Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Politik Menghalalkan Segala Cara

Oleh Drs.H.Usman Yatim, MPd

ImageMantan Mensesneg Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra SH tampil menjadi khatib di masjid Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jumat, 13 Februari 2009. Kehadiran Yusril di masjid tersebut (menurut jemaah setempat) merupakan yang pertama kali sejak tidak lagi menjadi pejabat Negara. Topik yang disorot mantan Ketua Umum DPP PBB (Partai Bulan Bintang) itu dalam khutbahnya banyak menyorot soal  kehidupan politik tanah air saat ini.

Sebagai seorang politisi, pakar hukum tata Negara dan juga seorang da`i topik khutbah yang dibawakan Yusril sungguh sangat menarik untuk disimak. Dalam kesempatan itu, dia menyorot prilaku orang-orang yang kini terlibat dalam Pemilu 2009. Istilah praktik politik “menghalalkan segala cara” sempat dicuatkan Yusril, seraya mengingatkan tentang moral politik dalam Islam.

Menurut Yusril, Islam tidaklah melarang kita untuk berpolitik, sebaliknya justru mendorong untuk berpolitik. Masalahnya, politik bagaimanakah yang harus kita tampilkan? Politik “menghalalkan segala cara” sudah jelas bukanlah politik yang dikekehendaki oleh Islam. Namun, kenyataannya praktik ini banyak terlihat, seperti berkembangnya fitnah terhadap lawan politik, saling menjelekkan satu sama lain, politik uang, serta juga tindak kekerasan massa atau anarkisme.

Apa yang dikemukakan oleh Yusril Ihza Mahendara dalam khutbahnya itu sungguh menarik. Mendengar kata-katanya, kita merasakan betapa politik itu sebenarnya baik tetapi sangat tipis persinggungannya dengan hal-hal buruk. Dalam hal ini, peran moral agama sangat penting dalam upaya mengendalikan diri dari prilaku politik “menghalalkan segala cara” yang terkenal dikedepankan oleh Niccolò Machiavelli (3 Mei 1469 – 21 Juni 1527).

Khutbah Yusril itu kian mengena di hati saya, setelah berikutnya sore hari mengikuti ceramah Dr.Purwo Santoso MA tentang upaya memahami politik dan ilmu politik. Sejumlah istilah yang dikemukakan Prof Dr Yusril Ihza Mahendara SH juga kembali terdengar meski dalam konteks audience yang berbeda. Dr.Purwo Santoso MA dalam perkulihan di Lemhannas itu tentu saja banyak berbicara dengan berpijak pada kajian ilmu politik. Bahkan dalam kuliah perdana itu, Purwo Santoso mencoba memberikan semacam lensa atau cara pandang dalam melihat politik dan permasalahannya. Kita dapat melihat politik dari mana kita berpijak, apakah itu dari realitas kepada idealitas atau sebaliknya dari idealitas kepada realitas politik yang ada.

Pemahaman terhadap politik memang sangat menarik untuk diikuti, terlebih peserta perkulihan di Lemhannas, di antaranya terdapat sejumlah calon legislative, baik tingkat DPRD maupun DPR sehingga dalam diskusi kembali mencuat berbagai istilah yang juga sempat muncul dalam khutbah Jumat Prof Yusril Ihza Mahendra. Menurut Purwo Santoso, kian banyak kita memahami politik dari kajian teoritis dan praktis maka akan beragamlah pendapat yang mengemuka.

Seyogyanya dari pemahaman itu, kita akan dapat memiliki sikap dan kearifan yang seharusnya tidak membuat kita skeptis dan apriori. Hal ini patut dicatat, mengingat ada komentar yang secara ekstrim orang menjauhi politik karena dinilai kotor, menjijikkan, penuh ketidakjujuran, tipu daya, dan dunia yang mempraktikkan penghalalan segala cara. Politk dari pandangan skeptis yang awam ini, lebih baik dijauhi karena tidak lebih sebagai alat untuk meraih kepentingan pribadi atau kelompok, termasuk alat jalan pintas untuk menggapai atau memupuk  kekayaan.

Pernyataan Yusril memang tidaklah berlebihan. Banyak masyarakat kini skeptis atau apriori terhadap pemilu saat ini. Mereka melihat para caleg yang ramai berkampanye tidak lebih adalah orang-orang yang memperebutkan sebuah posisi untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Oleh karena itu membuat mereka menjadi golput (tidak ikut memilih). Dasarnya, untuk apa atau apa untungnya kita ikut memilih? “Mereka hanya memanfaatkan kita. Mereka bilang berjuang untuk rakyat tapi itu hanya manipulasi atau memanfaatkan atas nama kepentingan rakyat demi kepentingan pribadi,” demikian kata-kata dari mereka yang melihat negative pemilu.

Tentu saja penilaian yang positif terhadap pemilu masih banyak. Mereka ini melihat pemilu sebagai wadah untuk kembali menilai dan sekaligus memilih orang-orang yang nantinya dapat memimpin bangsa dan Negara ini. Boleh jadi ada orang-orang yang melihat peluang pemilu sebagai upaya untuk memperkaya diri, meraih kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Namun, mereka menyadari bahwa lewat pemilu kita harus mendapatkan orang-orang terpercaya yang siap untuk menjadi pelayan public, pengabdi buat orang banyak. Inilah yang idealnya, sebagaimana pemahaman  terhadap politik.

Apakah sebenarnya politik itu? Pertanyaan ini patut diajukan agar kita tidak melihatnya secara hitam putih, menyukai atau membencinya. Dalam Wikipedia, disebutkan bahwa “politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.”

Pemahaman di atas memperlihatkan kata proses, kekuasaan, masyarakat, pembuatan keputusan dan Negara. Artinya, ada aktifitas yang terjadi dari seseorang atau kelompok untuk melakukan sesuatu yang bersifat mempengaruhi kelompok (masyarakat) untuk mendapatkan kewenangan, legitimasi sehingga dapat melakukan tindakan atau kebijakan untuk mencapai suatu kepentingan atau tujuan bersama yang diwadahi oleh apa yang disebut dengan Negara. Politik juga adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan Negara. Definisi lain, politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Selain itu politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Disebutkan pula, politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Kegiatan pemilu dapat disebut sebagai bentuk upaya meraih kekuasaan lewat cara-cara konstitusional. Sedangkan kudeta, pemberontakan merupakan sebaliknya. Selain itu “politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).”

Perilaku politik atau (Inggris:Politic Behaviour)adalah perilaku yang dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan kewajibannya sebagai insan politik.Seorang individu/kelompok diwajibkan oleh negara untuk melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan perilaku politik

Adapun yang dimaksud dengan perilaku politik contohnya adalah pelakukan pemilihan untuk memilih wakil rakyat / pemimpin, mengikuti dan berhak menjadi insan politik yang mengikuti suatu partai politik atau parpol , mengikuti ormas atau organisasi masyarakat atau lsm lembaga swadaya masyarakat.

Ikut serta dalam pesta politik, ikut mengkritik atau menurunkan para pelaku politik yang berotoritas, juga merupakan bentuk prilaku politik. Begitu pula, berhak untuk menjadi pimpinan politik, serta berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh undang-undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kata kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik. Prof Miriam Budiardjo menyebutkan pula, politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals), dan bukan tujuan pribadi seseorang (private goals).

Dari berbagai pemaparan tentang politik di atas dapatlah dipahami bahwa kehidupan kita tidak pernah lepas dari politik. Dunia politik dapat dilihat dari berbagai sisi, termasuk hal-hal yang negative. Namun dari kajian di atas, kita memerlukan politik dalam kerangka pengelolaan bangsa dan Negara ini sehingga dapat mewujudkan  kepentingan atau tujuan bersama. Kehidupan yang makmur, adil dan sejahtera, tidak lain banyak ditentukan oleh bagaimana kehidupan politik kita dibangun. Apa yang terjadi pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan kini Orde Reformasi, semuanya banyak mempengaruhi tingkat kehidupan masyarakat. Tingkat kesejahteraan atau kemakmuran, kehidupan yang aman dan tentram, selalu dikaitkan dengan kondisi politik yang ada kala itu.

Oleh karena itu, kita boleh saja memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap Pemilu yang kini tinggal menghitung hari. Yusril Ihza Mahendra sudah memberi sedikit gambaran tentang prilaku politik yang patut dihindari oleh para caleg, termasuk nanti yang bakal ikut pilpres dan pilkada. Bagaimanapun, politik menghalalkan segala cara patut kita hindarkan meski godaan untuk melakukannya selalu ada. Dari sinilah agaknya, bagi kita yang beragama, memiliki iman, percaya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Sang Maha Kuasa, tidak tergoda untuk melakukan berbagai prilaku politik yang dapat merusak makna politik untuk kepentingan atau kemaslahatan orang banyak.

Februari 21, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu, Karya Tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: