Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Tahun Penuh Damai dan Perubahan

Oleh Drs.H.Usman Yatim, MPd

ImageKita kini meninggalkan tahun 2008 dan memasuki tahun 2009. Media massa baik cetak maupun elektronika banyak mengulas tinjauan perjalanan kehidupan kita selama tahun 2008, serta berbagai prediksi dan harapan tahun 2009 yang akan kita lalui. Berbagai ulasan tinjauan 2008 dan prediksi 2009 itu ada yang bernada optimistis dan ada pula yang pesimistis. Semua itu tergantung dari sudut pandang mana masing-masing melihatnya.

Perjalanan kehidupan 2008 bisa dilihat secara pesimistis dan bisa pula optimistis. Pesimistis misalnya terlihat dari masih banyaknya gelombang unjuk rasa yang menunjukkan rasa tidak puas terhadap apa yang terjadi, seperti ketidakpuasan dalam masalah perburuhan, PHK, pesangon dan sebagainya. Unjuk rasa dapat pula menyangkut protes sejumlah produk undang-undang, seperti UU Pornografi dan UU Badan Hukum Pendidikan.

Sementara dalam kehidupan global, keprihatinan terlihat dari krisis finansial dan masih terjadinya aksi kekerasan atau terorisme seperti di Mumbai. Dalam hal energi, semula banyak orang protes gara-gara harga BBM (Bahan Bakar Minyak) melambung tetapi kemudian malah menukik turun, dan ini juga terjadi di Indonesia. Sedangkan yang terlihat banyak disambut hangat dunia adalah terpilihnya Barack Hussein Obama sebagai orang pertama kulit hitam sebagai Presiden Amerika Serikat. Obama diharapkan dapat membawa angin segar bagi kehidupan dunia, seperti dunia yang lebih damai serta kita dapat keluar dari badai krisis ekonomi global.

Kalau kita ikuti ulasan dan pemberitaan media massa tersebut, terlalu banyak hal yang dapat kita serap dalam hubungan pergantian tahun dari 2008 ke 2009. Media massa mengajak kita untuk dapat menyimak atau mengevaluasi apa yang telah kita lalui atau lakukan selama tahun 2008 dan apa yang kita rencanakan untuk menghadapi tahun 2009. Dalam hal ini, sepatutnya kita memberi apresiasi kepada media massa karena kita telah diberi peringatan dan petunjuk dalam rangka menghadapi masa depan, setidaknya selama kurun waktu setahun nanti.

Masalahnya, seberapa banyak orang peduli dengan pergantian tahun yang sebetulnya sesuatu yang terlihat rutin. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, selama kita hidup kita akan selalu menghadapi pergantian tahun. Sebagian besar dari kita banyak membiarkan pergantian tahun berlalu begitu saja. Seolah tahun baru tidak lebih sebagai pergantian kalender saja.  Jika ada yang menyambutnya, terkadang lebih melihatnya sebagai kegiatan penuh gembira, sebagian menyambut dengan pesta kembang api, seperti ditunjukkan pada malam tahun baru di Ancol, Taman Monas, dan tempat-tempat hiburan lainnya. Setelah itu semua berlalu begitu saja.

Tahun Perdamaian

Tentu saja khusus untuk menyambut 2009, kita berharap akan ada sesuatu yang istimewa, apakah itu untuk kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sesuatu yang istimewa itu, terserah buat masing-masing kita untuk memaknainya. Merujuk pada tulisan banner SK MADINA, edisi ini, kita dapat menatap dan mengisi tahun 2009 dengan semangat perdamaian.

Tema perdamaian yang diusung oleh Prof Dr Haryono Suyono MA dilatari oleh apa yang telah dilakukan oleh Universitas Negeri Malang (UM) yang pada 22 Desember 2008 menggelar seminar nasional bertajuk pendidikan damai. UM, dalam rangka menyambut ulang tahunnya ke 54, ingin mengokohkan diri sebagai kampus perdamaian. Tema ini sangat menarik, terlebih bagi perguruan tinggi yang kini banyak disorot karena banyak mengedepankan suasana yang penuh hiruk pikuk , aksi unjuk rasa yang cenderung diidentikkan dengan nuansa emosionalitas, kekerasan, anarkis, jauh dari semangat akademis yang mengedepankan sikap kritis yang rasional, menghargai perbedaan atau punya sikap toleran.

Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan Pengentasan Kemiskinan yang kini menjadi Ketua Umum Yayasan Damandiri menjelaskan, kita patut berkomitmen untuk mengisi 2009 dengan nuansa penuh damai mengingat banyaknya tantangan yang kita hadapi, terutama dalam menghadapi Pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang berpotensi penuh dengan konflik. Semangat damai patut kita kedepankan pada tahun 2009 agar ajang pesta demokrasi tidak dibumbui berbagai konflik, sikap lebih mementingkan diri dan kelompok, ketimbang kepentingan bersama.

Semangat damai wajar kita canangkan untuk tahun 2009 karena kebetulan tahun baru 2009 juga sudah diawali dengan Tahun Baru 1430 Hijriyah pada 29 Desember 2008. Seolah tahun Hijriyah dan Masehi bersama mengingatkan kita untuk mengisi hari-hari ke depan dengan sesuatu yang sangat bermakna bagi kehidupan, baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun berbangsa dan bernegara. Sesuatu yang bermakna itu adalah kedamaian dan perubahan.

Kita tidak menginginkan suasana damai yang membuat kita dalam suasana statis tetapi tetap dinamis. Kedamaian bukan berarti kita membiarkan kehidupan kita tetap sebagaimana apa adanya seperti saat ini. Justru sebaliknya, kita berharap dengan suasana damai kita dapat berbuat banyak, dapat memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi saat ini. Semangat damai kita harapkan, misalnya, dapat menemukan para wakil rakyat yang berkualitas. Kita bisa mendapatkan anggota DPRD, DPR dan DPD yang benar-benar mau peduli dengan nasib rakyat, wakil rakyat yang berkomitmen mensejahterakan kehidupan rakyat banyak, bukan semata kehidupan pribadi.

Semangat damai juga kita harapkan dapat menghasilkan pemimpin nasional yang mampu membawa Indonesia ke depan yang lebih makmur dan sejahtera. Kita mendapatkan Presiden dan Wakil Presiden beserta anggota kabinetnya yang jauh lebih baik, lebih berkualitas dibanding saat ini. Kita tidak melihat siapa orangnya tetapi bagaimana sosoknya setelah terpilih. Maksudnya, presiden baru kita, boleh saja kembali Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi ketika terpilih kembali dia menjadi presiden yang baru, pemimpin yang lebih baik, lebih berkualitas dari sebelumnya. Begitu pula, jika bukan SBY, kita berharap orang yang lebih baik lagi. Jadi bukan pemimpin yang orangnya baru tetapi kualitasnya malah tidak lebih baik dari sebelumnya.

Tahun Perubahan

Selain membawa semangat perdamaian, tahun 2009 juga kita harapkan sebagai tahun perubahan. Tema kampanye Obama yang juga mengedepankan perubahan juga kita harapkan mewarnai kehidupan kita pada tahun 2009. Istilah perubahan memang paling kental jika kita melihat dari sudut pandang tahun baru 1430 Hijriyah. Sama kita ketahui, hijriyah sering diceritakan sebagai awal kepindahan Nabi Muhammad Saw bersama pengikutnya dari Makkah ke Madinah.

Pindah tersebut dipahami bukan semata dalam konteks fisik tetapi juga mental dan sepritual. Malahan sesungguhnya, sebelum kita dapat berubah secara fisik, terlebih dahulu kita harus dapat berubah atau memperbarui diri dalam konteks mental dan spiritual, serta terjewantahkan lewat cara berfikir. ”Perubahan paradigma,” begitulah banyak orang menyebutnya. Perubahan memang banyak dinyatakan orang tetapi kecenderungannya kita sering tidak banyak berubah dan ini banyak karena faktor cara berfikir kita yang tidak berubah, serta berdampak pula pada tindakan kita. Orang bijak menyatakan, suatu kegilaan kalau kita mengharapkan perubahan tetapi tindakan kita tidak berubah. Lakukan hal yang berbeda jika kita ingin mengharapkan hasil yang berbeda.

Tentu saja, perubahan paradigma atau cara berpikir, haruslah ke arah yang jauh lebih positif atau lebih baik ketimbang sebelumnya. Nah, hal inilah yang selalu dipertanyakan, apakah kita kini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah benar-benar mengalami perubahan yang positif jika dibandingkan antara era Orde Baru dan era Reformasi? Selama kurun waktu 10 tahun terakhir Orde Reformasi apakah sudah banyak perubahan yang kita lalui? Jika kita sudah berubah, apakah itu menyangkut perubahan paradigma, cara berfikir yang lebih positif atau lebih baik dibandingkan sebelumnya?

Masing-masing kita tentu memiliki persepsi sendiri dalam menilai perubahan yang terjadi selama Orde Reformasi. Dalam kehidupan berpolitik, dapat saja misalnya menyebut sebagai telah adanya perubahan yang radikal. Kita berubah dari kehidupan yang semula penuh dengan semangat terkontrol menjadi semangat bebas tanpa batas. Kita yang semula hanya hidup berpartai hanya tiga, kini berubah menjadi 10 kali lipat lebih. Kita semula memilih presiden dan kepala daerah lewat sistem perwakilan, kini telah berubah menjadi sistem pemilihan langsung.

Perubahan lainnya juga menyangkut konstitusi. Banyak yang menyebut, amandemen sebanyak 4 kali terhadap Undang-undang Dasar 1945, sebetulnya telah menjadikan konstitusi kita menjadi baru. Bahkan, ada pula yang menyebut amandemen itu telah menghilangkan esensi aslinya sehingga tidak lagi layak disebut sebagai UUD 1945. Hal ini boleh jadi karena perubahannya tidak dalam bentuk addendum atau perubahan tanpa menghilangkan butir-butir pasal atau ayat dari UU tersebut.

Maksudnya di sini, perubahan yang kita maksudkan tetaplah dalam koridor tetap eksisnya jati diri kita sebagai bangsa dan negara. Perubahan yang kita lakukan tetap dalam konteks kesinambungan. Semangat hijrah, berpindah, tidaklah diartikan kita mengubah keyakinan atau keimanan kita tetapi justru sebaliknya, kian mempertebal iman dan keyakinan yang telah kita punyai. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harusnya tetap berkeyakinan bahwa nilai-nilai dasar yang telah dibangun dan ditetapkan oleh para Bapak Bangsa, berupa Pancasila dan UUD 1945, tetaplah dapat kita yakini sebagai pedoman dalam kita menatap kehidupan masa depan.

Perubahan paradigma, cara berfikir dan tindakan kita tetaplah berpijak pada nilai-nilai dasar tadi. Perubahan paradigma tidak membuat kita emosional, marah terhadap kondisi masa lalu yang kita nilai salah tetapi kita sebaliknya dapat memaafkan seraya bertekad tidak untuk mengulangnya. Kita mengembangkan hal-hal baru yang sesungguhnya juga adalah nilai-nilai dasar lama yang belum sepenuhnya kita jalankan. Artinya, perubahan paradigma juga dapat kita pahami sebagai upaya reaktualisasi atau revitalisasi terhadap hal-hal baik selama ini yang belum kita jalankan.

Tema upaya peningkatan kesejahteraan, membangun kehidupan yang sejahtera, adil dan makmur, bukanlah hal baru tetapi dia sudah dicanangkan sejak Indonesia diproklamirkan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Begitu pula dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, bebas dari kebodohan dan kemiskinan, juga merupakan tema sejak kita merdeka. Sedangkan tema penegakan hukum, bebas dari korupsi, pemerintahan yang baik dan bersih, dan tema perdamaian juga merupakan tema yang sudah ada sejak lama, termasuk era Orde Baru.

Tema tersebut semua kini masih relevan kita kedepankan karena kita memang belum mencapai apa yang kita harapkan atau cita-citakan. Temanya tetap sama tetapi cara pendekatan atau cara berpikirnyalah yang perlu kita ubah. Memasuki tahun 2009, kita pasang niat dan tekad baru, kita bangun semangat baru, semangat perdamaian dan semangat perubahan  untuk tetap mewujudkan apa yang kita dambakan sesuai tema yang sudah sejak lama kita gelorakan. Semoga, Tahun 2009 benar-benar menjadi tahun perdamaian yang penuh dinamika dan tahun perubahan yang penuh mengejutkan dalam suasana kegembiraan bagi kehidupan kita pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Penulis adalah Dosen Fikom UPDM(B) Jakarta

sumber : www.madina-sk.com

Januari 10, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: