Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Partai Bekerja Untuk Jangka Pendek

Oleh Prof Dr Syofyan Saad MPd
Image
Hal itu dapat terlihat melalui kesuksesan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Demokrat untuk mengantarkan pimpinan mereka memegang tampuk kekuasaan. PDI-P mengantarkan Megawati Soekarnoputri dan Partai Demokrat mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono ke kursi Presiden.
Presiden sebelumnya, yakni Abdurrahman Wahid pun menduduki kursi kepresidenan atas dukungan partai-partai baru yang membangun koalisi. Era baru demokrasi di Indonesia memulai babak baru. Kebebasan untuk mengorganisasi diri kemudian diterjemahkan secara politis dalam bentuk partai. Tidak keliru, namun perlu juga dicermati.

Iklim baru yang datang sejak lahirnya era reformasi masih terus menelurkan partai baru hingga saat ini. Bahkan, saat ini 42 partai politik menjadi peserta Pemilu 2009, dapat dipastikan dinamika dan gegap gempita politik kian membahana.

Bersama itu yang menarik pula, partai-partai baru itu dibentuk dengan mengedepankan visi yang sangat strategis. Misalnya saja Partai Republiku, dibentuk sebagai upaya menjawab keterpurukan yang dialami bangsa ini. Partai Republiku tidak mau berdiam diri menghadapi krisis kepemimpinan di Republik Indonesia. Maka, partai baru tersebut kemudian berjuang keras untuk memenangkan Pemilu. Caranya adalah dengan merekrut kader-kader yang berjuang menjadi partai yang dapat dipercaya.

Partai lainnya lagi, Partai Buruh, misalnya, bertekad memperjuangkan terwujudnya negara kesejahteraan dengan mencontoh kesuksesan partai buruh di Australia, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Inggris.

Sebenarnya, kemunculan partai-partai baru sebagai wujud warga yang mengorganisasi diri perlu kita sambut baik. Sebab pada dasarnya hal itu merupakan gejala yang wajar. Namun jika munculnya sporadis, itu menandakan ada yang tidak stabil secara politik.

Karena itulah, kemudian banyaknya partai baru yang terus bermunculan, tidak selalu dapat kita tanggapi secara positif. Sebab, ternyata banyak partai-partai baru yang muncul diduga sebagai refleksi nyata mengenai ketidakstabilan iklim polik Indonesia saat ini. Kegagalan partai-partai kecil dalam Pemilu 2004 secara psikologis tak menyurutkan minat untuk membuat partai baru. Namun di sisi lain, kapabilitas partai-partai itu belum teruji.

Tidak kalah mengkhawatirkan dari kenyataan ini adalah kemunculan partai-partai baru tersebut nantinya akan digunakan sebagai alat negosiasi untuk mengambil posisi dalam kekuasaan. Dalam konteks ini, seperti yang pernah diungkapkan oleh dosen parcasarjana untuk kajian Politik Lokal dan Otonomi Daerah, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Cornelis Lay kemuculan partai-partai itu justru akan berdampak negatif pada proses politik dan demokrasi di Indonesia. Sebab bisa saja partai-partai baru yang terbentuk itu hanyalah hasil dari dorongan figur-figur untuk melakukan negosiasi politik bagi dirinya sendiri.

Partai baru yang terbentuk hanya karena dorongan figur-figur untuk melakukan negosiasi politik bagi dirinya sendiri perlu dipertanyakan stabilitasnya. Sebab, pada hakekatnya mendirikan sebuah partai semestinya bukan perkara yang mudah. Selain memiliki visi, keyakinan, sistematisasi, partai itu harus ditunjang oleh ideologi yang solid.

Dengan demikian, akan dapat diandalkan menjadi wadah aspirasi yang cukup stabil. Sedangkan partai-partai yang dibuat secara praktis, hanya karena dorongan figur tertentu, dan kemudian dengan mudah mengganti nama atau identitas, maka programnya pun menjadi pragmatis belaka, menjadi respons politik temporer, dan kehilangan perspektif jangka panjang.

Sangat memprihatinkan jika saja hal tersebut terjadi. Sebab, proses demokratisasi di Indonesia akan terancam karena partai hanya bekerja untuk proses jangka pendek. Yang menjadi tujuan baginya, bukan lagi menjawab keterpurukan yang dialami bangsa ini, apalagi memperjuangkan terwujudnya negara kesejahteraan. Melainkan hanya untuk mengambil posisi dalam kekuasaan.

Efek dari semua itu, anggota parlemen yang dihasilkan juga kurang mumpuni. Oleh karena itu, kinerja partai politik tidak boleh sembarangan. Sebab, konsekuensi dari semua itu tak bisa diremehkan. Proses mengakar dalam masyarakat bukanlah semudah memperkenalkan diri apalagi berkampanye. Oleh karena itu, proses standardisasi partai harus kuat.

Dengan menetapkan standar yang kuat, maka natinya ke depan partai-partai yang terbentuk bukan hanya sekadar partai yang muncul untuk meraih posisi dalam kekuasaan, dan tidak memikirkan proses jangka panjang kehidupan perpolitikan Indonesia. Melainkan partai yang betul-betul murni sebagai wujud nyata dari proses mengorganisasi diri.

Maka, iklim perpolitikan Indonesia pun akan semakin mencerahkan sehingga dapat menyuburkan lahan perpolitikan tak sekadar melahirkan kekuatan-kekuatan politik yang baru saja, namun sekaligus kekuatan-kekuatan politik yang dapat membawa bangsa ini mencapai proses pendewasaan dalam berpolitik.

Namun di sisi lain, ada persoalan lain yang lebih serius, yaitu sumber dana partai-partai baru. Dalam kondisi ekonomi yang masih payah, untuk membuat partai membutuhkan dana yang besar. Sumber dana bagi partai-patai baru pun kemudian menjadi pertanyaan. Dari manakah gerangan dana yang didapat? Itulah yang paling merisaukan.

Pertanyaan lanjutannya, mengapa ketika untuk pemberdayaan masyarakat mengentaskan kemiskinan, sering disebut-sebut pelbagai pihak dimintai bantuannya selalu tak punya dana; tapi ketika untuk mendirikan partai politik, justru dana-dana itu melimpah ruah –mengapa? ***

sumber : www.madina-sk.com

April 7, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu | , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: