Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Pahlawan dan Posdaya

Oleh Drs Usman Yatim MPd
ImageMasihkah banyak di antara kita yang menangkap makna Hari Pahlawan? Apakah kita kini segenap bangsa Indonesia masih ingat untuk ikut menundukkan kepala sejenak guna mengenang jasa-jasa para pahlawan kita yang telah gugur di medan perjuangan? Makna apakah yang dapat kita tangkap dari memperingati Hari Pahlawan? Apa makna pahlawan bagi kita sekarang ini? Dapatkah kita mengaktualkan Hari Pahlawan yang dapat kita gunakan dalam kehidupan kita saat ini?
Sejumlah pertanyaan patut kita layangkan sehubungan dengan peringatan Hari Pahlawan. Sebagaimana kita ketahui,  kita kini kembali memperingati Hari Pahlawan, mengenang perjuangan berdarah-darah yang terjadi di Surabaya, 10 Nopember 1945. Hari Pahlawan sudah jelas muncul sebagai rentetan perjuangan panjang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Para penjajah ternyata tidak rela membiarkan bangsa Indonesia mereguk kebebasannya. Mereka tetap ingin mengendalikan kehidupan kita yang telah mereka lakukan cukup lama di bumi pertiwi ini.

Tampaknya tidak banyak di antara kita yang begitu peduli dengan Hari Pahlawan. Kegiatan menyambut Hari Pahlawan tidak begitu semarak seperti peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda dan apalagi sebagaimana peringatan Hari Kemerdekaan. Hal ini boleh jadi karena waktunya yang berdekatan dengan 17 Agustus dan 28 Oktober sehingga ada kejenuhan untuk terus menerus membuat acara peringatan. Apalagi kita kini memang mulai cenderung mengabaikan berbagai kegiatan dalam bentuk serimonial.

Namun, bagaimanapun Hari Pahlawan tidak dapat kita biarkan berlalu begitu saja. Dilihat dari katanya saja – pahlawan – kita patut tergerak  atau bahkan tersentak dalam hati untuk mencari tahu tentang maknanya. Kata pahlawan bukan sekadar sebuah hari yang diperingati setiap tanggal 10 Nopember. Menyebut kata pahlawan tidak berarti kita hanya mengenang peristiwa yang terjadi pada 63 tahun lalu. Hari Pahlawan sesungguhnya bukan sekadar hari-hari bersejarah yang dapat begitu saja kita lalui atau lupakan karena rutinitas kehidupan keseharian kita.

Jika kita menangkap makna Hari Pahlawan maka boleh jadi maknanya tidak kalah penting dibanding Harkitnas, Hari Kemerdekaan, Hari Sumpah Pemuda, dan hari-hari nasional yang banyak kita peringati. Jika menelusuri catatan sejarahnya, kita mengetahui antara satu peristiwa dengan satu peristiwa lainnya memang terkait meski memiliki rentang waktu cukup panjang. Khusus Hari Pahlawan malahan sangat dekat dengan Hari Kemerdekaan, hanya dalam hitungan bulan dan bahkan kurang dari 100 hari. Boleh disebut, Hari Pahlawan 10 Nopember bagian tidak terpisahkan dari Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Pahlawan dan Kemerdekaan

Andai kita cukup melihat makna kata pahlawan dan kata kemerdekaan, sudah jelas dua kosa kata ini sangat saling terkait dan sangat memiliki relevansi untuk kita ulas guna kita petik hikmahnya untuk kehidupan kita saat ini. Kata kemerdekaan, misalnya, apakah yang dapat kita tangkap maknanya saat ini? Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah jelas maknanya terkait dengan berbagai upaya yang kita lakukan untuk tetap berjuang mengisi kemerdekaan demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara dalam kehidupan keseharian kita, terutama bagi rakyat banyak, makna kemerdekaan boleh jadi menyangkut tentang perjuangan meningkatkan kesejahteraan, melepaskan diri dari kungkungan kesulitan ekonomi, memerangi kemiskinan dan kebodohan. Bila dilihat dari kondisi kehidupan sosial dan ekonomi, tidak sedikit di antara kita masih merasa belum berada dalam alam kemerdekaan. Belum lagi bila dilihat dari perjuangan memberantas korupsi, penegakan hukum dan upaya meraih keadilan, kita semua masih merasa harus terus berbuat banyak untuk hal ini.

Nah tak pelak lagi, selagi perjuangan masih harus kita lakukan, kata pahlawan harus selalu ada dalam diri setiap kita. Pahlawan adalah orang terdepan yang siap berjuang untuk memenangkan segala pertempuran atau peperangan. Mereka adalah orang yang berjuang, mau berkorban, siap menghadapi segala masalah, rintangan dan tantangan  untuk mencapai cita-cita atau suatu tujuan. Pahlawan adalah orang-orang yang mengedepankan tanggungjawab demi untuk kepentingan orang lain. Kita kini memang tidak lagi bertempur atau berperang dalam bentuk fisik seperti masa awal kemerdekaan 1945 tetapi bentuknya dapat berupa berfikir dan kerja keras dalam berbagai medan perjuangan kehidupan. Secara fisik memang berbeda tetapi dalam hal semangat boleh jadi sama dan masing-masing tidak kalah serunya.

Tindakan dan semangat kepahlawanan pada dasarnya memiliki makna yang sama dilihat dari ruang dan waktu. Diperlukan semangat juang dan tingkat pengorbanan yang tinggi agar kita layak disebut pahlawan. Dalam kata lain, pahlawan sesungguhnya ada pada diri setiap kita jika memang kita kehendaki. Memang, kita semua tidak akan menjadi pahlawan sebagaimana para pahlawan bangsa yang kita peringati pada setiap tanggal 10 Nopember. Namun, kita dapat jadi pahlawan masa kini di mana kita mengabdikan diri kita. Terserah, di mana ruang lingkup kepahlawanan yang ingin kita tunjukkan.

Pahlawan sudah jelas adalah orang yang dapat dibanggakan, dihormati dan sudah pasti dikenang. Pahlawan adalah orang-orang yang layak diteladani, dapat diikuti jejak langkahnya. Pahlawan tidak selalu berada dalam lingkup atau skala besar. Kita dapat jadi pahlawan, kapan dan di mana saja. Malahan juga untuk menjadi pahlawan masa kini, kita tidak perlu terlebih dahulu harus gugur atau tewas di medan juang. Kita dapat melihat dan merasakan tindakan kepahlawanan kita saat ini, termasuk untuk menikmati dan mensyukuri hasil-hasilnya. Bahkan, tindakan dan semangat kepahlawanan dapat juga untuk pribadi kita sendiri, malah boleh jadi kita sendiri dululah yang menyadari apakah sudah menjadi pahlawan atau tidak.Bukankah hati nurani kita lebih jujur dan tidak dapat kita bohongi?

Kita memang dapat melihat nilai-nilai kepahlawanan pada diri orang lain, apalagi terhadap tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Mereka sudah kita lihat sepak terjang dan buah karyanya, bahkan di antaranya harus mengorbankan harta dan nyawa. Namun saat ini, ketika kita tidak lagi harus berdarah-darah, tindakan kepahlawanan terkadang tidak selalu harus terlihat oleh banyak orang. Bahkan boleh jadi, tindakan kepahlawanan tidak harus mendapat pujian dan sanjungan orang ramai. Kepahlawanan mungkin hanya diketahui dalam lingkup kecil, misalnya hanya dalam kehidupan keluarga.

Justru, pahlawan yang sejati adalah pahlawan yang diakui oleh segenap anggota keluarga. Tidaklah seseorang menjadi pahlawan sejati manakala hal itu tidak diakui oleh anggota keluarganya, seperti anak dan istri atau suami. Bahkan untuk saat ini, sebelum kita menjadi pahlawan bagi masyarakat, bangsa dan negara, menjadilah dulu pahlawan dalam kehidupan keluarga. Lewat kehidupan keluarga, kita belajar memulai berbuat tindakan kepahlawanan.  Kesuksesan kita membangun kehidupan keluarga merupakan titik awal dalam upaya ikut mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Pahlawan dan Posdaya

Tampaknya hal inilah mengapa Yayasan Damandiri yang didirikan oleh mantan Presiden RI Soeharto dan kini diketuai oleh Prof Dr Haryono Suyono MA demikian seriusnya mengembangkan program pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan keluarga. Yayasan ini terus menerus menggerakkan kepedulian dan kebersamaan masyarakat untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan dan pengetasan kemiskinan di Indonesia. Yayasan Damandiri bermitra dengan berbagai lembaga dan kelompok masyarakat berupaya mewujudkan tingkat kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat dari keluarga-keluarga prasejahtera, sejahtera atau keluarga kurang mampu.

Yayasan Damandiri membidik keluarga sebagai sasaran aktifitasnya. Yayasan ini secara khusus kini sedang menggalakkan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Posdaya merupakan wahana pemberdayaan 8 fungsi keluarga secara terpadu, utamanya fungsi agama atau ketuhanan yang maha esa, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi dan kesehatan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi atau wirausaha dan fungsi lingkungan.

Posdaya adalah sebuah gerakan dengan ciri khas “bottom up program”, yang mengusung kemandirian, dan pemanfaatan sumberdaya serta potensi lokal sebagai sumber segala solusi.  Posdaya dikembangkan sebagai salah satu sarana meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang hanya bisa diharapkan melalui penguatan fungsi keluarga secara terpadu. Kini Posdaya terus menjangkau berbagai pelosok desa di Tanahair. Banyak bupati atau walikota kini ramai-ramai mendorong anggota masyarakatnya untuk mendirikan dan mengembangkan Posdaya. Posdaya dapat dikembangkan di mana-mana, bahkan juga dalam lingkungan komunitas masjid.

Menurut Haryono Suyono, upaya pemberdayaan masyarakat tersebut harus lebih diarahkan untuk mendukung penyegaran fungsi-fungsi keluarga, mulai dari sisi keagamaan, budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi dan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Pemenuhan fungsi-fungsi tersebut pada hakikatnya bermuara pada pemenuhan tujuan dan sasaran pembangunan masyarakat yang ditetapkan sebagai program pembangunan di Indonesia dalam abad milenium ini. Program ini untuk membangun penduduk melalui pemberdayaan keluarga dengan merangsang pembentukan forum silaturahmi, komunikasi, advokasi, penerangan dan pendidikan hingga ke tingkat pedesaan.

Tujuan posdaya untuk menyegarkan modal sosial, seperti hidup bergotong-royong dalam masyarakat guna membantu pemberdayaan keluarga secara terpadu dan membangun keluarga bahagia dan sejahtera. Selain itu, posdaya juga ikut memelihara lembaga sosial kemasyarakatan yang terkecil, yaitu keluarga, agar dapat menjadi perekat sehingga tercipta kehidupan yang rukun, damai, dan memiliki dinamika yang tinggi. Bahkan program posdaya itu diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada setiap keluarga untuk memberi atau menerima pembaharuan yang dapat dipergunakan dalam proses pembangunan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

“Pembentukan dan pengembangan posdaya dapat dilakukan oleh anggota atau organisasi masyarakat seperti PKK, organisasi sosial dan keagamaan seperti pengurus masjid, panti asuhan, lembaga lain atau perorangan. Bahkan, posdaya dapat dikembangkan oleh pemda dan seluruh aparatnya di tingkat kecamatan, desa/ kelurahan, RW/RT sehingga merupakan perluasan program pos pelayanan terpadu (posyandu) yang telah ada, namun cakupan keanggotaan keluarganya lebih luas dan bidang pelayanan juga lebih banyak,” kata Haryono, mantan Menko Kesra ini.

Apa yang dikemukakan Haryono Suyono dalam berbagai kesempatan tersebut dapat ditangkap maksudnya bahwa kita semua dapat berbuat banyak melakukan tindakan kepahlawanan lewat kiprah pembangunan keluarga. Dalam era reformasi dan globalisasi saat ini, kita dalam kiprah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tidak perlu repot apalagi khawatir tidak mendapatkan tempat dalam medan pengabdian guna menunjukkan sosok kepahlawanan kita. Justru bagi masyarakat luas, berjuanglah untuk menjadi pahlawan lewat upaya pengabdian pemberdayaan keluarga. Dalam konteks kemasyarakatan, Posdaya dapat jadi lahan pengabdian untuk melakukan tindakan kepahlawanan bagi kita semua, tanpa memandang latar belakang usia, suku, etnis, agama dan pekerjaan.

Keluarga jangan dipandang sebagai satu lingkup kecil yang tak bermakna dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Justru pada keluargalah inti atau pusat dari gerakan masyarakat, bangsa dan negara. Bahkan dalam konstitusi kita, Undang-undang Dasar 1945, terutama yang belum diamandemen, masyarakat, bangsa dan negara, tidak lain juga dipandang sebagai keluarga, dalam arti keluarga besar. Nilai-nilai dalam keluargalah memiliki daya rekat, semangat kebersamaan dan sikap saling membantu, mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan diri sendiri. Pada hakikatnya, orang berani berjuang, mengorbankan apapun, bertanggungjawab dan pantang menyerah, adalah demi untuk kehidupan keluarga yang harmonis, makmur dan sejahtera.

Tampaknya hal inilah yang patut dikedepankan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Jadi, Hari Pahlawan memang tidak perlu diperingati lewat serimonial, acara-acara yang bersifat jor-joran. Hari Pahlawan lebih kita lihat sebagai sebuah aktifitas perenungan, pengheningan cipta, untuk kita dapat menyelami hakikat kepahlawanan yang bukan saja terhadap pahlawan kemerdekaan masa lalu tetapi juga pahlawan masa kini, pahlawan keluarga. Kinilah, ketika kita mengenang pahlawan kusuma bangsa, kita ingat apakah kita juga sudah berupaya menjadi pahlawan, setidaknya buat diri kita pribadi, lingkungan kehidupan keluarga dan sekitar kita. Selamat Hari Pahlawan!

Penulis adalah dosen Fikom UPDM(B) Jakarta.

Januari 10, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: