebab lainnya. Itulah mengapa tiap arus balik mudik Lebaran, jumlah para imigran itu kian bertambah. Kota-kota besar pun kian sesak. Bahkan Pemda DKI Jakarta demikian sering dan gamblang pasang spanduk di tempat-tempat strategis himbauan untuk para pemudik, yang bunyinya: Kembali ke kota jangan bawa sanak famili, Jakarta bukan kota penuh harapan. ***

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: