Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Obama dan Budaya Trust

Oleh Drs.H.Usman Yatim, MPd

Image“Dunia tersihir, terpukau. Inilah even spektakular” demikian komentar yang diberikan atas pelantikan Presiden Amerika Serikat yang baru. Komentar dunia yang tersihir oleh pelantikan Obama rasanya tidaklah salah. Melalui layar televisi kita dapat melihat lautan manusia yang menyaksikannya. Acara pelantikan ini dikemas sedemikian rupa, termasuk tayangan atau pemberitaan media massa yang membuat perhatian dunia seolah semua diarahkan ke Obama. Dunia juga seolah sudah digiring untuk mengakui atau menerima bahwa Barack Hussein Obama bukan saja menjadi pemimpin AS tapi lebih dari itu juga  adalah pemimpin dunia.

Barack Obama diambil sumpahnya sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat, Selasa (20/1) pukul 12.00 waktu setempat atau Rabu tengah malam WIB. Terpilihnya Obama sebagai presiden AS telah mengundang perhatian jutaan warga di seluruh dunia dengan harapan bahwa pemimpin baru AS akan bersikap lebih terbuka terhadap kebutuhan masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia. Pemerintah baru AS juga diharapkan lebih dapat menyelesaikan berbagai masalah lewat diplomasi ketimbang kekuatan militer.

Obama yang dikenal dengan talenta orator penuh inspirasi telah menekankan harapan jutaan orang saat ia menggariskan kebijakan baru bagi AS. Obama berjanji untuk menekankan diplomasi serta solusi global untuk merespon perubahan iklim, menolak penganiayaan serta menutup penjara Teluk Guantanamo. Obama tidak hanya bicara buat rakyat Amerika tetapi juga umat manusia di muka bumi ini. Dia juga mengingatkan tentang etnis dan agama. Khusus hubungan dengan Islam dia menekankan akan ada pendekatan baru dengan nuansa yang lebih bersahabat. Mendengar Obama berpidato, kita yang menyaksikan lewat media massa juga seolah diperuntukkan buat masyarakat Indonesia.

Lebih dari 10.000 orang dari seluruh 50 negara bagian termasuk band dan satuan militer disertakan untuk mendampingi Obama dan Joe Biden dalam parade sejauh 2,4 kilometer dari Capitol hingga Pennsylvania Ave. Parade pelantikan yang mengakibatkan ditutupnya sejumlah jalan dan jembatan utama di Washington ini telah menarik perhatian pengunjung hingga mencapai 2-4 juta orang yang memadati wilayah Capitol, Gedung Putih dan Lincoln Memorial. Saat parade. Obama bersama isteri bergandengan tangan, berjalan santai seraya melambaikan tangan kepada massa rakyat yang menyaksikan.

Masyarakat Indonesia terlihat banyak yang antusias menyambut pelantikan Obama. Hal ini dapat dimaklumi mengingat Obama pernah  sekitar 4 tahun bermukim di Jakarta, dan bahkan  memiliki keluarga orang Indonesia. Lantas pelajaran apa yang dapat kita petik dari pelantikan Obama ini? Tampaknya sangat banyak , paling tidak dapat kita ambil dari suasananya saja. Kesan umum yang dapat ditangkap adalah “AS bersatu.”

Kita menyaksikan rakyat AS bersatu lewat momen pelantikan presiden mereka. Di tengah kemeriahan lautan manusia, kita juga menyaksikan semua mantan Presiden AS ikut hadir sehingga berbagai perbedaan politik, kepentingan, dikesempingkan dengan  mengedepankan kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Tidak ada hujat menghujat, kritikan, suasana konflik atau ketidakpuasan, apalagi unjuk rasa sebagaimana ramai terjadi di Indonesia. Kita menangkap pesan bahwa  seluruh rakyat AS benar-benar bersatu  di bawah kepemimpinan Barack Hussein Obama.

Budaya Trust

Mengapa rakyat AS terlihat bersatu? Tak pelak lagi, semua ini karena adanya sikap percaya yang terbangun  dari rakyat AS terhadap pemimpinnya. Kalau kita lihat berbagai acara pelantikan Presiden AS sebelumnya, suasana kebersamaan, persatuan dan kesatuan juga selalu menonjol, meski harus diakui untuk pelantikan Obama terlihat lebih semarak. Rasa percaya, Trust, memang bagian dari  budaya dalam kehidupan rakyat AS terhadap pemimpinnya.

Cobalah kita lihat George Walker Bush, biarpun dicerca masyarakat dunia karena kebijakannya, sebagai Presiden AS dia tetap dihormati rakyatnya. Pemimpin boleh jadi dinilai salah tetapi rasa hormat tetap layak diberikan kepada pemimpin dan mantan pemimpinnya. Kalau kita menyorot berapa banyak rakyat (tentara) AS yang tewas  di Irak, boleh jadi jika itu terjadi di negeri kita, maka bakal ada kelompok atau lembaga yang memperkarakan Bush.

Melihat tradisi yang ada, George W Bush tampaknya bakal  dapat tetap beristirahat atau menikmati dengan tenang masa pensiunnya, sebagaimana mantan-mantan Presiden AS sebelumnya. Rakyat  AS tampaknya tidak memiliki tradisi atau karakter untuk menghakimi bekas pemimpinnya, termasuk terhadap Nixon yang harus mundur dari jabatan Presiden AS karena skandal Watergate, kasus yang terkait dengan kecurangan dalam pemilu.

Sebagian dari kita mungkin mengatakan budaya Trust wajar ada pada masyarakat AS karena para pemimpinnya layak untuk dipercaya. Para pemimpin AS selalu orang yang teruji, terbaik, layak menjadi pemimpin, serta patut diteladani. Saya kira pendapat ini belum tentu benar. Bagaimanapun luar biasanya, seorang pemimpin tetaplah ada cacat atau kekurangannya. Contohnya saja Bush yang semua kita tahu menjadi banyak cercaan masyarakat dunia, bahkan di akhir masa jabatannya dipermalukan oleh wartawan Irak dengan pelemparan sepatu. Bill Clinton, Presiden AS sebelum Bush, terlibat skandal wanita. Adanya beberapa Presiden AS yang terbunuh, juga dapat mengindikasikan adanya orang-orang yang tidak menyukai pemimpinnya. Namun, jika kita membaca sejarah dari semua Presiden AS maka kesan yang ditangkap adalah selalu dilihat dari sisi-sisi positifnya. Inilah mengapa, budaya Trust menjadi bagian dari masyarakat AS.

Masalah Trust, sikap percaya, masih sangat jauh dari kehidupan kita, terlebih kepada para pemimpinnya. Kita lebih banyak mengedepankan prasangka, sikap curiga ketimbang rasa atau sikap percaya. Dalih yang selalu kita kemukakan, sang pemimpin selalu tidak sesuai antara kata dan perbuatannya. Boleh jadi hal ini benar, namun jika kita ingin membangun budaya Trust, mau tidak mau kita harus mau lebih dulu menanamkan sikap untuk tidak berprasangka, mau melepaskan dari pengalaman masa lalu. Apalagi ketika kita sedang melakukan perubahan system yang mengarah kepada suasana lebih terbuka dan lebih demokratis.

Budaya Trust hanya dapat dibangun ketika kita mau menjadi orang, masyarakat yang pemaaf namun tetap dengan mengedepankan supremasi hukum. Trust juga sesungguhnya terkait dengan sebuah pilihan sikap. Trust sangat bersinggungan dengan sikap loyal yang di dalamnya ada sikap percaya, setia, dan terbuka. Sekali Trust kita jadikan sebagai sebuah pilihan sikap, menjadi sebuah karakter, maka orang yang mendapatkan Trust juga akan digiring untuk membangun atau mengembangkan dirinya menjadi orang yang layak untuk mendapatkan Trust. Memang idealnya, orang yang harus mendapatkan Trust, dalam hal ini para pemimpin, selalu berjuang membangun sikap, mengembangkan kualitas-kualitas karakter.

Belajar dari suasana pelantikan Presiden AS Barack Hussein Obama, tidak ada lain kecuali mari kita sama-sama membangun budaya Trust, budaya sikap percaya. Trust bukan saja antara rakyat dan pemimpin tetapi juga antar sesama semua kita, tanpa memandang posisi masing-masing. Trust merupakan sebuah pilihan, apakah kita mau memilih sikap percaya atau sebaliknya selalu berprasangka. Sama juga, kita bebas memilih apakah mau menjadi seorang loyalis atau sebaliknya.

Trust dan loyal bukan ditentukan pada kepada siapa kita harus memberikan trust dan loyal, melainkan kepada diri kita masing-masing. Sekali kita menanamkan rasa atau sikap Trust, maka itu tidak berubah meskipun boleh jadi orang yang kita beri Trust tersebut terlihat ingkar atau seolah mengkhianati kita. Saya yakin, apa dan bagaimanapun Barack Hussein Obama dalam menjalankan roda pemerintahannya ke depan, sebagaimana Presiden AS sebelumnya, dia sudah masuk dalam catatan sejarah pemimpin AS yang dikenang, selalu menjadi inspirasi buat generasi baru AS. Obama akan selalu memberikan dan menerima Trust karena dia berada dalam kehidupan masyarakat yang memang memiliki budaya Trust.

Penulis adalah dosen Fikom UPDM(B) Jakarta.

sumber : www.madina-sk.com

Februari 1, 2009 - Posted by | Karya Tulisan

1 Komentar »

  1. harus diakui memang obama dapat membuat kejutan di tahun 2008 tetapi seharusnya kita jangan terlalu berharap kepada obama (seperti kebanyakan masyarakat indonesia) untuk membantu indonesia tanpa memikirkan keuntungan negerinya sendiri

    Komentar oleh HHR | Februari 1, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: