Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Digoyang, PKS Diambangkan SBY

Oleh Dr Usman Yatim, M.Pd, M.Sc.

Pendiri Partai Keadilan (PK) Yusuf Supendi kini tiba-tiba menjadi popular dalam pemberitaan media massa. Semua ini berawal dari testimoninya tentang petinggi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang dituding melakukan tindakan penyelewengan. Yusuf antara lain menyebut Sekjen PKS Anis Matta telah menggelapkan dana Pemilukada DKI Jakarta tahun 2007 sebesar Rp10 miliar. Terakhir Yusuf Supendi melaporkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq ke Mabes Polri atas dugaan ancaman melalui pesan singkat.

Sungguh menarik mengikuti perkembangan yang terjadi pada PKS saat ini. Kita masih belum jelas apa yang ditargetkan Yusuf Supendi dengan berbagai testimoninya dan termasuk pengaduannya ke Mabes Polri. Apakah hal ini menyangkut masalah pribadinya yang “tersingkir” dari PKS atau niat “membersihkan” PKS dari berbagai penyimpangan khittah awal PKS dibangun? Selain itu apakah ada pihak-pihak yang “memanfaatkan” Yusuf untuk menggoyang PKS yang dinilai bermasalah dalam koalisi partai pendukung pemerintahan SBY?

Sama kita ketahui, PKS memang sudah berbeda jauh dengan PK yang ikut didirikan oleh Yusuf Supendi. PKS sekarang tampil sebagai partai yang lebih moderat dan bahkan kini sudah menyatakan diri sebagai partai terbuka, dapat saja dimasuki oleh kalangan non-Muslim. Sikap moderat PKS tentu saja dapat dinilai sudah melenceng dari semangat awal partai yang mengedepankan perjuangan penerapan syariat Islam, bahkan pernah dianggap sebagai motor mendirikan “negara Islam” lewat cara-cara yang demokratis.

PKS juga pernah sering disebut-sebut sebagai organisasi sosial dan politik yang sealiran dengan Ikhwanul Muslimin yang popular di Timur Tengah sebagai gerakan “garis keras” dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai keislaman. Gerakan ini juga dijadikan momok oleh pemerintahan negara-negara di Timur Tengah yang sekular. Namun, seiring perkembangannnya, Ikhwanul Muslimin sekarang banyak disebutkan tidak lagi bergerak bersifat frontal dengan penguasa, bahkan bila dilihat dari reformasi yang terjadi seperti di Mesir saat ini, gerakan ini tetap lebih memposisikan diri sebagai gerakan moral ketimbang gerakan politik secara nyata.

Apakah Yusuf Supendi bersuara nyaring dalam kerangka meluruskan ideology PKS? Atau apakah seiring dengan perubahan haluan PKS saat ini, Yusuf Supendi melakukan otokritik terhadap petinggi PKS yang dapat saja dinilai lebih mengedepankan semangat kekuasaan, dan tanpa disadari lebih mementingkan kehidupan pribadi yang terkait dengan masalah materi, kekayaan dan kesenangan sehingga lupa dengan cita-cita dan garis perjuangan awal PK dan atau PKS?

“Penyimpangan” arah partai dapat saja dialamatkan kepada PKS saat ini manakala kita melihat sepak terjang atau kiprah politik yang dikedepankannya. Banyak orang masih mempertanyakan, apa yang menjadi motivasi PKS mau bergandengan dengan pemerintahan SBY sejak 2004? Apakah dengan tujuan untuk mendapatkan posisi aman, bebas dari “gergajian” dan sekaligus dapat meraup finansial untuk kepentingan membangun partai? Selain itu juga sekaligus dapat memberi petunjuk, contoh, sebagai sampel untuk tatkala nanti mendapat porsi kekuasaan yang lebih besar?

Namun, tampaknya semua itu tidak banyak terlihat di mata publik. Sebaliknya justru PKS belakangan terus mendapat serangan dari mitra koalisinya. Berbagai maneuver yang ditampilkan justru membuat PKS terus dipojokkan, bahkan mendapat ancaman didepak dari koalisi. Sama diketahui, PKS sekarang seolah “diambangkan” oleh Presiden SBY. Jika Partai Golkar seperti sudah “dimaafkan” SBY karena masalah usulan Hak Angket DPR tentang mafia pajak dengan menerima Ketua Umum Aburizal Bakrie, maka petinggi PKS belum diundang atau diajak bertemu.

Saat petinggi PKS “menanti” undangan bertemu SBY, tiba-tiba muncul testimony Yusuf Supendi. Apakah ini suatu kebetulan atau ada keterkaitannya? Hal yang sudah jelas, walau para petinggi PKS menyatakan santai-santai saja menanggapi manuver Yusuf Supandi tetapi tetap saja aroma goyangnya PKS tetap terasa. Sudah jelas, manuver Yusuf Supendi telah banyak mengalihkan opini yang belakangan ini menyorot soal koalisi PKS, berubah menjadi terjadinya konflik dalam internal PKS.

Presiden SBY sendiri tampaknya seperti tidak lagi merisaukan tingkah PKS yang selama ini kadang-kadang dianggap “nakal” dalam berkoalisi. PKS satu sisi merupakan partai Islam yang sejak awal selalu mendukung SBY sebagai Presiden, namun pada sisi yang lain dikenal selalu kritis, bahkan melawan arus dari partai-partai koalisi lainnya. Gara-gara PKS (dan juga Partai Golkar), Presiden SBY baru-baru ini sempat mencuatkan kegundahannya dan bahkan mengancam akan mengeluarkan dari koalisi terhadap partai yang tidak sejalan. Untung ini masih ancaman tetapi bukan tidak mungkin PKS akan terkena, mengingat masih dalam posisi diambangkan SBY.

Tampaknya, sebagai parpol yang disebut memiliki akar massa yang cukup kuat, organisasi kader yang cukup solid dibanding partai lainnya, petinggi PKS saat ini cukup “bermain cantik” dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi, termasuk terhadap “goyangan” yang dimunculkan Yusuf Supendi. Sikap tidak “meladeni” Yusuf memang cukup pas dalam meredam konflik. Hanya, apakah Yusuf Supendi benar-benar hanya sendiri atau masih memiliki rekan-rekannya yang senasib dan seperjuangan? Bagaimana pula dengan sikap pemerintah, antara lain melalui lembaga penegak hukumnya?

Bukan tidak mungkin, kasus yang diungkap Yusuf Supendi dapat saja terus dicuatkan ke publik. Tatkala lembaga penegak hukum masih dinilai meragukan, apapun tindakan yang diambil, dapat saja dianggap sebagai bagian manuver politik dari kepanjangan kepentingan pemerintahan SBY. Manakala kasus yang diungkap Yusuf Supendi mampu menjerat petinggi PKS, sudah jelas opini publik dapat saja mengemuka dengan menyebutkan semua ini sebagai permainan dalam upaya menggoyang PKS dari dalam.

Citra PKS sebagai satu-satunya partai Islam yang “masih lumayan” dapat diandalkan pada akhirnya dapat saja nanti benar-benar bernasib sama dengan partai Islam lainnya. PKS yang dikenal bersuara nyaring, berani melawan arus demi memperjuangkan “keadilan dan kesejahteraan” rakyat, lewat manuver Yusuf Supendi diupayakan menjadi macan ompong dalam perpolitikan nasional. Paling tidak dalam posisi PKS digoyang Yusuf Supendi, PKS diberi kesibukan baru membenahi diri ke dalam.

Apakah PKS mampu keluar dari giringan konflik internal? Apakah para petinggi PKS saat ini mampu tetap membangun keutuhan partai yang solid sebagaimana dikenal selama ini? Apakah PKS mampu menghadapi potensi intervensi yang datang dari luar partai? Lantas, bagaimana kemitraan PKS dengan pemerintahan SBY, sampai kapan terus diambangkan? Apakah ini memang cara SBY “menjinakkan” PKS? Sungguh semua ini menjadi sesuatu yang menarik untuk kita cermati terus!

sumber :

www.madina.co.id

April 13, 2011 - Posted by | Karya Tulisan | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: