Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Tsunami, Abused Power dan Paket Bom

Oleh Dr Usman Yatim, M.Pd, M.Sc.

Sungguh menarik pemberitaan media massa nasional dalam dua pekan terakhir. Dinamika pemberitaan yang terjadi begitu terlihat. Setelah isu perombakan kabinet dan pecahnya koalisi pasca usulan angket mafia pajak awal Maret lalu, media disibukkan dengan pemberitaan peristiwa gempa dan tsunami di Jepang , Jumat, 11 Maret 2011.

Bersamaan dengan itu, esoknya media melangsir pemberitaan suratkabar di Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, Jumat (11/3/2011), yang memuat berita utama tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Laporan harian itu berdasarkan kawat-kawat diplomatik rahasia kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta yang bocor ke situs WikiLeaks.

Berita gempa dan tsunami Jepang begitu mengharu biru masyarakat dunia, begitu pula Indonesia, karena demikian dahsyatnya. Lebih dari itu peristiwa ini kian dramatis karena diikuti ketakutan radiasi nuklir akibat bocornya PLTN Fukushima yang juga kena imbas dari gempa dan tsunami. Banyak warga negara asing yang berada di Jepang bergegas kembali ke tanah air masing-masing.

Biarpun sangat dramatis pemberitaan tragedi di Jepang, namun cukup serius pula pemberitaan tentang tudingan penyalahgunaan kekuasaan oleh SBY. Terlebih dikabarkan pula, Ibu Negara, Any SBY sempat menangis tapi bukan sedih karena melihat dampak tsunami Jepang melainkan karena tudingan abused power terhadap SBY dan juga yang mengaitkan dirinya.

Cukup menarik pula, tragedy tsunami Jepang yang terkait Indonesia lebih banyak komentar dari dubes RI untuk Jepang M Luthfi, ketimbang pejabat di dalam negeri, kecuali dari Kementerian Luar negeri. Sementara pejabat dalam negeri lebih sibuk menanggapi tudingan yang dilangsir media Australia tersebut, antara lain bahkan Menlu Marty Natalegawa harus memanggil Dubes AS untuk Indonesia sebagai bentuk protes.

Sebagaimana diketahui, kawat-kawat diplomatik pejabat kedubes AS di Indonesia yang dibocorkan WikiLeaks khusus melalui media Australia itu menyebutkan, SBY secara pribadi telah campur tangan untuk memengaruhi jaksa dan hakim demi melindungi tokoh-tokoh politik korup dan menekan musuh-musuhnya. SBY juga dituding menggunakan badan intelijen negara demi memata-matai saingan politik dan, setidaknya, seorang menteri senior dalam pemerintahannya sendiri.

Bunyi kawat diplomatik AS itu juga merinci bagaimana mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Desember 2004 dilaporkan telah membayar jutaan dollar AS, sebagai uang suap, agar bisa memegang kendali atas Partai Golkar. Kawat-kawat itu juga mengungkapkan bahwa SBY, Kristiani Herawati, dan keluarga dekatnya ingin memperkaya diri melalui koneksi politik mereka. Berita media Australia itu muncul bersamaan dengan kunjungan Wakil Presiden Boediono ke Canberra guna bertemu dengan Perdana Menteri Australia Wayne Swan.

Melihat kesibukan pejabat Istana dan tokoh-tokoh partai Demokrat membantah tudingan SBY menyalahgunakan kekuasaan, banyak media massa menilainya sebagai sangat berlebihan. Tudingan terhadap SBY tersebut tidak perlu dikomentari oleh banyak pejabat. Apalagi jika berita itu tidak lebih sebagai sampah, kenapa harus seperti kebakaran jenggot. Kasus ini lagi-lagi memunculkan penilaian sebagai lemahnya komunikasi politik di kalangan pemerintahan SBY.

Walaupun pemberitaan tentang SBY melakukan penyalahgunaan kekuasaan sempat menimbulkan “kepanikan” di kalangan pemerintahan SBY karena dianggap telah mencemarkan nama baik pemimpin Indonesia bahkan sampai ke dunia internasional, ternyata kehebohannya tidak berlangsung lama. Boleh dikatakan, Presiden SBY belum sempat secara khusus harus menanggapinya secara langsung pemberitaan yang menuding dirinya.

Pemberitaan kawat diplomat AS yang dibocorkan WikiLeaks seolah terhenti mendadak, seiring munculnya berita baru yang cukup menarik perhatian publik, yaitu adanya paket buku berisi bom yang ditujukan kepada tokoh Partai Demokrat yang juga dikenal sebagai tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal), Ulil AbsharAbdalla. Berita ini kian menghangat karena tidak hanya Ulil, tokoh lain juga menerima paket serupa yaitu Yapto Soerjosoemarno (Ketua Pemuda Pancasila), Goris Mere, Ketua Badan anti Narkotik Nasional (BNN) dan kepada Ahmad Dhani, pemilik Republik Cinta Manajemen.

Pemberitan paket bom tersebut benar-benar menghebohkan karena dikaitkan dengan aksi terror. Kebetulan pula hampir bersamaan dilangsungkan pula persidangan Abu Bakar Baasir, tokoh tersangka terorisme. Abu Bakar Baasir malah ikut berkomentar yang menyebutkan paket bom justru didalangi Densus 88 Polri yang menangkap dirinya. Sedangkan berbagai komentar yang ditampilkan media massa cenderung mengarahkan bahwa paket bom terkait dengan kelompok Islam radikal.

Sungguh menarik pula, paket bom tersebut mendapat respon langsung Presiden SBY yang bahkan dinilai diboncengi kepentingan politik. Kasus ini seolah ingin menunjukkan pemerintahan SBY tidak mampu menjaga keamanan. Menanggapi kasus ini, Presiden SBY langsung menginstruksikan kepada para penegak hukum dan aparat keamanan untuk tidak memberikan ruang bagi siapapun yang ingin merusak situasi keamanan negara.

Menurut Presiden SBY, pengiriman paket bom buku belakangan ini tidak boleh dianggap biasa-biasa saja. “Saya menginstruksikan agar jajaran intelijen, BIN (Badan Intelijen Negara), jajaran kepolisian, jajaran TNI –utamanya komando teritorial TNI– bekerja lebih keras untuk mengungkap pelaku kejahatan ini,” kata SBY saat membuka sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Kamis (17/3) siang.

Pemerintah, lanjut SBY, tidak boleh tidak mengantisipasi dan tidak melakukan kegiatan-kegiatan intelijen. “Barangkali kelompok yang selama ini melakukan kegiatan-kegiatan teror mengubah taktiknya, mengubah tekniknya. Kita tidak boleh kalah, tidak boleh kehilangan inisiatif, dan pastikan kita menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, profesional, antisipatif, dan terus menerus dilakukan,” kata SBY.

Apakah kasus paket bom itu akan terus berlanjut dengan pengungkapan para pelakunya? Apakah pemberitaan kasus ini terus menghangat sehingga kita benar-benar dapat melupakan tudingan penyalahgunan kekuasaan yang ditujukan kepada Presiden SBY? Begitu pula kelanjutan tragedy di Jepang, apakah kasus radiasi nuklir kian menghantui rakyat Jepang atau bahkan masyarakat dunia?

Bagaimana pula pemberitaan seputar Khadafi, apakah mampu melumpuhkan pemberontak dan tetap mencengkram Libia, tanpa dapat diintervensi AS dan sekutunya? Jangan-jangan pula akan muncul peristiwa baru lagi sehingga kasus-kasus yang sempat menghebohkan tanah air dapat dilupakan begitu saja. Baiknya, mari kita lihat saja!

sumber:

www.madina.co.id

Maret 19, 2011 - Posted by | Karya Tulisan | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: