Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

PKS dan Pak Harto

Oleh Drs Usman Yatim MPd
ImagePKS dalam iklan tersebut memunculkan foto tokoh penting, mulai dari Bung Karno, Pak Harto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari, M Natsir, Muhammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo. Dalam akhir tayangan iklan tersebut muncul suara: “terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS”.

Ternyata iklan PKS tersebut mengundang reaksi banyak pihak. Bukan saja menyangkut figur Pak Harto tetapi juga figur tokoh lainnya seperti KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Khusus untuk kedua tokoh pendiri ormas Islam terbesar di tanah air ini, PKS dituding tidak etis karena selain tidak meminta izin kepada Muhammadiyah dan NU, juga melakukan kampanye terselubung dengan memakai ikon  konsetuen partai lain.

Kontroversi iklan PKS menyambut Hari Pahlawan ini merupakan iklan kedua yang sebelumnya pada Oktober lalu juga sudah menuai kritik. Dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu, iklan politik PKS  menampilkan tiga tokoh penting, yaitu Soekarno, KH Hasyim Asyari, dan KH Ahmad Dahlan.

Mengapa PKS berani menampilkan sosok Pak Harto dalam iklannya? Apakah PKS kini mencoba mendekati para pendukung Pak Harto agar memilih PKS pada Pemilu mendatang? Jawabannya, sudah pasti ya, siapa pun tidak mengingkari. Namun, apakah ini tidak menyimpang dari visi dan misi PKS? Apakah ini berarti PKS sudah berubah haluan dari semula anti-Soeharto menjadi pro-Pak Harto? Apakah dalam rangka memenangkan Pemilu, PKS  sudah benar-benar bersikap oportunis atau bahkan menghalalkan segala cara, sebagaimana dituding oleh mereka yang kontra dengan iklan PKS tersebut?

Tampaknya, jika kita berfikir jernih dan tidak didasarkan pada prasangka masa lalu, termasuk kepentingan politik praktis, maka iklan PKS itu sebetulnya hal wajar-wajar saja. Penampilan tokoh-tokoh nasional tersebut, terlebih dikaitkan dengan peringatan hari-hari nasional, seperti Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan, seharusnya boleh saja dilakukan oleh siapapun, apalagi oleh partai politik semacam PKS.

Bukankah tokoh-tokoh yang ditampilkan tersebut sudah merupakan milik bangsa? Sebagai tokoh nasional, apalagi bergelar Proklmator, Pahlawan Nasional, Bapak Pembangunan, tokoh-tokoh itu seyogyanya tidak lagi boleh diklaim sebagai “milik” kelompok tertentu, hanya untuk konsetuen partai politik tertentu. Apalagi jika ada upaya mematenkan nama sang tokoh hanya untuk ikon partai politik tertentu. Jika demikian, hal ini sungguh sesuatu yang naif dan berpola pikir mementingkan kelompok, mengkotak-kotakkan tokoh bangsa. Jika tokoh-tokoh itu dimonopoli oleh kelompok tertentu dengan alasan histories atau sebagainya maka di mana letak tokoh nasionalnya? Bukankah jika sudah disebut tokoh nasional, dia sudah menjadi lintas batas, lepas dari sekat-sekat politik, aliran dan hanya dibingkai dalam kata nasional?

Justru seharusnya kita patut menghargai apa yang dilakukan oleh PKS lewat iklan-iklannya tersebut.  Pernyataan Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Anis Matta di Jakarta, Kamis (13/11), seusai bertemu sejumlah tokoh militer di Jakarta, patut disikapi dengan positif dan gembira. Anis Matta saat itu menyatakan, sebagai generasi baru, sudah selayaknya bangsa ini berpikir dengan paradigma baru.

“Bangsa ini harus menyikapi masa lalu secara adil, arif, dan proporsional, serta mau berhenti mengadili masa lalu. Bangsa ini harus maju dan menjadikan masa lalu sebagai inspirasi bagi pembangunan masa depan,” kata Anis lagi. Pernyataan Anis ini terutama dimaksudkan untuk menjawab, tudingan pencuatan nama Bung Karno dan Pak Harto.

Menurut Anis Matta, problem kebangsaan saat ini sulit diselesaikan jika di antara anak bangsa masih saling menyimpan dendam. Itu sebabnya bangsa ini harus bisa membangun kebersamaan dan melakukan rekonsiliasi nasional pada semua tokoh dan pemimpin bangsa, serta menyelesaikan beban masa lalu. Dalam konteks ini, lanjut Anis, iklan PKS yang mengangkat semua tokoh nasional, menjadi bagian dari upaya rekonsiliasi yang diusung oleh PKS.

”Pahlawan kita merupakan manusia biasa, tetapi punya kerja yang luar biasa bagi bangsa dan memengaruhi perjalanan hidup kita semua hari ini. Mereka disebut pahlawan atau guru bangsa, bukan karena mereka malaikat, tetapi karena kontribusinya yang lebih besar dari kelemahan-kelemahannya,” ujar Anis Matta.

Dinyatakan oleh Sekjen PKS ini, Soekarno adalah tokoh yang disanjung bangsa ini. Akan tetapi diakui, Soekarno pernah memenjarakan Buya Hamka dan Natsir tanpa pengadilan. Ketua Majelis Syuro PKS KH Hilmi Aminuddin juga pernah dipenjara  selama dua tahun masa pak Harto berkuasa. ”Namun, kerja mereka untuk bangsa ini lebih besar dari kelemahan yang pernah dilakukan. Kesadaran ini bisa menjadi titik tolak kita untuk membangun bangsa ini,” ujar Anis Matta.

Apa yang diungkapkan oleh Sekjen PKS tersebut sungguh indah dan sangat menyejukkan. Ucapan tersebut patut menjadi acuan bagi kita semua sebagai anak bangsa yang melihat masa lalu sebagai pembelajaran untuk mengharungi kehidupan masa depan yang lebih baik. PKS melihat para pahlawan dan tokoh nasional lainnya secara proporsional, mengakui kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.

Kita membangun masa depan yang cerah hanya mungkin dengan menghilangkan luka-luka lama. Ajaran agama apapun, bahkan menurut ilmu kejiwaan, kita tidak boleh menyimpan dendam. Sakit hati, dendam, hanya menambah luka dalam bagi yang menyimpannya. Terlebih orang yang kita dendami itu juga memiliki banyak sisi-sisi kebaikannya, apalagi diakui dalam jumlah banyak orang.

Kita masih ingat bagaimana reaksi masyarakat ketika Pak Harto meninggal, begitu pula pada saat peringatan 100 hari wafatnya, jumlah orang yang merasa kehilangan dan mendoakannya sangatlah banyak. Bahkan sebetulnya ketika dendam dan sakit hati masih kita ungkapkan tidaklah secara langsung mengenai Pak Harto (karena sudah almarhum) melainkan malah itu ditudingkan kepada mereka yang bersimpati dan mendukung almarhum. Akankah sakit hati dan dendam harus kita timpakan kepada para pendukung dan simpatisannya? Padahal dapat saja ini hanya menyangkut masalah persepsi, pendapat atau sisi pandang yang berbeda saja. Apakah masing-masing kita harus saling berhadapan hanya untuk mempertahankan apa yang kita pahami atau yakini terhadap “kebenaran” masa lalu?

Menyorot sosok Pak Harto, terlepas dari segala kekurangannya sebagai manusia biasa, suka atau tidak suka beliau sudah mewarnai kehidupan bangsa dan Negara ini, lebih dari 30 tahun. Presiden SBY atas nama Negara dan pemerintah sudah memberikan penghormatan atas jasa-jasa Pak Harto pada saat pemakamannya. Bahkan wafatnya Pak Harto ditandai dengan perkabungan nasional, pengibaran setengah tiang bendera nasional.

Meminjam istilah PKS, kerja Pak Harto lebih besar dari kelemahannya. Karya-karya Pak Harto selama memimpin bangsa dan negara tidak dapat dihapuskan hanya karena ada kebijakan yang diambilnya semasa berkuasa menimbulkan korban, apakah itu dengan dalih korban HAM (Hak Asasi Manusia) atau korban politik. Bagaimanapun cepat atau lambat, suatu saat akan tetap ada pengukuhan Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional. Sama halnya dengan Bung Tomo yang setelah puluhan tahun, akhirnya juga dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Terlebih lagi secara hukum kini Pak Harto memang tidak lagi dapat diadili, sama halnya dengan Bung Karno. Pengalaman masa lalu para pemimpin bangsa itu hanya dapat kita catat kelebihan dan kekurangannya untuk dapat kita petik hikmahnya untuk membangun masa depan kita. Hal inilah yang dilakukan oleh PKS. Partai ini memanfaatkan para tokoh nasional untuk ”mengkampanyekan diri” sekaligus membawa pesan rekonsiliasi. Sejauh hal itu bertujuan untuk menggalang kebersamaan, berupaya melepaskan sikap pengkotakan diri, kenapa harus kita tuding dengan berbagai prasangka negatif?

Sebagai partai yang muncul dalam era reformasi, sikap PKS dalam melihat tokoh masa lalu patut menjadi contoh yang baik. Kalau kita memang sudah berkomitmen tidak lagi memperdebatkan ideology, seyogyanya kita tidak lagi mengedepankan prasangka yang bersifat pengkotak-kotakan aliran atau ideology. Maksudnya, apapun aliran parpol, apakah nasionalisme atau agamis, hendaklah diterima secara wajar tanpa mendikotomikannya. Tidaklah lagi relevan, aliran atau ideologi, visi dan misi sebuah parpol, memposisikannya sebagai partai eksklusif atau inklusif.

PKS, parpol yang muncul dalam alam reformasi, tampaknya mencoba memanfaatkan momen Pemilu 2009 sebagai ajang rekonsiliasi nasional. Parpol ini mencoba menghilangkan imej yang sempat terbangun bahwa mereka eksklusif, bahkan dalam kelompok Islam sendiri. Upaya PKS menghilangkan citra eksklusifime dengan tindakan nyata, termasuk kesediaan berkoalasi dengan partai-partai yang disebut nasionalis, seperti PDIP dan Partai Golkar, bukankah hal ini sesuatu yang patut disambut positif?

Betapapun, sungguh menarik untuk mengikuti kiprah PKS dalam berpolitik. Partai yang kini terus naik daun ini dinilai memiliki kreatifitas tinggi dalam mengemas isu-isu kampanyenya. Tidak hanya itu, PKS juga tampak paling terdepan dalam memanfaatkan teknologi komunikasi dalam mengangkat citranya, terutama dalam pemanfaatan internet. Jika kita ingin tahu banyak tentang kiprah partai politik lewat internet maka info seputar PKS paling banyak dan mudah untuk diakses.

Kembali kepada soal iklan PKS yang dinilai kontroversial itu memang cukup menarik untuk dicermati, terutama terkait dengan semakin dekatnya kita ke ajang pesta demokrasi, pemilihan umum legislatif dan presiden. Pro kontra memang tidak dapat dihindarkan, terlebih jika itu terkait dengan upaya meraih dukungan masyarakat pemilih yang konon mayoritas merupakan massa mengambang. Tampaknya, jika PKS terus mengedepankan semangat inklusifisme dan jauh dari eksklusifisme, jujur bersikap terbuka bagi semua kalangan, termasuk terhadap kelompok berbeda agama, maka tidaklah heran akan meraup suara yang cukup signifikan pada Pemilu mendatang.

Apalagi jika PKS dapat belajar lebih banyak dari cara kampanye yang dilakukan oleh tim sukses Barack Obama, kejutan demi kejutan dalam upaya merebut simpati rakyat akan banyak terlihat pada PKS. Sebaliknya jika PKS gagal mengambil momentum rekonsiliasi yang sudah digulirkan, prilaku politik PKS tetap bersikap eksklusif, larut dengan emosionalitas yang ditunjukkan oleh para pengkritiknya, dapat saja masa depan PKS tidak sebagaimana diharapkan. Namun tentulah, saat kita benar-benar haus akan perubahan, ketika kita menginginkan adanya suasana politik yang benar-benar kondusif untuk  masa depan, kiprah KPS tetaplah selalu kita nantikan.

Penulis adalah Dosen Fikom UPDM(B) Jakarta.

Januari 10, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: