Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Kini Saatnya Memilih Langsung Wakil Rakyat

Oleh Drs.H.Usman Yatim, MPd

ImagePemilihan Umum 2009 yang akan dilangsungkan pada 9 April 2009 memiliki arti sangat penting dalam kehidupan perpolitikan kita. Pemilu bukan saja dilihat dari aspek peristiwa pesta demokrasi rutin lima tahunan tetapi juga dapat diamati dari berbagai perubahan penyelenggaraan dan pengaruhnya terhadap kehidupan politik kita, terutama dalam kehidupan berdemokrasi.

Pemilu legislatif 2009 tampaknya akan makin menampilkan sosok sesungguhnya dari system distrik murni, yaitu wakil rakyat yang terpilih betul-betul mewakili kosituen sesungguhnya. Berbeda dari pemilu sebelumnya, terlebih masa Orde Baru yang menerapkan system proporsional dengan mengedepankan dominasi partai politik maka pada Pemilu 2009 yang dikedepankan adalah sosok dari para  calon wakil rakyat itu sendiri.

Penerapan system suara terbanyak yang telah mendapat legitimasi dari Mahkamah Konstitusi, membuat Pemilu kali ini memiliki tingkat gairah yang meningkat dan berbeda jauh dengan sebelumnya. Cobalah kita perhatikan berbagai bendera, spanduk, banner, poster, stiker dan lain sebagainya. Kini kita tidak hanya melihat lambang partai-partai politik tetapi juga dilengkapi dengan gambar dan nama para calon wakil rakyat. Sudah dapat dipastikan biaya dari pembuatan atribut kampanye tersebut tidak semua dari organisasi parpol, melainkan sudah pasti lebih banyak dari masing-masing caleg.

Sistem suara terbanyak yang awalnya dipelopori oleh PAN (Partai Amanat Nasional) dan diikuti oleh Partai Golkar dan Partai Demokrat memang sudah menjadi keharusan seiring dengan makin terbukanya kran demokrasi ala liberal sejak era reformasi. Belum lagi dengan makin cerdasnya masyarakat dalam berpolitik membuat kita mau tidak mau harus melakukan terobosan baru dalam kehidupan berpolitik. Sistem suara terbanyak pada akhirnya nanti membuat masyarakat pemilih dapat memiliki wakil rakyat sesungguhnya karena dia dipilih langsung oleh rakyat.

Dampak dari penerapan suara terbanyak mau tidak mau membuat peran partai kini menjadi bergeser. Fanatisme masyarakat pemilih terhadap partai kini tidak lagi seperti masa lalu di mana para anggota DPR dan DPRD tidak langsung berkomunikasi dengan  rakyat, melainkan dimediasi oleh parpol. Parpol yang selama ini mendominasi penempatan calon jadi anggota DPR dan DPRD kini tidak lagi dominant karena berada pada posisi manapun seorang caleg, dia memiliki peluang sama untuk dapat terpilih.

Parpol dengan demikian tidak lagi dapat mengendalikan sepenuhnya tentang terpilih atau tidaknya para caleg karena rakyat pemilihlah yang menjadi factor utamanya. Dengan demikian, kini seharusnya semua dapat lebih jujur dan adil. Praktik nepotisme, seperti menempatkan para caleg dari anak atau keluarga petinggi partai kini tidak lagi dijamin dapat terpilih. Seseorang caleg, siapapun dia, hanya dapat terpilih adalah bilamana memang dia dipilih oleh rakyat secara langsung. Inilah demokrasi sesungguhnya, suara rakyat benar-benar riel, bukan produk akal-akalan partai.

Artinya lagi, bilamana seorang caleg dapat terpilih maka dia merupakan langsung pilihan rakyat. Dia memiliki tanggungjawab penuh terhadap rakyat pemilihnya, tidak sebagaimana sebelumnya dia secara formal lebih mengacu kepada kepentingan parpol masing-masing. Malahan ke depan, recall atau pergantian antar waktu terhadap caleg tidak lagi dapat “sewenang-wenang”  dilakukan parpol, melainkan perlu ada mekanisme yang melibatkan peran konsituennya.

Tentu saja wakil rakyat pilihan langsung ini berjalan baik dan lancar sebagaimana mestinya bilamana kita memiliki paradigma baru dalam berpolitik. Masalahnya, pola pikir kita pada pemilu 2009 ini tampaknya akan masih tetap menyisakan pola piker masa lalu. Hal ini kian diperkuat dengan kondisi kehidupan rakyat yang memang belum banyak bergeser jauh. Pola pikir masa lalu itu adalah menyangkut pemilu sebagai sebuah obyekan, bahkan kalau dilihat dari sifatnya ibarat “siapa memangsa siapa.”

Maksudnya, kecenderungan selama ini, parpol bersama caleg banyak melihat atau memanfaatkan rakyat pemilih sebagai obyek atau mangsa yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat. Kita tahu, pemilu adalah upaya untuk mendapatkan suara rakyat. Suara itu bukan dalam arti sesungguhnya untuk mendapatkan dukungan murni melainkan hanya untuk “dibeli” dan bila sudah didapatkan seolah suara itu dapat digunakan sesuka hati. Tegasnya, manakala sang caleg sudah terpilih dia merasa seolah tidak lagi punya tanggungjawab langsung kepada rakyat pemilihnya.

Dalih yang dipakai “bukankah saya sudah membeli suara tersebut?” Kita tahu suara itu dibeli lewat sembako, amplop, serang fajar, dan lain sebagainya yang populer kita sebuat dengan money politic. Hukum ekonomi berlaku, yaitu setiap barang (suara) yang dibeli tentu harus dijual dengan keuntungan lebih. Para caleg selama kampanye berinvestasi dan menuainya setelah terpilih, sedangkan yang kalah menjadi berstatus bangkrut total. Inilah biang praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan para wakil rakyat, termasuk para kepala daerah hasil produk pilkada langsung.

Rakyat pemilih pada umumnya, terutama masyarakat bawah juga tampaknya menganggap wajar masalah money politic ini. Mereka melihat caleg pada umumnya bukan dari kualitas para caleg, baik dari segi kemampuan dan karakternya, melainkan dilihat dari financial sang caleg. Tidak sedikit di antara mereka tanpa sungkan atau malu-malu menanyakan, mana sembakonya bila ada caleg yang mendatangi mereka. Hal ini membuat kecenderungan rakyat melihat para caleg sebagai obyekan atau mangsa yang dapat mereka “manfaatkan”. Bagaimanapun, banyak juga di antara mereka sadar bahwa obyekan ini tidaklah wajar dan karena itu muncul istilah “terima sembakonya tapi pilih caleg sesuai hati nurani.” Namun, terkadang rasa telah menerima, keinginan berterimakasih, tetap membuat mau tidak mau mereka banyak juga akhirnya memilih sang caleg yang melakukan money politics tersebut.

Nah, itulah tantangan yang harus dihadapi dalam pemilu kali ini. Tampaknya dalam rangka kita ingin membangun demokrasi sesungguhnya perlu secara bersama dilakukan upaya memerangi praktik money politics ini. Harus ada mekanisme atau aturan yang dapat menghentikan kegiatan kampanye yang sifatnya memberikan imbalan dari para caleg. Masyarakat pemilih tidak dapat kita salahkan bila berharap dan senang menerima “sembako” karena mereka memang membutuhkan. Masalahnya, jika mereka sadar, terlalu murah harga suara mereka “dibeli” oleh para caleg yang “menikmati” selama lima tahun suara itu untuk kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat.

Harapan kita ke depan, upaya memilih langsung wakil rakyat sesungguhnya benar-benar merupakan bagian dari peranserta politik masyarakat yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Pemilu benar-benar menjadi ajang pesta demokrasi dalam rangka memilih wakil-wakil rakyat yang terpecaya. Mereka menjalankan tugas dan fungsi yang mendorong terciptanya penyelenggaraan Negara, bebas dari berbagai praktik KKN. Pemilu diharapkan pula bukan menjadi ajang bisnis sesaat, melainkan ajang membangun kesadaran politik rakyat untuk kemajuan masyarakat, bangsa dan Negara.

sumber : www.madina-sk.com

Februari 1, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu, Karya Tulisan | , , , ,

2 Komentar »

  1. mudah-mudahan rakyat dapat memilih dengan lebih bijak tanpa terpengaruh sogokan (money politic) yang hanya berpengaruh untuk sesaat dan mengabaikan nasib masa depan.

    Komentar oleh HHR | Februari 1, 2009 | Balas

  2. 1.Sudah saatnya masyarakat bisa memilih caleg yang baru & berkualitas. 2.Masyarakat banyak, juga harus menghindari caleg-caleg yang obral janji,memberikan sembako, uang atau sejenisnya kepada masyarakat.
    3.Masyarakat juga harus mempertanyakan dana yang mereka dapat berasal dari mana?
    4.Sebaiknya masyarakat tidak memilih caleg berdasarkan berapa banyak uang /barang yang mereka berikan.

    Komentar oleh Rahmi | Februari 3, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: