Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Setelah Caleg, Giliran Capres Memikat Rakyat

Oleh : Haryono Suyono

ImageBaru saja Pilcaleg berakhir. Yang terpilih dengan suara terbanyak pasti bersyukur dan menyatakan bahwa Pilcaleg berlangsung dengan baik. Yang tidak terpilih pasti akan menyatakan bahwa Pilcaleg tidak memuaskan. Seperti pesta yang mengundang peserta massal, disana-sini akan mencuat ketidak puasan karena berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dengan nama caleg salah cetak atau tidak lengkap, jumlah kartu suara yang tidak mencukupi, atau cacat, dan tata cara pencontrengan yang kurang dipahami. Terlepas dari kekurangan yang ada, sebagai bangsa besar banyak yang tidak terlalu kecewa dan dengan hati legowo menganggap segala sesuatunya telah berjalan dengan baik. Karena itu kita berharap caleg terpilih dan dilantik menjadi anggota Dewan akan menghasilkan legislasi untuk memperlancar pembangunan demi kesejahteraan rakyat yang memilihnya.

Dengan telah diselesaikannya pemilihan anggota legislatif, kita akan segera menyaksikan kelanjutan kampanye untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Kampanye tersebut merupakan pendidikan politik yang intensip agar rakyat banyak menentukan pilihannya secara cerdas. Para calon Presiden yang diusung oleh partai-partai politik yang selama ini telah mulai membeberkan visi, misi dan program-program untuk mengangkat keluarga tertinggal dari lembah kemiskinan akan meneruskan kampanyenya.

Mereka meyakinkan masyarakat bahwa mereka siap mengantarkan keluarga tertinggal itu menjadi lebih bahagia dan sejahtera. Para calon bekerja keras meningkatkan usahanya dengan lebih tajam. Tujuannya jelas, yaitu menarik simpati rakyat setinggi-tingginya sehingga pada bulan Juli nanti, mencontreng dan memilihnya untuk memimpin negara dan bangsa ini terlepas dari keterpurukan.

Sementara para calon Presiden dan Wakil Presiden melanjutkan kampanyenya untuk menarik simpati, pada saat yang sama para calon melanjutkan manuvernya menggalang koalisi antar partai politik untuk mengusung pencalonannya. Partai politik yang dijadikan andalan adalah partai politik yang telah dicoblos pada tanggal 9 April lalu. Partai politik yang berkoalisi akan menentukan calon Presiden dan pasangannya calon Wakil Presiden. Partai-partai politik tersebut juga akan menentukan menteri-menteri yang akan ditugasi membantu kedua pemimpin yang akan dipilih secara langsung tersebut.

Para menteri yang ditunjuk hampir pasti adalah tokoh-tokoh andalan yang berasal dari partai politik yang berkoalisi. Oleh karena itu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada hakekatnya bukan saja memilih tokoh presiden atau wakil presidennya, tetapi juga harus diperhatikan tokoh-tokoh yang berdiri dibelakang partai-partai politik yang berkoalisi, yang akhirnya akan diangkat menjadi pembantu kedua pemimpin tersebut apabila terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

Kalau kita lihat secara seksama, dalam kampanye Pilcaleg beberapa bulan ini telah kita dengarkan janji-janji para caleg dari partai-partai tertentu. Hampir tidak ada satu Caprespun yang mengaku tidak dekat, atau tidak memperjuangkan nasib rakyat. Semua calon dan partai yang mendukungnya ingin membela rakyat, memperjuangkan beras atau sembako murah, pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis, serta meningkatkan kemampuan dan daya beli masyarakat luas. Janji-janji itu menarik tetapi pasti sukar sekali dilaksanakan tanpa partisipasi masyarakat luas. Janji-janji itu memerlukan ekonomi yang kuat dan pembayar pajak yang rajin. Janji-janji tersebut berbeda dengan pendekatan pembangunan yang mengutamakan pemberdayaan yang terarah dan dilakukan dengan sasaran terfokus secara terus menerus.

Masyarakat yang nilai Index Pembangunan Manusianya (IPM) sangat rendah sukar mengikuti proses pemberdayaan yang menghasilkan sumber daya manusia yang ketrampilannya tinggi serta mempunyai semangat kerja keras. Oleh karena itu banyak calon pemimpin bangsa lebih suka memilih penyelesaian masalah rakyat banyak melalui cara langsung diatas, yaitu membagi beras murah bersubsidi, pendidikan yang digratiskan, serta pelayanan kesehatan yang dijamin tidak perlu bayar karena semua ongkosnya dibayar oleh pemerintah.

Penyelesaian yang ditawarkan itu baik-baik saja kalau sifatnya darurat dan pemerintah mampu mengumpulkan pajak dari usaha ekonomi yang kuat. Namun, penyelesaian itu akan lebih baik kalau diikuti dengan program pemberdayaan untuk keluarga tertinggal. Pemberdayaan yang mengajak setiap penduduk untuk dengan tekun mengikuti proses pendidikan dan pelatihan ketrampilan secara sungguh-sungguh, siap bekerja keras, dan dengan tekun berusaha menjadi manusia baru yang terampil dan sanggup bekerja keras agar mampu hidup mandiri.

Karena itu kita perlu waspada memilih calon Presiden dan Wakil Presiden. Pemimpin bangsa itu harus tidak menyerah pada pendekatan serba gratis, tetapi mengusung program pemberdayaan yang mengangkat derajat dan martabat bangsa menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang nilai index pembangunan manusianya meningkat karena bersekolah, berlatih ketrampilan, bekerja keras dan sehat karena memelihara kesehatannya dengan baik.  (Prof. Dr. Haryono Suyono, pejuang perbaikan mutu manusia, http://www.haryono.com).

sumber : www.madina-sk.com

April 17, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu | , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: