Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

SBY Seorang Pembaca

Oleh Drs Usman Yatim MPd

Image“A good leader is a reader, seorang pemimpin yang baik adalah seorang pembaca,” demikian kata-kata bijak yang banyak disetir dalam kaitan kepemimpinan. Kualitas seorang pemimpin banyak ditentukan oleh tingkat intelektualitas dirinya. Sementara indikator intelektualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan tingkat pendidikan tetapi juga dilihat dari kebiasaannya.

Nah, salah satu kebiasaan yang mencerminkan intelektualitas tersebut adalah kebiasaan dalam membaca. Mengapa seorang pemimpin disebut adalah seorang pembaca? Tampaknya hal ini bukan hanya untuk indikator intelektualitas tetapi juga berkaitan dengan karakter dan kepribadian. Seorang pemimpin yang pembaca sudah jelas menunjukkan sikap kesediaan terus belajar, terus mau menimba ilmu dan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Seorang pembacalah yang selalu siap bertumbuh dan berkembang.

Lebih dari itu, pemimpin yang pembaca adalah orang yang terus selalu mau membuka diri untuk terus berubah, memperpaiki diri atau prilakunya menuju kearah yang lebih baik. Seterusnya, dia juga seorang yang rendah hati, siap mendengar suara yang ada di luar dirinya. Seterusnya, sang pemimpin juga selalu siap untuk mawas diri atau instrospeksi dan lebih lanjut siap mau dikoreksi.

Kita sudah tahu, sifat naluriah manusia secara umum cenderung tidak mau mengaku atau disalahkan oleh orang lain secara langsung meski boleh jadi dia berprilaku salah. Terlebih terhadap orang-orang yang memiliki bobot tertentu, seperti halnya pemimpin. Serendah hati apa pun, seseorang biasanya cenderung mengabaikan jika dia dinyatakan bersalah secara langsung, apalagi terhadap seorang bersosok pemimpin.

Arogansi, disadari atau tidak, selalu menyertai setiap diri seseorang, termasuk pemimpin. Hal itulah mengapa banyak pemimpin seolah seperti tidak mau mendengar, tidak mau dipersalahkan, apalagi kalau dipojokkan. Hal ini, menurut banyak orang bijak, manusia pada dasarnya tidak suka dikritik. Boleh jadi dalam ucapannya dia menyatakan suka, siap atau terbuka terhadap kritikan tetapi nalurinya sesungguhnya tidak senang dikritik.

Hanya lewat bukulah sebenarnya kritik dapat diterima oleh setiap orang, termasuk sang pemimpin. Lewat buku-buku yang punya bobot pengembangan diri, seseorang dapat menilai dirinya dan sekaligus dia melakukan otokritik. Bukulah yang mampu atau efektif mengkritik kita tanpa kita merasa tersinggung oleh kritik yang diberikan.

Terlalu banyak orang menyebut tentang manfaat membaca buku. Tidak ada yang membantah bahwa kegemaran membaca buku itu sangat baik buat kita. Malahan ada yang menyebut bahwa membaca adalah ibarat kita menyantap makanan. Maksudnya, kalau makanan disantap untuk membuat fisik kita tetap sehat dan segar maka membaca buku adalah agar pikiran kita menjadi sehat dan segar. Bahkan ada yang menyebut, pikiran yang sehat dan segar jauh berlipat-lipat manfaatnya daripada fisik yang sehat dan segar.

Sungguh beruntung jika kita banyak memiliki pemimpin yang juga seorang pembaca. Tentu saja yang dibaca adalah buku-buku berbobot, punya nilai positif. Apalagi kalau buku-buku tersebut, berkait dengan pengembangan diri sang pemimpin. Lewat buku-buku tersebut, sang pemimpin dapat menjadikannya sebagai cermin untuk menilai dan mengontrol diri, sekaligus melakukan setiap saat melakukan otokritik terhadap dirinya sendiri.

Banyakkah para pemimpin kita gandrung membaca buku? Jika banyak yang hobi membaca buku, adakah buku-buku itu juga banyak yang terkait dengan pengembangan diri, buku yang mampu mengubah atau memperbaiki prilakunya? Tampaknya cukup sulit juga kita mencari tahu pemimpin yang gemar membaca buku.

Presiden SBY Seorang Pembaca

Alhamdulillah, ternyata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah salah seorang yang gemar membaca buku. Pernyataan suka membaca ini tidak diucapkan langsung oleh Presiden SBY. Kita mengetahui bahwa SBY adalah seorang pembaca, ketika beliau bersama Ibu Negara beserta Wakil Presiden M.Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah JK, hari Senin (15/9) petang di Istana Negara berbuka puasa bersama para pimpinan lembaga negara, Ketua MK, para Menteri KIB, duta besar negara-negara Islam, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Wantimpres, Panglima TNI, Kapolri, pemimpin redaksi media cetak dan elektronik, serta tokoh masyarakat.

Dalam acara yang juga dihadiri Ketua MPR-RI Hidayat Nurwahid dan Ketua DPR-RI Agung Laksono itu, Presiden SBY dalam sambutannya sebelum berbuka puasa antara lain bercerita bahwa di tengah-tengah menjalankan ibadah puasa ada dua judul buku yang tengah dia baca.

”Ada dua bacaan saya minggu ini. Pertama buku yang ditulis oleh Harun Yahya, seorang penulis, cendikiawan muslim yang tersohor berkebangsaan Turki. Karyanya ada puluhan dan telah diterjemahkan lebih dari 15 bahasa di dunia, dan menjadi rujukan komunitas Islam bahkan komunitas non Islam di seluruh dunia. Buku yang saya baca berjudul Melihat Kebaikan Dalam Segala Hal,” kata SBY yang mengenakan baju koko putih dipadu kopiah hitam.

”Di sini memang orang yang beriman dan orang yang kualitas moralnya makin tinggi, melihat segala hal dan peristiwa itu dari sisi kebaikan. Kita sering mendengar di balik musibah ada berkah, setiap persoalan pasti ada solusinya , dan lain-lain. Harun Yahya mengupas secara detail, dan bagus dibaca dalam bulan suci Ramadhan ini untuk sarana refleksi , bertafakur sambil menyempurnakan keimanan dan kepribadian kita ,” ucap SBY.

”Buku kedua yang saya baca adalah menjadikan puasa lebih bermakna, ditulis oleh cendekiawan muslim dari Saudi Arabia. Artikel yang saya senangi adalah di bulan Ramadhan ini kita dianjurkan untuk berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dan juga berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT,” ujar SBY lagi.

Membaca dua buku dalam seminggu dan itu dilakukan oleh seorang Presiden yang memiliki banyak kesibukan tentu saja hanya dapat dilakukan oleh seorang yang benar-benar gemar membaca. Alasan sibuk, banyak menjadi alasan bagi orang-orang yang tidak suka membaca, apalagi pemimpin yang memang benar-benar memiliki banyak kesibukan.

Tampaknya Presiden SBY tidak menjadikan alasan sibuk untuk tidak terus membaca. Beliau tentu saja, lewat buku-buku yang dia baca banyak tahu dan menyetujui bahwa “seorang pemimpin adalah seorang pembaca.” Sangat boleh jadi, kualitas dan integritas dirinya sebagaimana  sekarang ini banyak dipengaruhi dari kegemarannya membaca. Jadi tidaklah aneh, setiap dia berkunjug ke luar negeri, dia selalu singgah ke toko buku untuk membeli buku-buku baru sebagai “santapan” pikirannya.

Kita berharap, apa yang menjadi kegemaran Presiden SBY tersebut juga banyak dilakukan oleh para pemimpin dalam segala tingkatan dan bidang. Hanya orang-orang yang gemar membacalah kita dapat berharap memiliki pemimpin yang benar-benar pemimpin, pemimpin yang baik dan berkualitas.  Bahkan kebiasaan Presiden SBY tersebut dapat menjadi teladan terbaik bagi banyak orang, segenap rakyat Indonesia.

Ketika kita banyak dililit masalah, rakyat banyak hidup dalam kemiskinan dan kebodohan, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah lewat gerakan gemar membaca. Kini momen gerakan gemar membaca ini harus dapat gencar digelorakan. Depdiknas bersama segenap lembaga pendidikan yang ada dapat menjadi motor penggeraknya. Terlebih kini dengan adanya anggaran pendidikan 20% dari APBN, indikator keberhasilan penggunaannya dapat dilihat dari prosentase tingkat kegemaran membaca.

Kita kini menantikan berbagai upaya Depdiknas dalam menggelorakan gemar membaca. Kita menantikan bagaimana buku-buku banyak beredar, mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Kita juga ingin tahu, bagaimana orang tua tidak lagi mengeluhkan mahalnya buku-buku pelajaran di sekolah. Kita berharap tidak lagi mendengar, para guru menjadikan buku-buku pelajaran sebagai obyekan sebagaimana banyak dituding para orangtua murid. Sekali lagi, mari kita ikuti kebiasaan Kepala Negara kita dalam kegemarannya membaca buku.

Penulis adalah dosen Fikom UPDM(B) dan Pemred Sk MADINA.

Januari 9, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: