Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Mempertahankan Partai Dalam Nuansa Baru

Oleh Haryono Suyono

ImageSetelah para caleg beramai-ramai menyambut tahun baru dengan lambaian umbul-umbul dan senyum manis yang terpampang hampir di semua pohon di kota-kota besar, akhir-akhir ini para caleg mulai mengadakan penetrasi langsung ke pedesaan untuk menarik simpati para calon pemilih di Dapilnya masing-masing. Banyak cara yang mereka lakukan. Ada yang langsung mendatangi “kenalan” senior partainya, ada yang mendatangi para sesepuh yang mereka anggap mempunyai pengaruh, ada pula yang dengan Tim suksesnya mengambil prakarsa mengumpulkan mereka dalam pertemuan-pertemuan silaturahmi.

Tehnik-tehnik serupa dilakukan pula oleh calon sesama partai dengan nomor urut yang berbeda-beda tetapi mempunyai Dapil yang sama. Begitu juga para anggota dari partai lainnya, sama-sama mengeroyok Dapil yang sama. Akibatnya di pedesaan sekarang ini ada keramaian tersendiri yang isinya tidak lain adalah menarik simpati perorangan dari partai yang sama, atau calon baru dari partai yang berbeda. Calon dari partai yang sama selalu mengatakan bahwa mandat yang dibawakannya adalah mandat partai dan dia adalah orang yang dipercaya partai untuk terpilih dari Dapil yang bersangkutan. Biarpun, karena persoalan administratif, nomornya bukan nomor satu atau nomor dua yang dianggap diunggulkan. Mereka akan berdalih bahwa penomoran untuk masa kini tidak penting lagi, tetapi sebagai kader terpercaya, dia minta dukungan seperti halnya sesepuh itu memberikan dukungan kepada partai di masa yang lalu.

Sebaliknya calon dengan nomor kecil akan berdalih bahwa dirinyalah yang dipercaya partai untuk mewakili partainya dari Dapil yang bersangkutan sehingga dukungan seluruh simpatisian di daerah itu perlu dimantapkan untuk mendukung dirinya. Bahkan ada kasus yang cukup unik bahwa seseorang calon yang telah mendatangi sesepuh yang dianggap berpengaruh terpaksa memasang mata-mata agar tidak ada orang lain mendekati lagi tokoh tersebut dengan seribu alasan bahwa tokohnya tidak ada di rumah, sedang istirahat dan lain sebagainya.

Gesekan terhadap partai dan caleg dari sesama partai mulai terjadi. Gesekan pertama melunturnya kepercayaan terhadap partai. Partai yang merasa bahwa kewajibannya untuk menyediakan dana kampanye sudah diserahkan kepada para caleg akan segera kehilangan kredibilitas sebagai partai politik karena tidak mustahil bahwa calegnya akan mempergunakan segala macam trik untuk tidak mengikuti garis partai dan tidak lagi memperjuangkan visi, misi dan membawakan program partainya. Mereka lebih taat pada iming-iming yang dijanjikannya agar mendapat kepercayaan dan terpilih dalam Dapilnya.

Gesekan kedua dari caleg sesama partai. Dimasa lalu kampenye ditujukan kepada ajakan untuk memilih partai sebanyak-banyaknya sehingga caleg nomor kecil hampir pasti menang dibandingkan calon dari partai lainnya. Kalau semangat memilih partai ini tinggi, maka nomor yang besarpun bisa kebagian jatah untuk terbawa sebagai anggota legislatif. Keadaan sekarang berbeda, para caleg tidak harus memperkenalkan partainya, bisa langsung memperkenalkan nomornya dalam urutan partai yang mengusungnya.

Apalagi calon-clon dari partai-partai yang baru. Bisa saja mereka menyatakan bahwa partai yang diikutinya di masa lalu tidak memperjuangkan nasib rakyat banyak, sehingga dia “terpaksa” pindah partai yang diyakininya akan lebih kokoh memegang komitmennya untuk berjuang demi kesejahteraan rakyat. Trik semacam ini akan merugikan partai lama karena rakyat tidak mengetahui secara tepat bagaimana kiprah perjuangan partai yang baru tersebut. Keterangan dari anggota partai baru di Dapil itu bisa sangat menyesatkan tetapi sukar dicegah karena segala kegiatan diserahkan kepada para caleg di Dapilnya masing-masing.

Waktu tidak terlalu lama lagi. Sukar sekali mengadakan koreksi lapangan dalam waktu yang demikian singkat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengerahkan pengurus daerah partai untuk mengawal para anggotanya dan mencegah mereka merugikan partai yang mengusungnya menjadi calon legislatip. Para pengurus cabang, ranting sampai di lapangan dapat mengantar para calegnya untuk mengadakan silaturahmi bersama dan membawakan visi, misi dan perjuangan partai dalam satu kesatuan yang kompak sehingga siapapun yang terpilih akan mengangkat derajat, martabat dan perolehan partai dalam Pemilu.

Teori ini mudah dikatakan tetapi agak mustahil dilaksanakan karena tidak mustahil pengurus partai di cabang dan ranting akan didominasi oleh caleg yang kekuatan dukungan anggarannya tinggi. Caleg dengan anggaran kampanye seadanya hampir pasti sukar mengikuti gerakan bersama tersebut.

Cara lain yang perlu dikembangkan adalah mengadakan kampanye secara terpusat melalui berbagai media masa, tv, radio dan surat kabar maupun jaringan internet yang makin membudaya untuk mengetengahkan visi, misi dan perjuangan partai politik. Kampanye melalui media massa itu diperluas pula dengan kampanye yang sama gegap gempitanya melalui umbul-umbul, spanduk, banner atau lainnya, yang isinya bukan memperkenalkan satu atau dua calon nomor satu saja, tetapi semua calon yang mewakili partainya. Ekspose ini akan memberi peluang kepada caleg suatu partai untuk bersatu dalam kampanye pribadinya, menterjemahkan visi, misi dan program partainya dalam konteks daerah yang diwakilinya. Penyelewengan terhadap visi, misi dan program partai akan dengan mudah terlihat manakala rakyat melihat spanduk, banner atau media massa yang memuat dengan gamblang tujuan partai yang mengusung calonnya.

Tentu ada banyak cara lainnya. Kalau partai politik hanya mengadalkan calegnya untuk membela partai, hampir pasti kepentingannya terbatas. Buktinya adalah tumbuhnya partai-partai baru padahal tokohnya sama saja. Kalau partai politik tidak waspada, Pemilu ini bisa menjadi kuburan partai politik yang terlalu percaya diri dan mengabaikan perkembangan nuansa baru tersebut.  (Prof. Dr. Haryono Suyono, http://www.haryono.com).

Maret 4, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: