Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Pembangunan Sosial Ekonomi yang Seimbang

Oleh Prof Dr H Haryono Suyono

ImageDALAM banyak kesempatan para capres dan cawapres tampil menawarkan visi dan misi yang sarat upaya pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan yang tinggi. Atau setidaknya dikesankan demikian. Dibalik itu upaya pembangunan sosial budaya terkesan merupakan curahan dari keberhasilan pembangunan ekonomi tersebut. Bila terjadi kegagalan biasanya diselesaikan melalui pendekatan ekonomi praktis yang dianggap “efisien”. Pendekatan tersebut menjanjikan penurunan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan yang ditanggung negara alias gratis, serta upaya mengatasi persoalan kemiskinan dengan bantuan langsung tunai.

Pada umumnya dijanjikan bahwa apabila pembangunan ekonomi berhasil, pertumbuhan tinggi, syukur bisa tumbuh dua digit, diatas sepuluh persen, keberhasilan itu bisa menambah kesempatan kerja yang besar dan otomatis mengentaskan kemiskinan. Perhitungan rasional tersebut sangat menarik dan dianggap selalu benar karena telah dibuktikan secara emperis pada berbagai negara maju. Biarpun jarang ada penelitian yang berasal dari negara berkembang yang mengetrapkan sistem gotong royong, sebenarnya mudah dibuktikan bahwa upaya pembangunan ekonomi yang gegap gempita tanpa perhatian yang seimbang terhadap pembangunan sosial budaya akan memberikan dampak negatip terhadap modal sosial yang rusak dan berpengaruh pada banyak tatanan kemasyarakatan yang luas.

Di banyak negara maju mulai muncul pikiran-pikiran dan upaya pembangunan sosial kebudayaan yang lebih seimbang dengan pembangunan ekonomi. Dalam bahasa lain muncul ketidak puasan terhadap upaya pembangunan ekonomi yang biasanya dominan dan cenderung melupakan adanya kekuatan modal sosial seperti kekerabatan, pola hidup gotong royong, upaya mendahulukan kepentingan bersama dibanding kepentingan individu, serta kebersamaan dan keadilan yang mendahulukan pemerataan. Pendekatan pembangunan ekonomi dalam hal-hal tertentu, karena dorongan tujuan mencapai pertumbuhan yang tinggi, mengorbankan penduduk yang kualitasnya rendah. Pendekatan tersebut menghalau habis penduduk yang tidak mampu dari partisipasi pembangunan.

Pembangunan melalui investasi sosial mempunyai dampak langsung berupa penciptaan lapangan kerja, prakarsa partisipasi dalam pembangunan yang lebih luas biarpun pada awalnya dalam lapangan pembangunan sosial yang sederhana. Investasi dalam pembangunan sosial akan meningkatkan produktivitas karena adanya rasa ikut memiliki serta kepercayaan melalui partisipasi yang lebih ikhlas. Karena partisipasi itu dilakukan dengan ikhlas, maka lebih mudah memberikan kepuasan berkat dipenuhinya hak-hak sosial ekonomi dan budaya yang sangat mendasar. Pada umumnya seseorang akan merasa, dalam bahasa Jawa /“di-uwongkan”, /atau/ /diperlakukan sebagai manusia yang terhormat.

Intervensi pembangunan sosial yang mulai marak di berbagai negara maju menghendaki pendekatan pembangunan bukan lagi untuk mengembangkan negara kesejahteraan atau /Welfare State /dalam arti sempit, tetapi menciptakan suatu komunitas yang bekerja keras, /workfare community, /yang akhirnya akan menciptakan suatu /Workfare State /yang mengharuskan negara memberikan dukungan fasilitasi yang kuat dalam proses pemberdayaan yang lebih adil dan merata, yang memihak kepada keluarga atau penduduk yang tertinggal. Biarpun pendekatan baru ini memerlukan dukungan pertumbuhan ekonomi yang memadai, namun bukan tidak mungkin bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada awalnya tidak akan tercapai. Proses pemerataan akan mengharuskan kesempatan kerja diupayakan meluas secara horizontal sehingga keluarga dan penduduk yang tingkat produktifitasnya rendah harus diberikan kesempatan pemberdayaan untuk dapat bekerja agar rasa keadilan bisa ditegakkan.

Karena penduduk yang kualitas dan produktifitasnya masih rendah harus diusahakan bekerja secara merata, tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi bisa tidak tercapai. Kegiatan ekonomi harus lebih dikuasi oleh pelaku yang terdiri dari rakyat biasa yang sedang berjuang untuk maju. Karenanya, ketika pemberdayaan atau kesempatan kerja diberikan kepada rakyat secara luas, pertumbuhan ekonomi tidak mungkin setinggi upaya yang berorientasi pertumbuhan tinggi. Namun dapat dipastikan penduduk berubah, dari sekadar sebagai penonton pembangunan menjadi pelaku pembangunan. Kalau proses ini dilakukan dengan baik dan konsisten, pada waktunya akan menumbuhkan massa baru, /workfare society,/ yang lebih berkualitas dan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang disertai kepuasan sosial yang sangat tinggi.*** (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketum DNIKS, http://www.haryono.com)

sumber :  www.madina-sk.com

Juni 9, 2009 - Posted by | Berita Seputar Pemilu | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: