Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Mengapa Terus Bingung?

Oleh Drs.H.Usman Yatim, MPd
ImageDemam pemilu kini kian terasa menjelang hari pemungutan suara yang sudah kian mendekat. Masyarakat kini sudah sangat merasakan suasana pemilu, bukan saja dari ramainya iklan dan tayangan tentang pemilu di media massa tetapi juga dari ramainya berbagai spanduk, poster, baliho, bendera, stiker dan alat kampanye lainnya yang dapat dilihat langsung. Bahkan, suasana pemilu kian terasa karena sejumlah caleg  bersama timnya juga banyak yang sudah mendatangi langsung masyarakat.
Pembicaraan seputar Pemilu  legislatif sudah banyak mengemuka di kalangan masyarakat. Berbagai topik perbincangan menjadi bahasan cukup menarik, seperti soal peragaan kampanye, partai, caleg, dan golput. Dari perbincangan tersebut juga menimbulkan banyak pertanyaan dan di antaranya banyak pula yang kebingungan.

Masyarakat bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan pada 9 April 2009 nanti, apakah akan mendatangi TPS (Tempat Pemungutan Suara), tetap diam di rumah atau memilih melakukan aktifitas lainnya. Andai akan menuju TPS, apakah yang akan dicontreng? Apakah mau mencontreng tanda gambar parpol, nomor urut  caleg, atau asalan aja karena memilih golput, atau memang karena kebingungan? Bahkan ada yang bertanya, mencontreng atau mencoblos, bedanya apa?

“Aduh, partainya terlalu banyak, bingung mana yang mau dipilih,” kata seorang ibu. Masalah jumlah partai memang banyak menjadi perbincangan. Nama-nama partai saja diakui sulit diingat atau dihapal. “Koq begitu banyak sih jumlah partainya? Apa orang yang bikin partai itu tidak mikir bahwa mereka itu bakal dipilih rakyat. Kita tidak mengerti, pemerintah, DPR, KPU, dan elit politik lainnya kenapa membiarkan, jumlah partai begitu banyak? Amerika yang maju, negara paling demokratis, jumlah partainya cuma dua. Masa Orde Baru juga cuma tiga. Artinya, demokratis atau tidak, indikatornya bukan jumlah partai.”

Itulah sejumlah petikan, komentar yang mengemuka di kalangan sebagian masyarakat kita menyangkut masalah jumlah partai. Mereka juga menyebut, banyaknya jumlah partai tampaknya banyak dipengaruhi oleh ambisi politik yang dikaitkan dengan masalah ekonomi. Maksudnya, politik tidak dilihat sebagai ladang pengabdian, melainkan lebih kepada peluang kerja, kesempatan meningkatkan pendapatan. Kalkulasi ekonomi lebih mengemuka ketimbang kalkulasi politik. Bahkan tidak sedikit yang melihat partai ibarat sebuah perusahaan yang hitung-hitungannya soal untung rugi secara ekonomi, dan sedikit sekali pertimbangan politisnya.

Banyaknya jumlah partai makin membuat masyarakat kehilangan kepercayaan atas visi dan misi yang diusung partai. Mereka berkaca pada pengalaman lalu yang cenderung menilai janji-janji partai banyak tidak ditepati. Sementara prilaku para wakil rakyat dinilai banyak yang lebih memperdulikan kepentingan pribadinya, ketimbang kepentingan rakyat banyak. Ada kecenderungan, masyarakat banyak yang masih ragu akan adanya perubahan dari prilaku partai dan juga para wakil rakyat. Apa yang dihasilkan Pemilu 9 April 2009 tidak akan jauh beda dibanding pemilu-pemilu sebelumnya.

“Buat apa kita memilih? Apa untungnya buat kita? Mereka nanti setelah terpilih hidupnya makin enak, kita-kita makin susah. Saat kampanye, mereka buat janji muluk-muluk, setelah terpilih kita dilupakan. Bukan hanya lupa tapi mereka bahkan banyak melecehkan kita. Coba temukan, mana wakil rakyat yang kenal, tahu dan peduli dengan nasib kita? Mereka lebih banyak sombong, arogan, lupa diri. Itu kita bisa lihat dari tampilan kehidupan mereka yang tidak peduli nasib rakyat,” kata mereka yang apriori terhadap produk pemilu legislatif 2009.

Ketidakpercayaan akan adanya perubahan hasil Pemilu 2009 kian mengemuka, ketika melihat prilaku sejumlah partai dan caleg yang bukan hanya mengumbar janji tetapi juga yang berani mengeluarkan dana besar untuk melakukan praktik money politics. Masyarakat dengan senang hati mau menerima sembako, apalagi uang meskipun dalam bentuk recehan. Mereka berpikir, saat ini kita minta dananya dulu karena kalau sudah terpilih tidak bakal mau memberikannya. Sungguh naif cara berfikir kita, semuanya mengacu kepada materi, uang, bukan bentuk pengabdian, karakter dari para caleg.

Tampaknya merupakan tugas berat bagi partai, apalagi caleg yang benar-benar ingin mengabdikan diri untuk menjadi wakil rakyat yang sesungguhnya. Niat, ketulusan dan keikhlasan mereka untuk benar-benar ingin mengabdi, berjuang, menjadi pelayan buat rakyat, dihadapkan dengan kondisi realitas masyarakat yang trauma dengan pengalaman masa lalu. Masalahnya memang, berapa persenkah dari para caleg saat ini yang benar-benar mau mengabdi untuk kepentingan rakyat? Jika melihat praktik kampanye, sosialisasi, penggalangan yang dilakukan partai dan para caleg, kita memang tidak dapat menyalahkan tudingan negatif masyarakat.

Kini tugas para caleg yang benar-benar berniat untuk mengabdi melakukan cara-cara sosialisasi, penggalangan atau kampanye yang sesuai dengan niat baiknya. Masyarakat harusnya dapat jeli melihat pada caleg yang maju, bukan semata kepada partai yang jumlahnya banyak. Pilihlah caleg yang dapat dikenal langsung, baik dilihat dari omongan maupun prilakunya. Layak diragukan, partai dan caleg yang mengumbar dana banyak. Jika bertemu partai atau caleg yang memberikan sembako, uang, dan bentuk materi lainnya boleh diterima tetapi untuk memilihnya memang pikirlah dulu secara jernih, menurut hati nurani.

Bagaimanapun, hasil Pemilu 2009 tetap akan membawa pengaruh bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara di masa datang, apakah lebih baik atau lebih buruk. Suka atau tidak suka, kita tetap harus menjatuhkan pilihan untuk mendapatkan wakil rakyat yang baru. Pemilu 2009 tetap akan menghasilkan anggota DPR, DPD dan DPRD, masalahnya apakah akan lebih berkualitas? Melihat dari perubahan yang ada, yaitu kita kini lebih diarahkan memilih figur calegnya maka seharusnya kita dapat lebih mudah mendapatkan wakil rakyat sesungguhnya. Seyogyanya pemilu kali ini kita dapat memilih wakil rakyat yang lebih berkualitas karena kita lebih mengenal sosoknya ketimbang  partainya.

Melihat perubahan yang ada, seyogyanya kebingungan kita tidaklah perlu berlarut-larut. Kita tidak harus bingung terus menerus karena jumlah partai yang banyak. Boleh saja kita ragu terhadap partai-partai yang ada tetapi bukankah kita dapat mengenal sosok figur para caleg yang ada. Lain halnya kalau memang kita juga tidak kenal dan andainya kenal juga ragu pada sang caleg maka jalan satu-satunya, perbanyaklah berdoa dan kemudian tetaplah contreng salah satu caleg yang ada. Mudah-mudahan, Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa mengabulkan doa kita, dan kita berhasil mendapatkan wakil rakyat yang baru, yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.  Semoga!

Sumber : http://www.madina-sk.com

Februari 9, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu, Karya Tulisan | , , ,

1 Komentar »

  1. BANYAK PARTAI BIKIN BINGUNG

    Sudah menjadi pedoman hatiku, bahwa dalam pemilihan umum 2009 kita harus menentukan pilihan secara bijaksana. Tapi semua partai peserta pemilu, tiada kupandang tinggi, semua sama tak sapun mendapat keistimewaan.

    Karena bingung, aku membuat suatu undian. Di atas sekelumit kertas kutulis nama-nama partai. Akhirnya kertas itu kugulung sama serta kumasukkan dalam sebuah kotak kosong, yang kemudian kugoncang-goncangkan.

    Dengan mata terpejam kuambil sebuah diantara gulungan-gulungan kertas itu. Ketika gulungan itu sudah kukembangakan, kubuka mataku secara perlahan-lahan. Jantungku turut berdebar keras, Ketika salah seorang di antaranya memperoleh kemenangan.

    Ketahuailah… bahwa yang berhasil memperoleh kemenangan adalah……………………………

    inilah gambaran bimbang masyarakat, apa yang dijanjikan partai politik tak jua mencapai biduk kebahagiaan.

    sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

    Komentar oleh redaksi | Maret 19, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: