Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Harakiri dan Pembelajaran Politik

Oleh Drs.H.Usman Yatim, MPd

ImageHari Pemilu legislative baru saja berlalu. Kini, saat-saat penghitungan suara terus dilakukan, para calon legislatif tentu bertanya-tanya, apakah pada akhirnya mereka nanti akan dapat terpilih sebagai wakil rakyat, apakah anggota DPR RI, DPD, DPRD I atau DPRD II?

Sebagian di antara para caleg sudah jelas ada yang optimistis dan banyak pula yang pesimistis atas kemungkinan terpilih. Rasa ragu-ragu, waswas, cemas, khawatir, dan tentu juga yakin terpilih dapat menyatu dalam hati dan pikiran para caleg. Menjadi pertanyaan, apakah upaya mereka, seperti tenaga, pikiran, dan tentu dana yang dikeluarkan telah membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan dapat terpilih sebagai wakil rakyat?

“Saya habis segala-galanya. Habis tenaga, habis suara, habis duit,” demikian kata seorang caleg DPR RI dari Partai Demokrat, dapil Jakarta Timur. Caleg ini mengaku siap untuk menerima kenyataan untuk tidak terpilih. Dia mengaku untuk menang memang tidak mudah, mengingat caleg-caleg lainnya, baik dari partai sendiri dan partai lainnya adalah lawan berat. “Untung dari awal saya sudah siap mental untuk menerima kenyataan, kalau tidak kita dapat stress berat,” ucapnya lagi.

Pernyataan caleg tersebut juga dirasakan sama oleh seorang caleg DPRD DKI yang juga mengaku cukup berat untuk terpilih, meski tetap merasa optimistis. Menurut dia, persoalannya bukan soal menang atau kalah tetapi bagaimana sikap masyarakat dalam melihat para caleg. “Saya terus terang cukup stress terhadap masyarakat. Mereka melihat saya maju sebagai caleg tak lebih karena menilai punya banyak uang. Masyarakat tidak melihat latar belakang dan kemampuan kita, mereka hanya melihat apa yang dapat kita berikan buat mereka sekarang. Ujung-ujungnya kita cenderung didorong untuk money politics,” kata caleg pemula yang mengaku pasrah atas apapun hasil pemilu kali ini.

Pernyataan dua caleg tersebut boleh jadi juga dirasakan oleh banyak para caleg lainnya di seluruh Indonesia. Suasana pemilu kali ini memang demikian ramai dilihat dari keterlibatan para caleg dalam melakukan sosialisasi atau kampanye untuk mendapatkan simpati rakyat pemilih. Mereka tanpa didorong oleh partainya berinisiatif sendiri untuk berkampanye. Semua ini karena penetapan caleg terpilih bukan berdasarkan nomor urut tetapi suara terbanyak sehingga semua caleg berpotensi terpilih asalkan dipilih langsung oleh rakyat pemilih.

Banyak Tak Terpilih

Sebagaimana diketahui dari jumlah caleg yang demikian banyak itu hanya sedikit yang bakal terplih. Jumlah kursi untuk DPR RI, DPD, DPRD Tingkat I dan II seluruh Indonesia sebanyak  18.960 kursi, sedangkan jumlah calon legislative sebanyak 291.179 orang, berarti hanya 15 persen yang akan terpilih. Mayoritas dari para caleg tersebut harus menerima kenyataan bahwa mereka tetap akan berstatus caleg alias tidak terpilih. Dapat diyakini, para caleg yang tidak banyak melakukan sosialisasi atau kampanye  kepada rakyat pemilih, tidak mungkin terpilih. Bahkan, mereka yang sudah gencar berkampanye, mengeluarkan banyak dana, politisi yang sudah dikenal, berada pada urut kecil, juga sangat dimungkinkan tidak terpilih.

Kemungkinan tidak terpilih itu karena adanya perubahan dari penentuan caleg terpilih berdasar nomor urut menjadi suara terbanyak. Lewat penentuan suara terbanyak, rakyat kini cukup memiliki peluang untuk lebih fokus memilih caleg ketimbang parpol. Artinya para caleg yang punya suara terbanyaklah yang ditetapkan sebagai pemenang, bukan mereka yang berada pada nomor urut kecil.

Kita misalkan saja, apakah Agung Laksono, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar yang berada pada nomor urut 1 sebagai caleg DPR RI dari daerah pemilihan Jakarta Timur akan dapat terpilih? Jika kondisi sekarang sama dengan tahun 2004, peluang Agung sangatlah besar karena rasanya untuk mendapatkan satu kursi DPR RI untuk Golkar di Jaktim sangat dimungkinkan. Bukankah Golkar pada 5 tahun lalu berhasil meraih suara terbanyak pemilu?

Namun, kini keadaannya berbeda. Agung Laksono bukan saja harus bersaing dengan caleg dari partai lain, seperti PKS dan PAN tapi dia juga harus bersaing dengan rekannya sesama Partai Golkar. Tingkat populeritas dan kredibilitas Agung sebagai politisi senior kini benar-benar dipertaruhkan. Kondisi serupa juga berlaku terhadap para caleg lain  yang punya tingkat populeritas sama.

Bukan tidak mungkin dengan penentuan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak ini para caleg yang belum banyak dikenal tiba-tiba dinyatakan sebagai caleg terpilih. Hal itu pula mengapa kini disebut-sebut banyak para caleg mengalami stress, ragu-ragu, apakah akan terpilih atau tidak. Mereka stress karena segala upaya sudah dikerahkan tapi rakyat pemilih masih banyak “wait and see” atau bahkan terang-terangan menyatakan golput.

Apalagi melihat prilaku rakyat pemilih yang banyak sudah mulai lebih cerdas. Begitu pula, sosialisasi lewat mass media seperti televisi yang mengimbau rakyat jangan mau memilih caleg atau partai yang melakukan money politics. “Terima sembako atau uangnya tapi pilihlah caleg yang benar-benar bersih,” bunyi seruan menentang partai atau caleg pelaku money politics. Seruan ini cukup efektif menyadarkan rakyat pemilih, terutama di kota-kota besar.

Harakiri Politik

Dosen Fisip UGM Purwo Santoso menyatakan, melihat kualitas para caleg dan jumlah parpol yang demikian banyak, dia menilai kini banyak orang bertindak naïf dalam politik. Kenaifan ditujukan kepada mereka yang berani menjadi caleg tapi sesungguhnya jika mereka mau mengukur atau mematut diri, seyogyanya tidak harus menjadi caleg. Bayangkan, ada caleg karena merasa punya uang banyak merasa yakin dapat menarik simpati rakyat pemilih.

Belum lagi kalau melihat berbagai dialog atau debat para caleg yang ditayangkan televisi, jelas sekali di antara mereka tidak memiliki kompetensi untuk menjadi wakil rakyat. Misalnya, ada caleg yang berlatar artis, ketika ditanya apa tugas anggota DPR, sama sekali tidak dapat menjawab, kecuali hanya tersenyum bingung seraya meminta rekan pendukung partainya untuk menjawab, dan mengaku belum dapat menjawab karena baru belajar.

Hal yang benar-benar naïf adalah orang-orang yang sudah menyadari tidak bakal terpilih dilihat dari sudut manapun tapi tetap juga ngotot ikut menjadi caleg. Mereka maju menjadi calon wakil rakyat semata didorong oleh harapan  kepada nasib baik atau untung-untungan. Forum pemilu legislative dijadikan sebagai peluang mengadu nasib karena melihat orang-orang sebelumnya yang menjadi wakil rakyat karena factor keberuntungan.

Bukankah pada Pemilu sebelumnya cukup banyak orang-orang yang menjadi anggota legislative karena tiba-tiba partai yang dimasuki mendapat dukungan signifikan dari rakyat pemilih. Padahal dia sebelumnya ikut menjadi caleg hanya untuk sebagai penggembira alias ikut-ikutan tapi nyatanya terpilih. Namun pada situasi pemilu saat ini, faktor keberuntungan menjadi sangat kecil. Boleh jadi ada partai baru yang akan mendapat suara lumayan, namun caleg terpilih tetap banyak ditentukan dari sejauhmana posisinya dikenal langsung oleh rakyat pemilih. Penetapan caleg terpilih berdasar suara terbanyak membuat kini peluang mengadu nasib tidak lagi menjadi mudah.

Kondisi itulah yang membuat banyak para caleg sebenarnya tanpa disadari berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Mereka sebenarnya juga ibarat melakukan hara-kiri, melakukan tindakan membuat “kuburan” untuk diri sendiri. Mereka ikut dalam kancah politik yang sesungguhnya tidak lebih sebagai harakiri politik. Mereka mengeluarkan modal yang tidak sedikit tapi akhirnya nanti harus menerima kenyataan tidak terpilih.

Harakiri merupakan istilah bagi orang Jepang untuk melakukan bunuh diri yang dilakukan secara sadar. Maksudnya tindakan bunuh diri itu bukan factor karena kecewa, putus asa, atau istilah lainnya bosan hidup. Harakiri terkait tindakan bunuh diri yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jepang. Harakiri dapat saja dianggap sebagai tindakan terhormat yang dibenarkan sebagai bentuk perwujudan rasa tanggungjawab, sikap ksatria seseorang.

Pemahaman terhadap harakiri ini tampaknya dapat pula dikaitkan dalam dunia politik di Indonesia, terutama untuk melihat fenomena politik yang terjadi semasa penyelenggaraan pemilihan umum yang kini sedang berlangsung. Sama kita ketahui, ketika rakyat pemilih selesai melakukan pencontrengan, surat suara selesai dihitung dan  hasilnya menetapkan siapa yang akan menjadi anggota legislatif  maka sudah dapat dipastikan akan ditemukan banyak para caleg (calon legislative) yang gagal, Kegagalan tersebut sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak awal namun mereka tetap berani maju menjadi caleg. Disebut harakiri politik karena sudah pasti tidak terpilih tapi masih mau menjadi caleg dengan mengeluarkan investasi yang tidak sedikit, bahkan ada dengan utang ke sana ke mari yang dapat saja menjadi beban hidup setelah pemilu.

Pembelajaran Politik

Harakiri politik yang dilakukan banyak orang lewat ikut sebagai caleg yang ujung-ujungnya pasti gagal tidak selalu harus kita sebut sebagai suatu kekonyolan dalam politik, meski memang demikian adanya. Bagaimanapun, harakiri politik tersebut tetap patut dinilai sebagai bagian dalam pembelajaran politik bagi anak bangsa yang sedang dilanda eforia berdemokrasi. Kebebasan berpolitik harus diberikan dalam kerangka mengembangkan partisipasi politik yang juga bermuatan pembelajaran politik. Kran kebebasan berpolitik yang demikian luas membuat banyak orang berpikir bahwa politik dapat sebagai lahan, bukan saja dalam arti untuk kiprah politik kekuasaan tapi juga ajang “bisnis” dan “kesempatan kerja”.

Kondisi tersebut juga berlaku terhadap partai-partai baru yang ngotot ikut pemilu dan pada akhirnya juga tidak bakal mendapat suara signifikan. Mereka membentuk partai baru lebih disemangati oleh peluang untuk mendapatkan simpati rakyat tanpa melihat kondisi dan posisi mereka di mata rakyat. Patut dipertanyakan, apakah mereka membentuk partai politik tersebut karena memiliki tujuan atau cita-cita politik, misi perjuangan untuk benar-benar mengabdi buat bangsa dan Negara atau tidak lebih hanya sebagai upaya melihat peluang “bisnis”, “kerja” atau “karir” dalam dunia politik.

Pembelajaran politik memang diperlukan meski harus dibayar mahal dan banyak kekonyolan atau bahkan harakiri politik. Tampaknya orang-orang memang harus diberi kesempatan untuk masuk dalam dunia politik sesungguhnya dan setelah itu mendapat hikmah dengan menyadari konsekuensi yang dihadapi dalam berpolitik. Kesadaran terhadap bagaimana dunia politik sesungguhnya akan muncul setelah ikut menjadi caleg atau membentuk partai baru.

Dari pembelajaran politik yang sudah diikuti pada akhirnya dapat memberi wawasan baru dalam dunia politik kita di masa mendatang. Misalnya, kita berharap, jumlah partai politik yang demikian banyak saat ini dapat menyusut secara alami. Berpolitik kini tidak harus lewat pembentukan partai-partai baru, melainkan bagaimana dapat berkiprah lewat parpol yang sudah mapan. Tentu saja dengan penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak membuat partai-partai lama dan yang sudah lumayan mapan dapat memberi peluang dan kesempatan terbuka untuk dimasuki oleh orang-orang yang mau terjun dalam dunia politik praktis.

Apa yang dilakukan oleh Partai Amanat Nasional (PAN), yaitu memberi peluang terbuka kepada masyarakat luas untuk menjadi caleg, membuat parpol ini tidak lagi sebagai lembaga eksklusif  yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang tertentu. Parpol (PAN) sesungguhnya dapat dimasuki oleh siapa saja, sejauh memang memiliki sejumlah kriteria atau persyaratan yang memadai untuk menjadi seorang politisi. Bilamana setiap partai politik memberi peluang terbuka bagi siapapun, terutama kesempatan untuk menjadi caleg, maka ambisi mendirikan partai baru akan dapat mereda secara alami.

Selama ini dapat diduga, berdirinya partai-partai baru tidak lebih karena factor tersumbatnya kran aspirasi terhadap parpol yang ada. Banyak tokoh mendirikan partai antara lain karena dia merasa tidak mendapat tempat yang layak pada partai di mana dia berkiprah selama ini. Sementara dia berpendapat, jika mendapat posisi yang layak pada partainya dia berkeyakinan akan dapat memberi kontribusi yang lebih maksimal untuk mengabdi pada bangsa dan Negara. Walaupun pendapat tersebut belum tentu sepenuhnya benar, karena begitu dia berada di partai baru, ternyata dia tidak mendapat dukungan signifikan dari rakyat pemilih.

Di sinilah, pembelajaran politik dapat dipetik bagi mereka yang masih berambisi untuk mendirikan parpol baru. Jangan sampai ambisi politik mengalahkan akal sehat yang menimbulkan kekonyolan atau harakiri politik. Kesadaran perlu dimiliki bahwa partisipasi politik tidak harus lewat mendirikan parpol baru. Jika memang masih memiliki ambisi politik mengapa tidak terus menunjukkan kiprah, melakukan yang terbaik dalam partai di mana berkiprah selama ini.

Patut pula disadari bahwa bila posisi sedang terpinggirkan boleh jadi dapat dipakai sebagai evaluasi atau mawas diri, sebagai pengingatan bahwa keberadaannya memang sudah harus dikurangi untuk memberi peluang kepada kader-kader yang baru. Selain itu juga untuk proses penyadaran, pengembangan wawasan baru untuk lebih menempa diri, untuk  kemudian pada waktunya akan kembali tampil mengambil peran yang lebih penting dan signifikan. Jadi bukan pada saat tersebut dijadikan untuk hengkang, membentuk partai baru yang sebetulnya di mata public malah dinilai sebagai penurunan kredibilitas karena tidak atau kurang loyal kepada partai yang ditinggalkan.

Mudah-mudahan saja, pemilu legislative yang baru berlalu dapat melahirkan kesadaran baru dalam kita berpolitik. Kita mendapatkan pembelajaran yang cukup mahal harganya. Harakiri, kekonyolan demi kekonyolan, kita harap tidak lagi berlanjut pada pemilu mendatang, termasuk pemilihan presiden yang tidak lama lagi.

sumber : www.madina-sk.com

April 13, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu, Karya Tulisan | , , , , , , ,

2 Komentar »

  1. Wah, tulisannya menjawab soal banyaknya caleg yang stress, pak usman gimana?

    Komentar oleh Young Kelana | April 18, 2009 | Balas

  2. what a great site and informative posts, I will add a backlink and bookmark your site. Keep up the good work!

    I’m Out! 🙂

    Komentar oleh online stock trading advice | Januari 12, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: