Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Perjuangan Caleg Pada Pemilu 2009 Antara Materi dan Dukungan

Oleh : Legino Jr
(Penulis adalah wartawan SK MADINA)

PEMILIHAN Umum (Pemilu) 2009 tinggal beberapa bulan lagi. Berbagai persiapan telah dilaksanakan baik oleh partai politik (Parpol) peserta Pemilu maupun masyarakat sebagai konstituen penyumbang suara. Proses kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat dan KPU Provinsi, serta KPU Kabupaten/Kota secara struktural organisatoris telah pula melaksanakan instruksi dari KPU Pusat dan telah mensosialisasikan semua agenda atau prorgram tahap demi tahap dari pelaksanaan Pemilu 2009, kalau di prosentasekan maka akan terdapat angka 75% tahapan Pemilu itu telah direalisasikan.

Belum lagi para Calon Legislatif (Caleg) DPR RI, DPRD Kabupaten/Kota, maupun DPD, serentak mengambil peran penting untuk mensosialisasikan kegiatan pelaksanaan Pemilu melalui berbagai cara dan teknik. Sehingga selain tahapan Pemilu sampai ke masyarakat, pengenalan para Caleg juga tersosialisasikan secara tidak langsung. Terutama terhadap perubahan tata cara pencoblosan. Masyarakat jadi tahu dengan pola pencoblosan tersebut yaitu dengan mencontreng nomor urut para Caleg.

Para Caleg untuk Pemilu 2009 ini memang sangat bersemangat sekali untuk mendapatkan suara dari para pendukungnya. Sementara masyarakat juga menjadi kebingungan sendiri, ketika melihat begitu membludaknya Caleg dari berbagai Partai Politik (Parpol) bergelantungan diantara tiang listrik, pepohonan, maupun menempel pada tembok-tembok rumah serta tempat-tempat strategis lainnya. Dengan janji-janji politiknya para politisi pemula dan politisi kawakan berlomba untuk menarik simpati masyarakat.

Masyarakat sebagai konsumen, ketika melihat spanduk-spanduk, sticker-sticker, dengan beraneka ragam bentuk, warna dan ukuran, hanya tersipu, tersenyum saja. Paling tidak mereka menggelengkan kepalanya walau hanya sebatas gelengan kecil saja. Bagi politisi, baik yang baru menjajakan masuk ke dalam dunia politik maupun orang-orang yang memang sudah berpengalaman dalam berpolitik, terpaksa harus terpancing, ketika melihat situasi politik tersebut. Seolah para politisi tersebut menjadi gelap mata, logika berpikirnya seperti hilang, tanpa disadari. Pada hal peluang politik yang selama ini menjadi pemicu dirinya sudah didepan  mata. Tapi karena terpengaruh dengan para politisi pemula, jadi ikut.

Padahal kalau secara jujur saja, para politisi lama sudah berada dalam posisi penyempurnaan saja, tidak harus latah ikut campur terhadap para politisi pemula. Jaringan konstituen sudah di tangan, berbeda dengan para politisi pemula, memang mereka harus berjuang untuk mendapatkan jaringan. Terkadang logika politiknya tidak berjalan dengan baik. Ada lagi, para politisi yang merasa tidak “Percaya Diri“ sampai-sampai, orang lain tidak diperbolehkan untuk memasang atribut Calegnya di wilayah kekuasaannya atau konstituennya. Mereka takut tidak mendapatkan suara, kalau ada diantara Caleg lain yang ingin memasang gambar atau atribut Calegnya di wilayah konstituennya tersebut. Walaupun Caleg tersebut satu partai dengan dirinya.

Jadi peluang suara terbanyak memberikan prediksi sumir bagi Caleg lain yang tidak “Percaya Diri“ tersebut. Padahal dalam dunia politik, terkenal dengan istilah keyakinan atau optimisme. Diakui memang, kalau ada seorang politisi, ketika mencalonkan untuk menjadi Caleg, maka dia harus mempunyai jaringan yang kuat. Bukan persoalan materi berlimpah yang dimiliki oleh Caleg tersebut. Boleh saja mereka memiliki materi berlimpah. Namun apakah jaminan, ketika kita mempunyai banyak dana (uang), masyarakat akan memberikan aspirasinya, belum tentu.

Ada strategi lain agar Caleg tersebut bila ingin sukses duduk sebagai anggota Legislatif. Uang banyak belum akan menjamin peroleham suara itu akan berpihak kepadanya. Sebanyak apapun uang yang ada, namum harus ada hitam diatas putih. Masyarakat dewasa ini memerlukan adanya figur, tokoh yang dapat dipercaya. Pasalnya, sudah dari Pemilu ke Pemilu, masyarakat kita selalu dibohongi dengan janji-janji politik yang disampaikan saat berkampanye.

Boleh jadi dana sudah dimiliki oleh para Caleg. Dana tersebut boleh jadi untuk dana sosialisasi atau dana politik yang harus dikeluarkan dari para politisi kepada konstituennya. Boleh jadi juga dana tersebut sebagai kompensasi terhadap proses penarikan simpati suara  agar si Caleg tersebut pada daerah pemilihannya mendapatkan legitimasi, sehingga melenggang masuk menjadi anggota Legislatif. Boleh jadi juga, orang menyebutnya dana tersebut sebagai money politic. Apalah istilahnya, yang jelas posisi masyarakat itu harus benar-benar dipertanggungjawabkan.

Ketika Orde Lama (Orla), masuk ke Orde Baru (Orba), saat ini kita telah melenggang masuk ke dalam masa Orde Reformasi, tentunya, posisi rakyat itu harus benar-benar mendapat legitimasi yang jelas. Selama beberapa Orde itu, posisi rakyat selalu berada di belakang bahkan cenderung menjadi marjinal (dipinggirkan). Melihat kondisi semacam itu, tentunya persoalan masyarakat akan menjadi dipertaruhkan oleh para politisi. Tapi setelah terjadi transaksi jual beli suara pada Pemilu itu terjadi, maka nasib rakyat menjadi sapi perahan lagi. Ketika politisi melenggang ke gedung rakyat (DPRD/DPR/DPD) ketika itu pula rakyat menjadi budak politisi.

Kenapa demikian? karena posisi rakyat berada pada posisi yang lemah. Apapun bentuk komentar yang disuarakan rakyat, manakala para politisi tersebut telah berada di gedung rakyat tersebut menjadi seperti tak berarti. Kondisi semacam ini seharusnya perlu diperhatikan oleh rakyat. Sebesar apapun dana yang diterima oleh rakyat dari para politisi, pasti akan diperhitungkan. Pasalnya, dalam dunia politik itu, tidak ubahnya seperti dunia bisnis. Si besar dan si kecil apapun materi yang dikeluarkan, pasti mereka akan berusaha mengembalikan uang yang pernah dikeluarkannya. Persoalan derita, jeritan rakyat bagaimana nanti saja. Fenomena ini, tentunya telah lama ada di Indonesia ini. Rakyat kita selalu tidak mendapat perjuangan semestinya. Selain itu juga, kondisi rakyat memang sangat membutuhkan persoalan ekonomi sebagai usaha menyambung hidupnya.

Politisi Jujur dan Ikhlas Serta Duafa

Masyarakat Indonesia memang secara geografis tidak sama. Jumlah penduduknya juga bervariasi. Karakter masing-masing warganya juga pada wilayah tertentu punya karakter yang berbeda pula. Sumber Daya Manusia (SDM), standar pendidikannya juga berada pada  tarap yang rendah. Maka wajar, diantara masing-masing tipe masyarakat itu sangat berpengaruh dengan kondisi kehidupannya. Terkadang, persoalan ini menjadi peluang bagi para politisi untuk mempengaruhi mereka.

Masyarakat tidak mau tahu dengan karakter, perilaku, tabiat para politisi tersebut. Kalau sudah mendapatkan sesuatu dari elit politik, mereka sudah senang. Sehingga mereka akan mati-matian memperjuangkan elit politik tersebut. Ambil contoh saja, setiap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) selalu saja diwarnai dengan keributan. Jadi disini kecerdasan masyarakat ada di bawah standar maksimal. Persoalan perut, memang inti utama dari semua perosalan tersebut. Pemanfaatan peluang dari para politisi, setiap kali diadakan pesta demokrasi kerap kali terjadi. Rakyat seolah menjadi lahan sempurna untuk dijadikan sasaran.

Disini diperlukan seorang politisi yang jujur. Dengan pengertian bahwa bukan jujur secara harfiah. Namun jujur secara keseluruhan. Politisi jujur, mereka pasti sangat tidak mungkin melakukan tindakan, tanpa harus didasari oleh dasar hukum yang kuat, baik hukum agama maupun hukum negara. Apapun yang disampaikan dalam setiap kampanye selalu yang penuh dengan pertanggungjawaban, kata-kata santun, tidak mengkambinghitamkan seseorang atau menjelek-jelekkan lawan politiknya. Dan bila mereka sukses, maka kesuksesannya itu akan dipertanggungjawabkan dengan memperjuangkan apa yang dimaui oleh rakyatnya.

Politisi jujur, didalam berjuang selalu penuh dengan keikhlasan. Tidak akan melakukan korupsi, karena di dalam menarik simpati rakyat mereka tidak memakai dana baik yang halal maupun haram. Karena ketidakberdayaan mereka untuk melakukan perjuangannya, maka apapun yang dilakukannya itu hanya mengandalkan kebesaran dari Tuhan Yang Maha Esa (TYME). Biasanya, ketika politisi ini gagal dalam meraih sukses, selalu berlapang dada. Fitnah memfitnah, jelek menjelekan terhadap lawan politiknya selalu mereka jaga dengan penuh rasa tanggung jawab. Bahkan sangat berbeda dengan para politisi yang memang memiliki dana melimpah, tidak jarang setiap melakukan kampanye politiknya berada pada posisi yang lurus, selalu amanah pada setiap apa yang dikerjakannya. ***

Sumber : www.madina-sk.com

Februari 10, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu

1 Komentar »

  1. Assalamu alaikum wr. wb.

    Saudaraku tersayang,
    lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!

    Uang Dihamburkan…
    Rakyat dilenakan…
    Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
    Rakyat diminta menyukseskannya.
    Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
    DEMOKRASI untuk SIAPA?

    Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!
    Halqah Islam & Peradaban
    –mewujudkan rahmat untuk semua–
    “Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
    Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam
    Dengan Pembicara:
    Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
    KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)
    yang insyaAllah akan diadakan pada:
    Kamis, 26 Maret 2009
    08.00 – 12.00 WIB
    Gedung Al Irsyad
    CP:
    Humas HTI Soloraya
    HM. Sholahudin SE, M.Si.
    081802502555
    Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
    hizbut-tahrir.or.id

    Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
    Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)

    Wassalamu alaikum wr. wb.

    Komentar oleh dir88gun | Maret 21, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: