Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Damandiri dan Posdaya

Oleh Drs.H.Usman Yatim, MPd

ImageYayasan Damandiri pada awal Desember ini mengadakan Rapat Kerja dengan mitra kerjanya. Salah satu dari program kerja yang akan dikembangkan tahun depan adalah, apa yang disebut dengan API (Advokasi, Pemberdayaan dan Inisiasi), untuk penyegaran dan pengembangan delapan fungsi keluarga, yang secara global mempunyai inti pengembangan mutu manusia. Lewat API ini, Yayasan Damandiri mengajak rekan mitranya untuk lebih serius membantu pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Sebagaimana pernah dikatakan Prof Dr Haryono Suyono,  sejak didirikan pada 15 Januari 1996, Yayasan Damandiri teguh melaksanakan visi dan misinya membangun sumber daya manusia, manusia Indonesia seutuhnya, melalui proses pemberdayaan yang tuntas dan berkelanjutan. Upaya ini dilakukan secara bertahap dengan mengembangkan jaringan yang sangat luas dan berkesinambungan.

Pada tingkat pusat, Yayasan Damandiri bekerja sama dengan pemerintah khususnya dengan Departemen dan Instansi terkait, antara lain Departemen Pendidikan Nasional, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Kementerian Perumahan Rakyat serta Kementerian Koordinator bidang Kesra.

Selain itu itu, Yayasan Damandiri juga bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, TVRI Pusat dan Daerah, serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat seperti Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), DNIKS, Hipprada, dan banyak lembaga sosial lainnya. Sementara di daerah, Yayasan Damandiri bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, lembaga keuangan, termasuk Bank Pembangunan Daerah dan lainnya, baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan swasta serta lembaga/organisasi masyarakat.

Salah satu dari bentuk API untuk rakyat tersebut, Yayasan Damandiri terus melakukan pemberdayaan masyarakat dengan berbasiskan keluarga melalui gerakan Posdaya. Melalui gerakan ini, Yayasan Damandiri mengajak semua mitra kerja dan instansi atau lembaga terkait untuk mengembangkan upaya pemberdayaan yang bermutu dan berkelanjutan sehingga pembangunan keluarga dan penduduk Indonesia yang melimpah ini bisa dilakukan secara demokratis dan bermutu oleh setiap keluarga.

Prof Dr Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, memang serius menggalakkan Posdaya. Seolah tiada hari tanpa aktifitas Posdaya, itulah slogan yang kini tengah menjadi komitmen bagi Yayasan Damandiri dan segenap mitranya. Habis dari kegiatan rapat kerja di Bandung itu, Haryono langsung mengadakan pertemuan dengan segenap pimpinan daerah, apakah gubernur, bupati atau walikota yang juga antusias melakukan pemberdayaan keluarga melalui Posdaya. Misalnya, Haryono berkunjung ke  Bappeda Jawa Barat di Bandung, kemudian ke Metro Lampung, dan seterusnya ke Semarang. Haryono terus menyelusuri pelosok Tanah Air bertemu dengan para pejabat pemda serta masyarakat luas dalam rangka menawarkan API melalui gerakan Posdaya.

Posdaya dan Pengentasan Kemiskinan

Masa Orde Baru, kita sangat akrab dengan istilah Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), komunitas kegiatan masyarakat yang terkait masalah kesehatan dan keluarga berencana. Jika masyarakat, terutama di pedesaan atau di perkampungan, berfikir tentang pelayanan kesehatan dan keluarga berencana yang mudah dijangkau dan murah, maka selalu akan ingat dengan Posyandu. Namun, seiring dengan masuknya kita ke era reformasi, istilah Posyandu tidak lagi nyaring terdengar. Padahal Posyandu masih dibutuhkan masyarakat luas, terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan keluarga.

Boleh jadi, karena ingin tetap menggelorakan semangat Posyandu dan disesuaikan dengan kebutuhan masa kini yang kian beragam, membuat Prof Dr Haryono Suyono MA, mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mantan Menteri Kependudukan dan mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat – Pengentasan Kemiskinan, kini menggulirkan program Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Prof Haryono termasuk  pejabat negara kala itu yang mendorong agar Posyandu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan, keluarga berencana, dan bahkan bagian dari peningkatan kesejahteraan keluarga.

Melihat sukses Posyandu masa Orde Baru, kini Prof Haryono bersama Yayasan Damandiri yang beliau pimpin, mendirikan dan mengembangkan Posdaya. Tentu saja Posdaya tidak lagi sama dengan Posyandu. Posdaya mungkin tetap mengambil semangat  Posyandu yang  juga sangat mendapat perhatian serius dari Presiden Soeharto kala itu. Namun, Posdaya lebih diarahkan pada upaya pengembangan  program pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan keluarga.

Yayasan Damandiri yang didirikan oleh mantan Presiden Soeharto dan kini diketuai oleh Haryono Suyono, melalui Posdaya terus menerus menggerakkan kepedulian dan kebersamaan masyarakat untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan dan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Yayasan Damandiri bermitra dengan berbagai lembaga dan kelompok masyarakat berupaya mewujudkan tingkat kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat dari keluarga-keluarga prasejahtera, sejahtera atau keluarga kurang mampu.

Yayasan Damandiri membidik keluarga sebagai sasaran aktifitasnya. Posdaya merupakan wahana pemberdayaan 8 fungsi keluarga secara terpadu, utamanya fungsi agama atau ketuhanan yang maha esa, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi dan kesehatan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi atau wirausaha dan fungsi lingkungan. Kita di sini dapat melihat, betapa program Posdaya berupaya menyentuh semua aspek kehidupan keluarga, tidak hanya masalah kesehatan dan keluarga berencana.

Posdaya adalah sebuah gerakan dengan ciri khas “bottom up program”, yang mengusung kemandirian, dan pemanfaatan sumberdaya serta potensi lokal sebagai sumber segala solusi.  Posdaya dikembangkan sebagai salah satu sarana meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang hanya bisa diharapkan melalui penguatan fungsi keluarga secara terpadu. Kini Posdaya terus menjangkau berbagai pelosok desa di Tanahair. Banyak bupati atau walikota kini ramai-ramai mendorong anggota masyarakatnya untuk mendirikan dan mengembangkan Posdaya. Posdaya dapat dikembangkan di mana-mana, bahkan juga dalam lingkungan komunitas masjid.

Menurut Haryono Suyono, upaya pemberdayaan masyarakat tersebut harus lebih diarahkan untuk mendukung penyegaran fungsi-fungsi keluarga, mulai dari sisi keagamaan, budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi dan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Pemenuhan fungsi-fungsi tersebut pada hakikatnya bermuara pada pemenuhan tujuan dan sasaran pembangunan masyarakat yang ditetapkan sebagai program pembangunan di Indonesia dalam abad milenium ini. Program ini untuk membangun penduduk melalui pemberdayaan keluarga dengan merangsang pembentukan forum silaturahmi, komunikasi, advokasi, penerangan dan pendidikan hingga ke tingkat pedesaan.

Tujuan posdaya untuk menyegarkan modal sosial, seperti hidup bergotong-royong dalam masyarakat guna membantu pemberdayaan keluarga secara terpadu dan membangun keluarga bahagia dan sejahtera. Selain itu, posdaya juga ikut memelihara lembaga sosial kemasyarakatan yang terkecil, yaitu keluarga, agar dapat menjadi perekat sehingga tercipta kehidupan yang rukun, damai, dan memiliki dinamika yang tinggi. Bahkan program posdaya itu diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada setiap keluarga untuk memberi atau menerima pembaharuan yang dapat dipergunakan dalam proses pembangunan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

“Pembentukan dan pengembangan posdaya dapat dilakukan oleh anggota atau organisasi masyarakat seperti PKK, organisasi sosial dan keagamaan seperti pengurus masjid, panti asuhan, lembaga lain atau perorangan. Bahkan, posdaya dapat dikembangkan oleh pemda dan seluruh aparatnya di tingkat kecamatan, desa/ kelurahan, RW/RT sehingga merupakan perluasan program pos pelayanan terpadu (posyandu) yang telah ada, namun cakupan keanggotaan keluarganya lebih luas dan bidang pelayanan juga lebih banyak,” kata Haryono, mantan Menko Kesra ini.

Apa yang dikemukakan Haryono Suyono dalam berbagai kesempatan tersebut dapat ditangkap maksudnya bahwa kita semua dapat berbuat banyak melakukan tindakan kepahlawanan lewat kiprah pembangunan keluarga. Dalam era reformasi dan globalisasi saat ini, kita dalam kiprah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tidak perlu repot apalagi khawatir tidak mendapatkan tempat dalam medan pengabdian guna menunjukkan sosok kepahlawanan kita. Justru bagi masyarakat luas, berjuanglah untuk menjadi pahlawan lewat upaya pengabdian pemberdayaan keluarga. Dalam konteks kemasyarakatan, Posdaya dapat jadi lahan pengabdian untuk melakukan tindakan kepahlawanan bagi kita semua, tanpa memandang latar belakang usia, suku, etnis, agama dan pekerjaan.

Patut disyukuri ternyata keberadaan Posdaya disambut hangat banyak pihak, baik dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, termasuk media massa yang peduli masalah pengentasan kemiskinan. Sejumlah menteri, gubernur, bupati, walikota, camat, lurah atau kepala desa, kini banyak memanfaatkan kehadiran Posdaya dan memasukkannya sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat dan keluarga. Ormas semacam Dewan Masjid Indonesia yang dipimpin Dr KH Tarmizi Taher (mantan Menteri Agama), misalnya, ikut menggalakkan Posdaya dalam lingkungan masjid. Prof Haryono sendiri kini terlihat sibuk mengunjungi sejumlah daerah karena diundang untuk menggalakkan dan sekaligus melihat langsung, serta menstimulan aktifitas Posdaya.

Melihat dari maksud dan tujuan, serta kiprah yang telah ditunjukkan dari kegiatan Posdaya ini, patutlah kiranya kita memberi dukungan, bukan saja lewat ucapan tetapi juga ikut dari bagian menggalakkan gerakan Posdaya di lingkungan kita. Selagi masalah kemiskinan masih menimpa banyak kehidupan masyarakat kita, selagi masalah kesejahteraan keluarga menjadi kepedulian kita, Posdaya perlu terus kita sosialisasikan.

Semua pihak yang peduli masalah pengentasan kemiskinan, pemberdayaan kehidupan keluarga, patut ikut mendukung dan mendorong gerakan Posdaya ke seluruh pelosok Tanah Air. Semoga Yayasan Damandiri bersama Pak Haryono dan segenap jajarannya dapat terus berkiprah, bukan saja lewat Posdaya tapi juga program lainnya. Semoga Sukses!

Januari 10, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

1 Komentar »

  1. saya selaku salah satu pelaku pengembangan masyarakat didaerah jawa timur sanggat SALUT dengan Program Posdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Yayasan Damandiri.
    Namun berdasarkan sedikit pengalaman lapang saya salama ini pada intinya masyarakat kita mempunyai kemauan dan kemampuan untuk berkembang dan peduli hanya saja mereka sanggat lemah dari sisi SDM dan ketergantungan terhadap dana sanggat tinggi.

    dikesmpatan yang berbahagia ini saya ingin menyakan lebih jauh mengenai konsep Program Posdaya (gools program ) dan apa yang bisa saya lakukan untuk lebih meningkatkan kepedulian dan kebersamaan masyarakat ( khususnya dibeberapa dampingan saya, saat ini saya sedang inten mengembangkan 4 desa binaan saya )jujur saja benturan atau kendala yang sanggat memberatkan dimasyarakat adalah terkait dengan pendanaan untuk pengembangan SDM dan aplikasi dari kegiatan atau hasil kajian kondisi masyarakat ( yg telah dilakukan secara partisipatif )!!!

    Semoga Damandiri bisa memberikan sumbangsihnya kepada saya dan masyarakat dampingan saya.

    salam kenal bagi kawan-kawan pejuang pemebrdayaan masyarakat, smoga lebih sukses kedepan

    Komentar oleh Krisna | Oktober 14, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: