Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Perjuangan Laskar Pelangi

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageAdlia Atika  Rahman sukses berjuang untuk menyaksikan film Laskar Pelangi. Demi Atika, putri bungsu saya, kami berdua nonton film ini di bioskop Atrium Senen, Jakarta Pusat, Senin, 13 Oktober 2008. Ada tiga hari berturut-turut kami harus memantau jam tayang film ini di sejumlah bioskop gara-gara tiket terjual habis untuk dua pertunjukan berikutnya. Untuk nonton film kali inipun, kami harus menunggu sekitar 4 jam, suatu pengalaman yang belum pernah kami alami.

“Akhirnya jadi juga ya pa kita nonton Laskar Pelangi,” kata Atika dengan wajah penuh keceriaan. Atika memang penuh perjuangan untuk dapat menonton film ini. “Papa, Presiden SBY aja nonton film Laskar Pelangi, masak kita tidak?” ucap Atika, meyakinkan saya agar mau menemani dia. Atika yang baru lulus SD dan kini sekolah di SMP Muhammadiyah 22 Pamulang, kian ngotot nonton Laskar Pelangi karena kakaknya, Meka Medina Rahman, sudah lebih dulu nonton bersama teman-teman sekolahnya.

“Filmnya bagus, sangat mengharukan, Meka akan bertekad sekolah,” kata Meka, siswa kelas 12, Mahad Al Zaytun, Indramayu ini. Atika merasa tidak mau ketinggalan dari kakaknya. Belum lagi, teman-temannya di sekolah ketika menjelang libur Lebaran, juga sudah menyatakan akan menonton Laskar Pelangi. Rasa tidak mau kalah dan promosi dari mulut ke mulut tentang film dan buku yang ditulis oleh Andrea Hirata ini merupakan magnit yang menggiring orang untuk ramai-ramai memadati bioskop setelah Ramadhan ini.

Saya sendiri semula tidak begitu ngotot untuk nonton Laskar Pelangi. Hal ini karena bagi saya setelah film Petualangan Sherina belum ada lagi film untuk anak-anak yang layak ditonton di bioskop. Namun karena desakan Atika dan buku Laskar Pelangi juga demikian larisnya, saya akhirnya tergiring juga ikut menonton. Harus diakui, setelah menonton, film Laskar Pelangi memang layak “diserbu” anak-anak, remaja dan orangtua untuk menyaksikannya.

Cerita yang diangkat dalam film Laskar Pelangi sangatlah sederhana tetapi justru di sinilah letak kekuatan daya tariknya. Lagi-lagi kita patut membenarkan pesan yang dibawa oleh Film Kungfu Panda tentang makna kosong, ketiadaan, tetapi justru di situlah inti dari sebuah kekuatan. Film Kungfu Panda yang diputar beberapa bulan lalu juga sempat “diserbu” anak-anak. Laskar Pelangi diawali cerita tentang dua orang guru, Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Arfan (Ikranegara) yang menantikan kehadiran calon murid. Keduanya demikian cemas menanti kedatangan 1 orang lagi calon murid dari 10 orang yang mendaftar. Akhirnya calon murid kesepuluh datang juga pada detik-detik akhir penantian sehingga sekolah SD Muhammadiyah Gantong, Belitong tetap dapat dipertahankan dari ancaman penutupan. Setelah itu jalan cerita bertutur tentang kisah setelah 5 tahun para murid yang dipanggil Laskar Pelangi oleh Muslimah itu menghadapi suka duka sekolah dan kehidupannya.

Tidaklah salah apa yang dikatakan oleh Presiden SBY setelah menyaksikan film ini. “Laskar Pelangi adalah film yang menunjukkan karakter dan semangat anak-anak Indonesia yang gigih berjuang dan tidak pernah menyerah untuk menjemput masa depannya. Sangat membanggakan bahwa film Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saya ucapkan terimakasih kepada Saudara Andrea Hirata yang telah menginspirasi dan mengangkat semangat dan cita-cita ini. Tidak pernah ada jalan yang lunak untuk mencapai tujuan yang mulia. Kita bisa menyaksikan lika-liku kehidupan, perjuangan berat yang mesti kita teladani dan tiru,” kata SBY, seraya mengajak kita untuk bersama-sama menyukseskan prioritas pemerintah dalam meningkatkan pendidikan.

Harus diakui, film Laskar Pelangi  sarat makna. Nilai pesan pendidikannya memang tinggi. Film ini mampu membangun semangat anak-anak untuk menghargai dan menganggap penting pendidikan. Lewat film ini, kita dapat menyaksikan sosok lembaga pendidikan yang berada di pedesaan. Kita dapat melihat semangat anak-anak dari keluarga miskin dalam berjuang menuntut ilmu. Lebih dari itu, kita dapat menyaksikan perjuangan, semangat berkorban dan ketulusan dari para pendidik.

Nilai-nilai moral dan spiritual demikian kental dititipkan dalam film ini tapi disajikan tidak begitu pulgar atau tidak terlalu mengkhutbahi penonton. Nilai-nilai itu misalnya tentang semangat jangan pernah menyerah, hidup tidak ditentukan oleh materi dan kekayaan terletak pada hati, iman. “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya dan bukan menerima sebanyak-banyaknya,” kata pak Harfan kepada murid-murid yang sangat dicintai dan dibanggakannya. Para murid, seperti Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) memang menunjukkan keuletan dan kecerdasannya di sekolah.

Film ini sempat mengharu-biru hati anak-anak ketika menyaksikan Lintang harus meninggalkan sekolah setelah baru saja menjadi juara satu lomba cerdas cermat. Lintang meninggalkan bangku sekolah bukan karena menyerah tetapi dia harus berjuang di tempat lain. Dia harus mencari nafkah untuk menggantikan ayahnya, seorang nelayan yang meninggal dunia, tidak pulang dari tugas ketika menangkap ikan di laut. Lintang yang juga sudah piatu, harus menghidupi adik-adiknya dan pada akhir cerita ditunjukkan tekad tidak menyerahnya diwariskan kepada putrinya. Lintanglah yang memberi inspirasi kepada Ikal untuk juga tidak menyerah dengan godaan hidup. Ikal yang merupakan sosok dari Andrea Hirata akhirnya dalam film ini ditampilkan mendapat bea siswa belajar ke Sorbonne, Prancis.

Film ini juga mampu menyajikan pergulatan batin seorang guru. Apakah kita sebagai guru mampu bertahan dengan segala tantangan yang dihadapi? Pak Harfan setelah menanamkan prinsip hidupnya kepada bu Muslimah akhirnya meninggal dunia saat masih duduk di bangku sekolah tempatnya mengabdi. Pak Harfan bertahan di sekolah hingga akhir hidupnya. Hal ini berbeda dengan pak Bakri (Teuku Rifnu Wikana), rekan bu Muslimah yang meninggalkan Laskar Pelangi karena mendapat tempat mengajar yang lebih baik. Hanya bu Muslimah, seorang gadis muda dan terbilang cantik tetap bertahan. Dia bertahan di tengah banyak tawaran, termasuk Pak Mahmud (Tora Sudiro), guru di sekolah favorit yang menyukai bu Muslimah.

Tak pelak lagi, film ini sudah jelas memberi informasi tentang visi misi lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah. Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan ini selama ini sudah sangat populer dengan kegiatan amal usahanya di bidang pendidikan dan sosial. Muhammadiyah dikenal karena banyak mengelola lembaga pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi, sebagian terbilang sekolah berkualitas. Orang banyak memuji sekolah-sekolah Muhammadiyah di perkotaan yang memiliki bangunan permanen dan bertingkat, tidak kalah dengan sekolah lainnya, baik negeri atau swasta. Namun sesungguhnya, jika kita pergi ke pedesaan maka jauh lebih banyak lagi sekolah Muhammadiyah yang kondisinya seperti dalam film Laskar Pelangi.

Ketika kini anggaran pendidikan sudah 20% dari APBN, akankah sekolah yang dikelola oleh Muhammadiyah, setidaknya di pedesaan harus ditutup? Apakah penutupan harus dilakukan karena pemerintah telah mampu membangun sekolah-sekolah negeri dengan fasilitas lengkap dan biaya murah, bahkan mungkin gratis? Namun, jika dilihat dari nilai-nilai yang ditanamkan, ciri khas yang dimiliki, serta model pendidikan alternatif yang dapat sebagai pembanding bagi sekolah negeri, seyogyanya sekolah Muhammadiyah bukan saja masih layak dipertahankan oleh orang-orang Muhammadiyah tetapi justru oleh pemerintah sendiri. Kita perlu mengembangkan lembaga pendidikan dengan berbagai corak. Kita jangan sampai menyeragamkan lembaga pendidikan. Justru, sekolah-sekolah yang dikelola oleh pihak swasta tetap harus diberi peluang untuk tetap bertahan dan berkembang. Kita jangan sampai membiarkan hukum pasar ekonomi dalam mengembangkan lembaga pendidikan.

Tentu saja bagi warga Muhammadiyah, film dan juga buku Laskar Pelangi dapat lebih memberi motivasi dan inspirasi untuk tetap berkomitmen dalam kegiatan amal usahanya. Terlebih bagi yang berkiprah dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah, mereka dapat menjadikan Laskar Pelangi untuk berintrospeksi, mawas diri. Apakah mereka masih memiliki hati dan jiwa ikhlas mengabdi seperti yang ditunjukkan pak Arfan dan Muslimah atau lebih banyak seperti pak Bakri? Hal ini juga berlaku buat segenap para pendidik di manapun ia bertugas. Orang-orang semacam pak Arfan dan Bu Muslimah mungkin sepenuhnya sulit ditemukan saat ini di tengah berkembangnya gaya hidup yang tidak lepas dari tuntutan materi. Namun setidaknya, kita memerlukan para pendidik yang mengabdi sepenuh hati, tulus ikhlas, bertanggungjawab dan berkarakter meski tidak mengabaikan pengembangan kehidupan pribadi dan keluarganya.

Pemerintah saat ini terus berupaya meningkatkan kesejahteraan para guru, terlebih pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Dengan anggaran yang cukup memadai saat ini, seyogyanya dalih kesejahteraan yang minim tidak lagi jadi alasan penghalang bagi guru untuk mengabdi. Justru tampaknya, tantangan dunia pendidikan saat ini adalah bakal banyaknya orang-orang yang ingin masuk menjadi pendidik, menjadi guru dalam segala tingkat jenjang pendidikan tetapi bukan karena ladang pegabdiannya melainkan karena mau mendapatkan kehidupan layak secara materi yang tersedia. Saat kinilah untuk memasuki dunia pendidikan patut harus melalui seleksi yang benar-benar dapat merekrut orang-orang berkualitas, bukan saja dalam intelektual tetapi juga mental dan moralitasnya.

Tampaknya, setelah film Petualangan Sherina, Laskar Pelangi merupakan film nasional kedua yang patut dicatat sebagai film untuk anak-anak terbaik. Film ini tidak diragukan lagi sebagai film terlaris di Indonesia dan rekornya dapat saja mengalahkan film laris lain sebelumnya. Pujian patut diberikan kepada Mira Lesmana, sang Producer yang juga sukses dengan Petualangan Sherina. Kita berharap Mira Lesmana dengan segenap timnya mampu menghasilkan film-film lain yang berkualitas sekaligus mampu menyedot banyak penonton. Mira jangan sampai tergoda membuat film picisan, tetaplah berkomitmen pada film-film yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

Buat bung Andrea Hirata, kita patut mengaguminya sebagai seorang penulis sukses yang juga mudah-mudahan dapat memberi inspirasi bagi banyak para kawula muda lainnya untuk mengikuti jejaknya sebagai penulis. Andrea Hirata kini telah menjadi sosok idola bagi banyak kaum muda. Dia layak menyandang predikat seorang selebritis. Dia selebritis yang mengedepankan hati nurani, kecerdasan dan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat bawah. Malahan kita berharap selebitis semacam Andrea Hirata patut lebih banyak ditampilkan, selain mereka yang terlibat dalam dunia hiburan. Andrea Hirata adalah sosok tokoh muda yang kaya akan impian kehidupan masa depan. Impian tokoh-tokoh dalam buku yang ditulis Andrea Hirata semoga menjadi impian bagi kita semua, terutama generasi muda yang akan memegang kendali kehidupan masa depan bangsa dan negara.

Penulis adalah Dosen Fikom UPDM(B) Jakarta

Januari 10, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: