Usman Yatim Center

Membangun Iman dan Karakter

Gerakan NII, Mengapa Dibiarkan?

Oleh Dr Usman Yatim, M.Pd, M.Sc.

Kita sepakat, NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia) yang berlandaskan Pancasila dan butir-butirnya termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang dasar 1945 merupakan harga mati, tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di bumi Nusantara tercinta ini. Dengan demikian, heboh seputar munculnya isu NII (Negara Islam Indonesia) sebagaimana gencar diberitakan media massa, sungguh sudah meresahkan masyarakat. Apalagi kader-kader NII disebut-sebut melakukan penculikan, cuci otak, penipuan, pencurian, dan lainnya terhadap kalangan generasi muda sehingga banyak membuat orangtua cemas dan takut.

Pemberitaan seputar NII terus mencuat seiring peristiwa bom bunuh diri di masjid Komplek Mapolresta Cirebon dan terakhir diwarnai pula oleh tewasnya pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden yang dianggap sebagai gembong teroris kelas dunia. Masalah NII kini menjadi pembicaraan publik karena mereka yang mengaku mantan dan korban NII mengungkap bahwa pimpinan NII sekarang adalah AS Panji Gumilang, seorang yang juga dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun di Haurgeulis Indramayu, Jawa Barat. Bahkan para penuding Panji Gumilang menyebutkan pula, Ponpes Al Zaytun merupakan markas NII, mengembangkan ajaran sesat berkedok lembaga pendidikan.

Pertanyaannya kini, benarkah NII bersemai di Ponpes Al Zaytun? Benarkah Al Zaytun mengajarkan aliran sesat dan mengajak muridnya untuk makar? Benarkah AS Panji Gumilang merupakan petinggi NII, setidaknya NII KW9, sebagaimana disebut-sebut oleh para mantan dan korban NII tersebut? Pertanyaan ini menarik untuk disimak karena sejumlah tokoh Islam, seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr M Din Syamsuddin terlihat menyetujui AS Panji Gumilang sebagai gembong NII KW9 dan pemerintah terus membiarkan gerakan NII meluas.

AS Panji Gumilang sebagaimana disiarkan TVOne dan diberitakan detik.com membantah tudingan bahwa dirinya pimpinan NII KW9. Panji Gumilang bahkan menyebut NII, sama seperti PKI (Partai Komunis Indonesia) dianggapnya sudah tamat, perjuangan NII telah berakhir setelah Kartosoewirjo meninggal pada 5 September 1962. Sedangkan apa yang dia lakukan sekarang dinyatakannya adalah bergerak dalam bidang pendidikan, peternakan dan pertanian. Pernyataan Panji Gumilang ini cenderung dipercaya oleh mantan Kepala BIN (Badan Intelejen Negara) Dr Hendropriyono. Uniknya, Panji Gumilang dikenal banyak dekat dengan petinggi di negeri ini sehingga dituding keberadaan NII memang direkayasa.

Menarik pula, petinggi Partai Demokrat, Ketua Umum Anas Urbaningrum dan Sekjen Edhie Baskoro sudah berkunjung ke Ponpes Al Zaytun, 17 Maret 2011. Anas malahan mengungkapkan kekagumannya atas pesantren Al Zaytun. “Silakan datang dan lihat sendiri Al-Zaytun. Saya bahkan mungkin akan datang lagi, jika berkesempatan,” kata Anas, Selasa (3/5/2011), seperti dimuat detik.com. Menurut Anas, dia ke Zaytun dalam rangka silaturahim dan di sana disambut dengan lagu Indonesia Raya. Ketika itu, Syekh Panji Gumilang menyampaikan rasa persaudaraan, pentingnya pendidikan, dan spirit membangun bangsa. Pernyataan Anas tersebut didukung anggota DPR dari Fraksi Demokrat, Ramadhan Pohan, saat forum Lawyers Club di TV One, Senin malam (2/5) yang secara khusus mengangkat masalah NII.

Sementara orang-orang yang percaya Panji Gumilang adalah gembong NII yang masih berkibar, antara lain banyak mendengar dari pengakuan Imam Supriyanto, mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9), Ken Setiawan yang mengaku lama malang melintang di NII dan kini memimpin lembaga yang disebut Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, serta sejumlah orang yang mengaku menjadi korban NII KW9.

Berbagai pengakuan Imam Supriyanto, Ken Setiawan dan lain-lain, membuat kita yang mencintai dan menganggap NKRI sudah final, tentu saja menjadi sangat risau. Betapa tidak, Imam Supriyanto mengatakan, dia mengabdikan diri untuk NII KW 9 pimpinan Panji Gumilang selama 10 tahun. Padahal sejak tahun 1997 ia menjabat posisi prestisius di NII. Sampai kemudian ia memutuskan untuk mundur dari NII. Alasannya, ia tak mau lagi meninggalkan ibunya yang sudah lama ia lupakan. “Separuh waktu saya habis untuk mengurusi NII. Saya menangis melihat Ibu saya kehilangan anak yang merupakan aset mereka untuk bangsa dan negara. Saya merasakan betapa durhakanya saya kepada bapak dan ibu saya,” ucap Imam dalam berbagai kesempatan.

Sedangkan menurut Ken Setiawan, dari sekitar 2000 laporan yang masuk sejak awal April 2011 ke lembaga yang dia pimpin, 488 korban ternyata masih aktif di NII, 80 orang lainnya sudah hilang, dan setelah dikonfirmasi 33 orang hilang karena NII. “Selain persoalan penyelewengan akidah, perkembangan NII KW IX juga ditandai dengan pengerukan dana besar-besaran. Organisasi yang mayoritas anggotanya mahasiswa ini memiliki setoran tiap bulan untuk infak sebesar Rp 14 miliar,” kata Ken, sebagaimana dimuat republika.co.id (30/4).

Nah, mendengar pernyataan yang saling bertentangan tersebut, tampaknya pemerintah perlu sangat serius menuntaskan kasus NII ini. Pihak Polri dan BIN memang perlu sangat pro aktif mengungkap kasus ini agar keresahan tidak terus menjalar dalam masyarakat, terutama kehidupan umat Islam. Bila kasus NII dibiarkan mengambang sebagaimana dituding selama ini, masalahnya dapat menimbulkan konflik internal umat Islam, serta antara umat Islam dan negara. Luar biasanya, umat Islam merupakan penduduk mayoritas di negara ini.

Mengikuti pemberitaan seputar NII di media massa, kesan yang didapat adalah adanya penyamaan bahaya NII dengan bahaya laten PKI/komunis. Sejauh menyangkut kaitan dengan NKRI kita dapat memakluminya, namun bila mengingat sikap kita terhadap mereka yang terlibat PKI/Komunis selama ini, dampak masalah NII dapat membuat banyak kalangan menjadikan Islam sebagai momok. Islam phobia akan menyeruak dalam kehidupan umat Islam di Indonesia.

Pemerintah, terutama pihak Polri, BIN dan TNI, sebetulnya tidaklah sulit mengungkap atau menyelusuri masalah NII. Misalkan saja, pengakuan Imam Supriyanto, Ken Setiawan, dan mereka yang mengaku menjadi korban NII, kenapa tidak dijadikan dasar untuk mengusut tudingan terhadap AS Panji Gumilang serta adanya Gerakan NII KW9? Lewat Imam Supriyanto saja, sebetulnya kita dapat memperoleh informasi tentang dokumen NII KW9, seperti soal susunan dan struktur pemerintahan NII. Siapa-siapa saja menteri-menteri NII, selain Imam Supriyanto? Begitu pula jajaran bawahannya, apakah setingkat eselon 1, 2 dan 3? Apa program pemerintahan NII itu, bagaimana APBN, dan sebagainya?

Sedangkan menyangkut Ponpes Al Zaytun, selain dari Imam Supriyanto, Ken Setiawan dan korban NII, juga patut diungkap kembali hasil penelitian Kementerian Agama masa Litbang Agama dipimpin Prof Dr Atho Muzhar. Selain itu bagaimana hasil penelitian MUI (Majelis Ulama Indonesia), serta BIN sendiri dengan melakukan perbandingan hasil penelitian ulang terbaru?

Hal lebih penting lagi, Ponpes Al Zaytun sudah menghasilkan ribuan lulusan Aliyah/SMA sejak 2005, serta di antaranya banyak masuk ke dalam berbagai perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Coba telusuri adakah para alumni Ponpes Al Zaytun tersebut memang banyak melakukan berbagai tindakan atau gerakan yang mengarah pada NII? Begitu pula para orangtua, wali santri Ponpes Al Zaytun, perlu diminta bersaksi apakah anak-anak mereka memang mendapatkan ajaran Islam yang sesat atau berprilaku yang mendukung gerakan NII?

Sebagaimana pernyataan Prof M Din Syamsuddin, pemerintah perlu segera menuntaskan kasus NII KW9, termasuk yang dikaitkan dengan Ponpes Al Zaytun karena kasus ini cenderung mencuat tatkala awal ajaran baru. Tampaknya, melihat pemberitaan media massa yang demikian dahsyat terhadap NII dan Ponpes Al Zaytun, tentulah pesantren yang diakui secara fisik memiliki kemegahan tersebut, akan mengalami kekurangan santri.

Bukan tidak mungkin, bila pembiaran terhadap kasus ini terus berlangsung, apakah benar menjadi markas NII dan mengembangkan ajaran Islam yang sesat, atau sebaliknya, pesantren Al Zaytun dapat saja bubar dengan sendirinya. Apakah demikian penyelesaian yang diinginkan, dibiarkan mengambang, masyarakat, terutama umat Islam dibuat resah atau saling menghujat satu sama lain? Mari kita nantikan saja, mudah-mudahan jangan sampai ketika kita merayakan Proklamasi 17 Agustus, NII kita lupakan, namun kembali marak tahun depan pada waktu yang hampir sama.

sumber :

www.madina.co.id

Juni 15, 2011 - Posted by | Karya Tulisan | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: